07 • gedung perundingan linggarjati

521 80 1
                                    

09:43

                         
"Yang gini-gini nih, Jaemin, gue suka," kata gue saat kami mulai memasuki bangunan beraksen lampau ini.

Emang mental anak IPS.

"Kan. Udah gue bilang, gue tau tempat seru."

"Ngga. Gue lebih berterimakasih sama Google Maps."

Jaemin ketawa. Daritadi emang kami cuma ngandelin Google Maps untuk sampe ke sini. Si keras kepala itu ternyata beneran ga tau jalan di Kuningan.

Gedung Perundingan Linggarjati ini isinya bagus banget. Sayang, pengunjungnya sedikit.

"Sedih ya ngeliat tempat bersejarah kayak gini sepi," kata gue pada Jaemin yang lagi asik liatin foto di dinding.

"Iya. Padahal seru loh."

"Mereka tuh ngga ngehargain sejarah bangsanya sendiri apa gimana sih?"

Jaemin menoleh. "Ssshhh. Ga boleh nge-judge sembarangan gitu ah."

"I don't know. I just find it kinda ironic. Zaman sekarang, anak mudanya malah lebih suka ke Mall—"

"Win," kata Jaemin memotong omongan gue. "Lo ngga bisa maksa orang, kan? Itu pilihan mereka."

"Tapi sesekali ke museum ngga ada salahnya dong, Jaemin?"

Seakan udah paham sama tabiat gue, Jaemin meraih tangan gue lalu menuntun gue ke ruangan yang lain.

Jaemin udah khatam sama gue selama sebelas tahun terakhir ini sahabatan. Dia tau pemikiran-pemikiran gue, bagaimana gue mengkritisi sesuatu.

Dan Jaemin selalu punya cara buat menanggapi itu.

Kami suka diskusi. Dia adalah satu-satunya orang yang bisa gue ajak ngobrol secara proper.

He has such a smart and beautiful mind.
                         
"Mereka ini berjasa banget ya, Win, buat Indonesia," kata Jaemin saat melihat Diorama para delegasi Indonesia.

Gue mengangguk. "Selain Bung Karno dan Bung Hatta, Sutan Sjahrir juga salah satu yang berpengaruh."

"Kapan-kapan gini lagi yuk, Win?"

"Gini gimana?"

"Ke museum. Yang di jakarta aja."

"Kok gue agak ngga yakin ya yang namanya 'kapan-kapan' itu bakal beneran ada?"

Jaemin menggaruk tengkuknya yang gue yakin sama sekali ngga gatel.

Lalu sebuah lagu milik tulus tiba-tiba terlintas di pikiran gue. Sambil melihat ke arah Diorama di Gedung Perundingan Linggarjati, gue bernyanyi.

"Harusnya cerita ini bisa berakhir lebih bahagia
tapi kita dalam Diorama...."

                         

come closer • jaemin x winterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang