(Eka Pov)
Saatnya memulai hal yang baru lagi tanpa harus memikirkan rasa sakit yang sebelumnya...
...
Memulai...
Mungkin gue juga bisa memulai hal yang seharusnya gue perjuangkan.
Sejak sekarang dan seterusnya...
Dulu gue pikir begitu. Bahwa gue bisa memulai semua yang seharusnya gue perjuangkan setelah semua masalah itu beres.
Masalah itu.
Ya, tentang Habi, sahabat gue. Sahabat sekaligus tetangga gue, yang sejak gue lahir udah jadi temen maen sekaligus temen berantem gue. Kami nggak terpisahkan, kemana-mana selalu bareng. Nggak TK, SD, SMP, SMA, bahkan kuliah pun di Universitas yang sama, cuma beda fakultas aja.
Gue pikir persahabatan kami bakalan oke-oke aja. Nyatanya banyak masalah yang bikin kami jadi aneh hampir dua tahun belakangan. Mulai dari Habi yang aneh gara-gara mendadak gila K-Pop, berhenti maen bola di Klub bareng gue, sampai akhirnya semua fakta terbuka kalau dia naksir Latief. Kapten Klub kami, temen gue sendiri.
Masalahnya ternyata lebih dari sekedar dia punya perasaan khusus buat Latief, tapi problem bawaan yang ngikutin itu semua. Yang dia di-bully sama fansnya Latief lah, yang dia jadi mutusin buat berhenti main bola gara-gara itulah, yang temen-temen fangirlnya bentrok sama fangirls nya Latief lah.
Gue yang kena, gue nyicipin penjara gara-gara itu. Dan setelah itu selesai, semuanya, ada masalah lain yang sampai sekarang belum juga kelar.
Perasaan gue.
..
Buat Habi.
Malam itu...
Malam setelah gue bebas dari penjara...
Malam dimana pelukan serba canggung itu berakhir dengan tertidur begitu saja, gue pikir semuanya bakal lebih baik.
Maksudnya, setidaknya, mungkin, perasaan gue bakal berbalas.
Nyatanya...
"Ka..." bisik Habi setengah tertidur. Hari sudah mulai pagi, tapi kami sama sekali belum ingin melepaskan diri satu sama lain.
Saling berpelukan di balik selimut, dengan debaran yang sudah lebih tenang dari semalam. Nyaman, tanpa tanggungan untuk berbuat macam-macam.
"Hmm..."
"Maaf ya... Tapi gue sebenernya... belom bisa-"
"Iya gue tahu, sante aja lah," potong gue antara masih ngeri untuk menerima perubahan, entah takut kecewa karena penolakan.
"Nggak akan ada perubahan diantara persahabatan kita..." putus gue akhirnya. Sedikit gamang, entah karena bingung, ngantuk, atau memang takut. Malam itu, harapan besar memang tak benar-benar ada.
Habi natap gue bingung. Gue Cuma ketawa kesel sama otaknya yang lemot.
"Ya lo pikir emangnya kita bakal ngapain? Jadian? Pacaran? Hangout berdua pegangan tangan? Kissing? Making Love?"
Habi shock. Buru-buru bangun dan duduk ngejauh dari gue. Tampangnya waspada.
Gue hembusin nafas panjang. Ikutan duduk dan nepuk kepalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
FANBOY!
Fiksi RemajaBuat Eka, Habi adalah partner terbaik di lapangan rumput hijau. Permainan tidak pernah seru tanpa striker bernomor punggung 10 itu. Tapi tiba-tiba Habi mogok main bola dan memilih jadi... Fanboy?! Habi kenapa, sih?! FT Island? Hongki? Jonghun? Siapa...
