Pagi itu, taman kota sudah lebih dulu hidup sebelum jam sepuluh benar-benar tiba. Matahari belum terlalu tinggi, cahayanya masih lembut, menyapu pepohonan dan jalur paving yang basah sisa embun.
Di salah satu sisi taman, anggota basket sudah berkumpul lebih dulu.
Tidak ada yang telat. Tidak ada yang ngaret.
Farel berdiri sambil menyandarkan punggung ke motornya, jaket tipis menggantung di bahu. Gillbert duduk di atas jok motor, satu kaki menapak ke aspal, matanya menyipit menahan cahaya pagi. Rio terlihat jauh lebih segar dari biasanya, rambutnya sudah rapi. Niko sibuk merapikan jam tangan di pergelangan tangannya, sementara Darren membuka helm dan mengibaskan rambutnya pelan.
Motor sport mereka berjajar rapi di pinggir jalan taman. Sejajar. Teratur. Tidak ada yang miring, tidak ada yang sembarangan.
“Gila,” Farel melirik jam di pergelangan tangannya. “Kita beneran dateng awal.”
“Asli,” Rio nyeletuk. “Kita lebih awal sejam dari perjanjian sih.”
Niko nyengir. “Ini kejadian langka.”
Mereka tertawa kecil, santai, tanpa riuh berlebihan. Pagi itu entah kenapa rasanya beda—lebih ringan, lebih siap.
Tak lama kemudian, suara empat motor lain mengaung dari kejauhan. Bunyi mesin yang familiar mendekat, saling bersahutan sebelum akhirnya mereda di dekat mereka.
Arka, Chandra, Sandi, dan Harsa.
Motor mereka diparkir sejajar dengan yang lain, rapi seolah sudah diatur sejak awal. Arka turun lebih dulu, membuka helmnya dan menyisir rambutnya sekilas dengan jari. Chandra menyusul, melirik sekitar taman dengan ekspresi puas. Sandi langsung menurunkan standar motor dengan gaya berlebihan, sementara Harsa melepas helm sambil menguap kecil.
“Anjay,” Sandi melirik barisan motor. “Lo semua beneran dateng secepet ini?”
“Jangan dipuji,” Farel menyahut. “Ntar auranya ilang.”
Arka melirik sekilas ke arah mereka. “Bagus,” katanya singkat.
Kemudian suara klakson mobil putih mewah dari seberang jalan mengalihkan perhatian mereka.
Satu per satu kepala menoleh.
Mobil itu melaju pelan mendekat sebelum berhenti tak jauh dari deretan motor. Arsha berada di balik kemudi, satu tangannya mengangkat memberi isyarat singkat. Di kursi belakang, Amara dan Reska tampak bersamaan mengangkat tangan, menyapa dengan senyum cerah yang kontras dengan udara pagi.
Amara membuka kaca jendela lebih dulu. Mencondongkan badan sedikit, tersenyum lembut. “Pagi semuanya.”
Beberapa anak basket refleks melambaikan tangan balik.
"Pagi juga, ibu bendahara!"
“Buset,” Farel menghela napas lemah. “Aura ibu bendahara kita beneran gak ada lawan.”
Arka berdiri beberapa langkah dari motornya. Tatapannya tertahan sejenak ke arah mobil putih itu—ke kursi belakang—sebelum ia mengalihkan pandangannya lagi, rahangnya mengeras tipis tanpa ia sadari.
'Kenapa dia di mobil itu?'
Chandra mengangkat tangan, memberi isyarat singkat agar mereka segera berangkat. “Oke, semuanya lengkap. Bisa kita mulai jalan sekarang?”
Responnya datang hampir bersamaan.
“SIAP!” Sandi berseru paling keras sambil sudah duduk di atas motornya.
“Gas, gas, gas!” Harsa menyahut, menepuk helmnya sendiri.
“Gue udah pengen jalan dari tadi,” Rio menarik ritsleting jaketnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNEVEN LIGHT
Teen FictionArkana Dmitriev Cakrawala. Arshaka Dmitriev Bagaskara. Dua lelaki yang lahir dari rahim yang sama, tetapi dunia tak menganggap keduanya setara. Yang satu bersinar terang bagai mentari pagi. Yang satunya sering dianggap redup, tapi masih berdiri.
