: Asmaraloka Oktober :

21 1 0
                                        

dunia/alam cinta kasih di bulan Oktober





Oktober 2015--

"Habis seminar di mana?"

"Di SMA Negeri 1."

"Serius? Itu sekolah gue dulu, tau!"

"Oh, ya?"

Dista mengangguk antusias, "Kok lo nggak ngomong, sih? Tau gitu gue ikut tadi," Yang ditanya hanya membalas dengan tersenyum.

"Tentang apa emang?"

"Pentingnya literasi di era milenial." Dista mengangguk-angguk paham sembari membulatkan mulutnya.

"Kalau menurut kamu gimana?"

Dista menoleh, "Apanya?"

"Literasi,"

"Oh ... kalau menurut aku sih, penting. Yah, meskipun ada beberapa orang yang minatnya kurang di membaca atau menulis, sih,"

"Terus, pentingnya bagi mereka yang nggak minat apa?"

"Nggak minatnya mereka bisa jadi nggak dijadiin hobi kayak orang yang suka, ya. Tapi di luar itu, peran literasi tetep mereka butuhin buat ngerjain makalah, tugas, atau semacamnya. I don't know well, but ... lo ngetes gue, ya?!" Kahvee tertawa ketika Dista menunjuk dirinya sembari menyipitkan mata.

"Gue tau gue nggak sepinter lo, jadi maklumin aja deh kalau jawaban gue agak ngawur,"

"Saya nggak bilang jawaban kamu salah, Dista. Semua--"

"Iya, tapi kan lo--"

"Dengerin dulu ...." Spontan Dista menutup kedua mulutnya, dan Kahvee sama sekali tidak memungkiri bahwa saat itu Dista terlihat sangat menggemaskan.

"Semua opini orang itu bener. Yang bikin mereka jadi salah atau enggak itu ya tergantung orangnya. Misal, kalau saya nggak setuju sama opini kamu, bukan berarti kamu salah, dan bukan berarti opini saya juga bener menurut kamu,"

Mata Kahvee memicing. Gadis di sampingnya tak menjawab apa-apa, di ujung matanya Dista terlihat tengah memandangi Kahvee dengan tatapan menyimak.

"Jadi jangan ragu sama opini kamu sendiri, jangan pesimis. Harus yakin meskipun beda sama yang lain. Semua orang, kan, punya cara berpikir masing-masing."

Dista masih terdiam.

"Kamu jangan diem gitu,"

"Kenapa emang?"

"Lucu."

Dista makin kehilangan kata-kata.

Usai mengisi seminar mengenai dunia literasi di salah satu SMA, Kahvee meluangkan waktu untuk menghabiskan hari dengan seorang gadis yang ditemuinya dua bulan lalu. Tak terelakkan lagi bahwa kenyataan berjalan seperti itu.

"Dalam rangka apa, nih, lo ngajak gue keluar?"

Kahvee tersenyum. Namun, dalam hati kecilnya sedikit kecewa karena Dista tak tahu apa yang spesial hari ini. Atau pura-pura saja?

"Pengin aja."

"Tiap hari pengin. Lo mau ngajak gue ke mana, sih?"

"Muter-muter,"

"Dih, nggak jelas banget. Serius,"

"Saya juga serius, kok. Nanti kalau ada street food, kita mampir."

Sepanjang jalan, Dista tak henti-hentinya tersenyum karena tanpa diduga, seorang penulis yang amat dikaguminya, tiba-tiba menelepon dan bilang kalau sudah di depan kampus. Terlebih lagi mengetahui lelaki itu rela meninggalkan waktu istirahatnya setelah menghadiri seminar.

Tehku dan KopimuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang