30.

165 53 15
                                        

Perlahan murid-murid yang memenuhi sisi lapangan mulai bergerak, beberapa mundur perlahan, sebagian lagi justru masuk membentuk barisan. Anggota tim Arka tampak mulai berdiri sesuai perintah.

Sebelumnya, Arka sempat melepas jaket hitam kebanggaannya dan memberikannya kepada Chandra.

Tanpa banyak kata, Chandra menyodorkannya kepada Amara. "Jagain. Itu barang kesayangan dia."

Gadis itu hanya mengangguk kecil dan menerima jaket itu dengan hati-hati, seakan benda itu punya makna lebih dari sekadar pakaian.

Kini Amara berdiri bersama Reska dan Arsha di sisi lapangan. Tatapan mereka sama, lurus ke arah lapangan, tempat Arka berdiri paling depan, memberi instruksi pada rekan-rekannya. Arka tak banyak bicara, tapi setiap gerak tubuhnya mencerminkan ketegasan dan kesiapan. Timnya mendengarkan dalam hening yang penuh hormat.

Di sisi lain, Rago dan timnya baru saja melepaskan jaket kebesaran mereka. Kaos merah ketat membungkus tubuh-tubuh berisi, dengan manset hitam di lengan sebagai simbol entah keangkuhan atau tantangan.

Chandra melangkah ke tengah lapangan, menjadi wasit sekaligus penjaga keadilan hari itu. Sosoknya tegap, tenang, dan tak terbantahkan. Tak ada yang berani membantah keputusannya. Ia menyuruh kedua kapten maju dan memilih sisi koin. Koin dilempar ke udara, berputar cepat, dan jatuh di telapak tangannya.

Rago menang.

Dengan gaya meremehkan, ia mengangkat alis ke arah Arka. Bibirnya menyeringai puas, sementara Arka hanya mundur pelan, menyusun formasi pertahanan tanpa menjawab sedikit pun.

Di tribun, suasana mulai ramai. Anak-anak ekskul lain yang tadinya masih sibuk dengan kegiatan masing-masing mulai berkumpul, penasaran dengan pertandingan dadakan yang terjadi. Di antara mereka, bisik-bisik dan teriakan kecil mulai terdengar.

"Woi itu Rago gak sih? Sumpah yakin nih bakal rusuh!"

"Arka lawan Rago? Gila, duo tukang onar di satuin? Bakal pecah tuh lapangan!"

"Gue dukung tim Arka!"

"Jelas sih, menang gak heran kalah gak mungkin!"

Beberapa dari mereka langsung menyalakan kamera ponsel. Dalam hitungan menit, momen-momen dari lapangan itu sudah berseliweran di Instagram story dan grup sekolah.

Sementara itu, Arsha masih berdiri dengan tangan masuk ke saku celananya. Pandangannya tak lepas dari Arka yang tenang namun jelas menyimpan bara. Ia paham, pertandingan ini lebih dari sekadar menang atau kalah. Ini tentang harga diri, tentang luka yang tak bisa dibalut hanya dengan waktu.

Reska melipat tangan di dada, ekspresi wajahnya sudah seperti siap turun ke lapangan kapan saja. "Awas aja kalo tim Rago main curang, gue tonjok sampe pingsan," gerutunya.

Amara menggenggam erat jaket Arka. Di balik tenangnya raut wajahnya, jantungnya berdetak tak karuan. Doa terus berulang di kepalanya. Ia tak peduli soal skor, yang penting Arka selamat.

Tim Arka mengenakan jersey hitam-abu dengan strip biru elektrik, kontras dengan tim Rago yang dominan merah terang dengan lengan hitam seperti bara api yang siap menyulut kapan saja.

Permainan baru dimulai. Tapi gerakan mereka memanas dengan cepat, sengit, dan penuh tensi. Suara sepatu menyapu lantai lapangan, bola memantul cepat, teriakan antar pemain bersahutan.

Skor bergerak cepat. Rago dan timnya menggempur dengan permainan agresif penuh dorongan dan blocking brutal. Untuk sementara tim Rago unggul.

6-3.

Niko, pemain kecil lincah dari tim Arka, menggiring bola ke sayap kanan, mencoba melewati satu pemain dari tim lawan. Tapi sebelum sempat ia mengoper ke Sandi yang sudah siap di bawah ring—

UNEVEN LIGHTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang