2

1.3K 293 142
                                        

Langkah kaki itu berlari kencang, memantul di lantai koridor lantai dua yang bergema oleh riuh sorak murid. Jas OSIS berwarna abu-abu tua berkibar tak beraturan, sesekali tersangkut di siku saat tubuh itu membelah kerumunan siswa yang berlarian menuju lapangan basket.

"Jangan lagi kali ini... gue mohon."

Arshaka Dmitriev Bagaskara.

Napasnya mulai tersengal, tapi langkahnya tak melambat. Wajahnya yang biasanya tenang kini tegang, rahangnya mengeras, sementara sepasang mata cokelat hangatnya terus mencuri pandang ke arah lapangan di sela-sela lari.

Arsha tahu. Ini bukan sekadar ribut biasa.

Bukan satu orang. Bukan satu tim.

Tapi dua orang-dengan permasalahan yang tak pernah benar-benar selesai-yang kini menyeret tim mereka masing-masing ke dalam bara yang sama.

Keributan yang bermula dari lapangan basket SMA Cempaka Putih berkembang menjadi kekacauan yang menggemparkan seluruh gedung sekolah. Bukan sekadar adu fisik biasa, melainkan benturan dua ego lama yang membawa serta nama besar, harga diri, dan sejarah yang belum selesai

Kerumunan murid memenuhi sisi lapangan dan balkon lantai dua, sorakan bercampur rekaman ponsel, sementara luka di wajah dan tubuh kedua kapten itu menjadi bukti bahwa pertikaian ini bukan lagi perkara sepele. Suasana memanas begitu cepat hingga suaranya menembus ruang guru, memaksa OSIS turun tangan sebelum keadaan sepenuhnya lepas kendali.

Di tengah kekacauan itu, Chandra Putra Aksara, Ketua OSIS SMA Cempaka Putih, melangkah masuk dengan ketenangan yang kontras dengan suasana sekitar. Dengan wibawa dan ketegasan yang ia miliki, Chandra berusaha menghentikan pertikaian tanpa memperkeruh keadaan. Ia menyadari bahwa satu langkah keliru dapat memperbesar skala masalah-baik bagi sekolah, tim basket, maupun reputasi para murid yang terlibat.

Satu per satu murid ditarik mundur. Tubuh-tubuh yang tadinya rapat mulai terbelah, membuka jalan menuju pusat keributan.

Di sana berdiri dua sosok yang sudah terlalu dikenal.

Arka dan Rago.

Dua kapten basket. Dua rival. Dua ego yang sama-sama keras kepala.

Tubuh mereka berjarak satu langkah saja, napas berat, rahang mengeras, tangan mengepal. Luka-luka di wajah dan lengan tak mengurangi niat mereka untuk saling melayangkan pukulan-untuk kesekian kalinya.

"Satu pukulan lagi," ucap Chandra datar, "menurut kalian berdua, bakal nyelesain apa?"

Tak ada yang menjawab.

Tatapan mereka tak saling lepas. Arka dengan sorot mata tajam khasnya-dingin dan menusuk. Rago dengan mata menyala penuh bara, seolah dunia hanya berisi satu musuh di depannya.

"Kalau masih pengen lanjut," Chandra melanjutkan, nada suaranya santai tapi tegas, "cari tempat lain. Di sini kebanyakan penonton. Gue gak yakin kalian aman abis ini."

Masih tak ada gerakan. Ego mereka berdiri kokoh.

"Bacot!"

Hingga Rago tiba-tiba menggerakkan bahunya, tangan kanannya terangkat, siap melayangkan pukulan ke arah Arka- Namun pukulan itu tak pernah sampai.

Arka sudah membaca arah itu bahkan sebelum pukulan dilepas. Dalam satu gerakan sigap, ia menghindar setengah langkah dan langsung mengunci lengan Rago. Pergelangan ditekan, bahu diputar.

Rago menggeram tertahan. "Sial-!"

Chandra refleks maju setapak, tapi langkahnya terhenti oleh suara sepatu yang berlari dari belakang.

UNEVEN LIGHTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang