Setelah pertandingan sengit yang menguras tenaga dan emosi, lapangan mulai kehilangan riuhnya. Sorakan sudah mereda, tribun perlahan kosong, dan langit siang yang terik terasa menyinari lapangan seperti menyapu sisa-sisa ketegangan yang masih mengambang di udara.
Beberapa murid yang tidak mendaftar ekskul mulai meninggalkan area, sementara sebagian kecil lainnya terlihat membantu membereskan perlengkapan. Tugas OSIS belum selesai. Tapi sebagian dari mereka diam-diam masih menyisihkan waktu untuk menonton ke arah anak-anak basket yang kini duduk selonjoran di lantai lapangan.
Kaos jersey basah menempel di tubuh mereka, rambut acak-acakan, dan wajah kelelahan adalah tanda bahwa pertandingan tadi bukan hanya soal skor-tapi juga pertarungan harga diri. Di depan mereka, botol-botol minuman dingin tersusun tidak rapi. Beberapa sudah kosong, sisanya masih dingin berembun. Semua itu hasil dari Arsha, sang penjaga diam-diam tim basket, yang entah kapan sempat kabur membeli.
Niko, masih dengan luka di kening dan kaus yang tergeletak di sampingnya, bersandar pada tiang besi pinggir lapangan. "Gacor sih tadi, tanding serasa cosplay baku hantam!"
Sandi menyahut sambil memutar tutup botolnya. "Udah feeling dari awal, jadi gak heran sih. Berharap apaan sama si tawon?"
Darren mengangkat lengannya, memeriksa sedikit memar di bagian dalam. "Sampe pusing gue tadi kena sikut, kayak habis naik roller coaster bolak-balik sepuluh kali!"
Harsa, yang sejak pertandingan tadi terlihat paling meledak-ledak, menyiram wajahnya dengan sisa air. "Sumpah tu orang! kalo gak keinget nama baik tim, udah gue ajak tawuran tadi!"
Gillbert mengangguk-angguk pelan. "Asli sih, kita capek bukan karna mainnya, tapi nahan emosinya."
Rio, yang sudah merebahkan dirinya di lantai panas, memejamkan mata dan mendesis pelan. "Tenaga kita terkuras sia-sia buat ngeladenin manusia yang performa gak seberapa, gayanya udah kayak jagoan warrior!"
Di sisi lain, di tribun yang mulai sepi, Arka duduk menyandar pada salah satu tiang. Kakinya diluruskan, dan wajahnya sedikit mendongak seperti sedang mencoba mengatur napas setelah ledakan adrenalin panjang. Di sebelahnya, Amara duduk dengan posisi sedikit miring menghadap Arka. Di pangkuan gadis itu, terdapat botol minuman bergambar Doraemon yang mencolok-manis dan sedikit kekanak-kanakan, namun terasa pas untuk pemiliknya.
"Kaki kamu masih sakit?" tanya Amara dengan suara yang pelan.
Arka hanya menggeleng, satu gerakan kecil yang penuh arti. "Gak lagi,"
Namun pandangan Amara belum beralih. Matanya menyapu tubuh Arka yang sebagian masih dipenuhi debu dan sisa goresan. Tangannya perlahan mengangkat siku Arka yang berdarah tapi sudah mulai mengering.
"Kenceng banget kamu jatohnya tadi, satu tribun panik liatnya." Ada nada gemas dan khawatir di suara Amara.
Arka hanya menanggapi dengan senyum tipis, khas dirinya. Senyum yang tidak memerlukan kata-kata, tapi cukup untuk membuat siapa pun merasa diperhatikan.
"Sini aku obatin luka kamu."
Amara membuka tas kecilnya yang berisi benda-benda khas anak OSIS yang telaten: tisu, kapas, antiseptik, obat merah, dan satu kotak kecil plester. Ia terbiasa menyiapkan hal-hal kecil seperti ini, tapi hari ini terasa berbeda.
Dengan hati-hati, ia menyapu debu di sekitar luka, lalu menuangkan sedikit alkohol. Arka tidak bergeming. Tapi di balik wajah datarnya, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Sentuhan tangan Amara terlalu lembut, dan itu bukan sesuatu yang biasa baginya. Biasanya ia hanya menepuk sendiri luka dengan kasar, atau membiarkan sembuh sendiri.
Kini ia hanya diam. Tapi dalam diam itu, sorot matanya tak lepas dari wajah Amara yang begitu serius. Alis yang sedikit berkerut, mata yang penuh perhatian, dan gerakan tangannya yang perlahan membuat waktu seakan melambat.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNEVEN LIGHT
Teen FictionArkana Dmitriev Cakrawala. Arshaka Dmitriev Bagaskara. Dua lelaki yang lahir dari rahim yang sama, tetapi dunia tak menganggap keduanya setara. Yang satu bersinar terang bagai mentari pagi. Yang satunya sering dianggap redup, tapi masih berdiri.
