"Jalur Merah – Chapter 9 : "Halangan"
Fanfiction by Dramaqueenns
Warning(s) : Alternate Universe, horornya dikit, dramanya banyak, bahasa dialog non-baku.
.
.
.
Matahari perlahan beranjak naik sementara mereka berjalan. Hutan yang tadinya terlihat begitu menyeramkan saat gelap, kini mulai kembali normal. Burung hantu masih bertengger di dahan pohon, mengawasi setiap langkah mereka. Namun selain itu, tidak ada yang mengganggu atau menghalangi jalan mereka selain beberapa ekor kelinci dan tupai yang melompat dari balik semak-semak.
"Apa kita balik ke pondok dulu buat ngecek yang lain?" tanya Gempa, suaranya lirih karena letih.
"Yah, boleh juga." Yaya mengangguk, tatapannya menerawang ke langit yang masih kelabu. "Halilintar, Ying, sama Gopal ada di sana juga, 'kan?"
"Ya harusnya sih gitu," Gempa melirik Fang yang sejak tadi membisu. "Aku takut mereka kenapa-kenapa. Tapi semoga nggak."
Yaya, Fang, dan Gempa kembali mendaki. Namun, hanya beberapa langkah, mereka mendengar suara seseorang memanggil dari bawah.
"Ying!" Mata Yaya melebar gembira. Setelah beberapa jam tanpa kepastian, melihat wajah sesama teman mereka terasa seperti anugerah.
Ying segera berlari menghampiri mereka dengan beberapa pria berseragam mengikuti. Ekspresinya tampak begitu lega dan ia langsung saja memeluk Yaya.
"Syukurlah kalian nggak apa-apa," kata Ying, setengah terisak.
Yaya balas mendekapnya erat, merasakan tubuh hangat dan jantung yang berdetak hidup. Akhirnya ... harapan kini benar-benar ada di depan mata. Mereka akan segera bisa pulang dan berkumpul bersama lagi.
"Kamu sendirian?" tanya Gempa cemas, melirik orang-orang yang saling berdiskusi di belakang Ying. "Di mana Hali sama Gopal?"
"Hali nungguin di pondok," jelas Ying, menarik diri dari Yaya. Ekspresinya gelisah dan cemas selagi mengusap air mata. "Gopal ... Gopal hilang. Dia—dia dibawa pergi."
Yaya, Gempa, dan Fang membelalak kaget.
"Hah, dibawa pergi? Sama siapa?" tanya Gempa panik.
"Aku nggak tau," Ying menggeleng seraya menggigit bibir. "Hali nyuruh aku nyari bantuan dan ninggalin dia sendiri, jadi—"
"Ini semua teman-temanmu?" seorang petugas datang mendekat dan mengamati mereka satu-persatu.
"Ya, tapi masih ada seorang lagi di pondok peristirahatan di atas," Ying segera menjelaskan. "Terus juga ada satu yang masih hilang dan— tunggu, mana Taufan?"
Ying menatap bergantian Gempa, Fang, dan Yaya, dan baru menyadari absennya Taufan.
"Taufan ..." Gempa menghela napas, melirik Yaya dan Fang yang tertunduk muram. "Dia tadi jatuh ke tebing. Kami belum ketemu lagi sama dia. Niatnya ini juga mau cari bantuan."
"Jatuh dari tebing?" Ying menekap mulut, panik kembali merayap di wajahnya.
"Taufan pasti baik-baik aja. Kita cuma harus nemuin lokasinya," ucap Yaya cepat, tak ingin berkecil hati. Ia menoleh pada Gempa yang tidak tampak begitu yakin, lalu melirik Fang yang masih begitu sendu.
"Oh, iya," Yaya menoleh kembali pada para petugas pencari. "Ada ... mayat kakak teman kami di sana. Kami butuh bantuan untuk memindahkan mayatnya ke tempat yang layak."
"Mayat?" Ying membeliak. "Mayat siapa?"
Yaya melirik Fang sejenak dan menggeleng, memberi isyarat pada Ying bahwa ia akan menjelaskannya nanti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jalur Merah
Fanfiction[TAMAT] Perjalanan mendaki gunung yang seharusnya menyenangkan, justru membawa ketujuh sahabat ini berakhir dalam mimpi buruk. Kejadian aneh dan menyeramkan mulai bermunculan sejak mereka salah memilih jalur. Sanggupkah mereka bertahan? Warning Insi...
