Aletta V, gadis yang menyandang gelar 'Dewi Pencabut Nyawa'. Gelar itu sudah melekat pada diri nya semenjak ia menduduki bangku SMP. Tak seorang pun yang berani mendekat untuk menjadi teman Aletta. Sedangkan gadis pemilik tatapan dingin itu pun, jug...
Gimana kabar nya? Maaf ya minggu kemaren aku ga sempet update:(
Jangan lupa share cerita ini ke teman-teman nya🙏
Part ini sedikit panjang, jadi baca nya pelan-pelan aja😉
Enjoy😘
÷÷÷
. . .
"Kata maaf mu tidak akan mengembalikan kehidupan ku yang sudah terlanjur kau buat hancur."
. . .
Flashback On
"Kenapa wajah nya tegang gitu?." Tanya Alvaro sembari menolehkan pandangan nya ke samping.
Alea yang merasa khawatir, meremas jemari nya kuat "cuma takut aja."
"Takut kenapa? Kan cuma di minta nemuin Aletta bentar."
Alea menghentikan langkah nya, lalu menatap lekat manik mata Alvaro "jangan bikin Aletta naik pitam! Turutin aja apa yang dia mau. Ok?."
"Nggak janji."
"Kok gitu."
"Ya kalo dia nyuruh kita putus, ya ga mungkin gue turutin juga. Pasti nya gue bantah."
"Nggak!, jangan bantah Aletta!. Kalo dia bilang gitu, ya udah, jangan pikirin gue terluka atau engga."
Raut wajah tak terima Alvaro terpampang jelas sekarang "jadi lo mau kita putus?."
"Nggak gitu Varo. Tapi kalo Aletta mau gitu, ya gue harus nurut."
"Ga bisa gitu dong. Ini kan hidup lo, lo berhak memilih bagaimana cara lo bahagia Al. Kalo emang lo bahagia pacaran sama gue, buat apa dengerin kata orang lain."
"Tapi Aletta bukan orang lain, dia kakak gue Varo."
"Ya trus kenapa kalau dia kakak lo?. Seberapa mengerikan dia sampe lo takut gini Al?."
"Jauh lebih mengerikan dari yang lo pikirin Varo."
Flashback Off
Dan kini terbukti seberapa mengerikan gadis yang sedari awal sudah di wanti-wanti Alea agar diri nya tidak mencari masalah dengan nya. Tiba-tiba saja aura di sekitar Alvaro mencekam. Gadis yang tadi memukul samsak itu mulai menjauh beberapa senti dari samsak. Ia memilih tempat paling sempurna untuk berkelahi, yaitu di tengah-tengah ruangan tinju.
Wajah datar dan tenang gadis di depan nya berhasil membuat Alvaro menelan saliva gugup. Tatapan dingin yang mengunci lawan, membuat Alvaro kini tak bisa berkutik lagi.
Berusaha menepis pikiran buruk, Alvaro mulai mengambil posisi yang sama dengan Aletta, di tengah ruangan. Cowok itu mulai berdiri di hadapan Aletta sembari mengangkat 2 kepal tangan nya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.