16.

287 93 19
                                        

Ruang kerja itu sunyi. Hanya denting jarum jam dinding yang sesekali terdengar, mengisi kekosongan di antara helaan napas berat seorang pria paruh baya bernama Dmitriev Damarendra.

Ia duduk di balik meja kayu mahoni besar yang dipenuhi berkas dan map tertutup rapi. Damar mengenakan kemeja hitam yang licin, tersemat rapi di balik jas abu yang mengikuti lekuk tubuhnya yang masih bugar meski usia terus bertambah. Wajahnya keras, rahang tegas, dan sorot matanya tajam-warna hitam pekat yang terasa menusuk, persis seperti mata milik Arka, anak bungsunya.

Namun di balik sorot tajam itu, hari ini tampak ada sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang menua bersama waktu: kelelahan dan rasa kehilangan.

Dengan gerakan perlahan, Damar melepas kacamatanya dan meletakkannya di atas meja. Tangannya menekan pelipis, mengusap wajah, lalu terhenti saat matanya tertumbuk pada sesuatu-sebuah bingkai foto kecil yang berdiri di sudut kanan mejanya.

Sudah lama ia tak benar-benar menatapnya. Tapi hari ini, entah mengapa, pandangannya terkunci di sana.

Dalam foto itu, tampak dirinya di masa muda-tersenyum, mengenakan kemeja putih dan celana krem, menggendong Arsha kecil yang tertawa lepas. Di sampingnya, Aruna, sang istri, berdiri dengan senyum paling teduh yang pernah Damar lihat seumur hidupnya. Ia memeluk erat Arka yang masih berusia dua tahun, tubuh mungil itu bersandar di dada ibunya, matanya yang biru tua menatap kamera dengan polos.

Senyum Aruna.

Damar menunduk, dan untuk pertama kalinya dalam belasan tahun, napasnya tercekat.

Ia tidak tahu kapan terakhir kali menyebut nama itu. Aruna Seraphine Marie. Nama yang dulu ia panggil setiap pagi dengan tawa. Nama yang berubah jadi luka begitu cepat-begitu dalam-hingga perlahan ia membiasakan diri untuk tidak menyebutnya sama sekali.

Padahal, kerinduan itu tak pernah pergi.

Damar masih menatap bingkai itu. Tangannya tak bergerak, seolah dengan memegangnya, ia bisa menarik kembali waktu.

Bersama bayangan Aruna.

Dulu, ruangan ini tak pernah sepi dari tawa. Bukan suara anak-anak, bukan juga suara televisi. Tapi tawa  Aruna-renyah, jernih, dan selalu datang dengan cahaya matahari sore.

Ia ingat betul bagaimana Aruna suka duduk di tepi jendela rumah mereka yang lama, rambutnya digelung seadanya, mengenakan daster bunga biru yang sudah mulai memudar warnanya. Di tangannya segelas teh melati hangat, di pangkuannya tertidur Arka kecil yang mudah lelap hanya jika mendengar suara hati ibunya.

"Damar, kamu terlalu keras sama dirimu sendiri," ujar Aruna suatu sore, saat Damar pulang kerja dalam keadaan marah karena proyek kantor tertunda. Ia mendekatinya dengan tenang, menyentuh bahunya, dan menyodorkan teh.

"Aruna, kamu tahu aku harus kerja lebih keras. Anak-anak butuh masa depan."

"Tapi mereka lebih butuh waktu kamu," balas Aruna pelan. "Bukan yang selalu pulang dengan wajah lelah dan suara tinggi."

Damar saat itu hanya mengangguk, menyesap teh dalam diam. Tapi hari ini, di ruangan kerja yang terlalu sunyi ini, kata-kata itu seperti gema yang menghantam dadanya.

Aruna selalu tahu cara menjinakkannya. Bahkan ketika Damar berubah jadi pria yang terlalu kaku, terlalu penuh perhitungan, terlalu dingin pada hidup, Aruna tetap hadir seperti musim semi yang menolak pergi.

Ia terus menggendong bayang-bayang Aruna dalam wujud Arsha-mencari ketenangan yang dulu Arina beri, lewat anak pertama mereka yang mirip wajah dan sifat ibunya. Tapi ia melupakan Arka, anak yang lebih membutuhkan pelukan, justru karena kehilangan itu lebih besar terasa dalam dirinya.

UNEVEN LIGHTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang