Chapter 4

853 140 29
                                    

- Chapter 4 -

Hari ini Felix datang berkunjung. Jisung juga terkejut dengan kedatangan Felix, Minho bekerja di kantor, Jiho belum pulang dari sekolahnya. Jadilah Jisung berdua dengam Felix.

Canggung. Itu lah yang terjadi jika mereka hanya berdua, tanpa Jiho dan Minho.

Keduanya duduk di ruang tengah tanpa ada yang bersuara, tanpa ada yang ingin memulai percakapan lebih dulu.

Jisung memutuskan untuk pergi ke dapur, mencari camilan yang sekiranya bisa dia makan bersama Felix untuk mengatasi kecanggungan.

"Ji, mau kemana?"

"Dapur, aku mau cari camilan di kulkas."

"Eum... nanti aja, aku mau ngobrol dulu, boleh?"

'Kenapa tidak daritadi?' Ucap Jisung dalam hatinya.

"Oke. Kamu mau ngobrol apa?"

Felix membenarkan posisi duduknya. Sekarang dia menjadi berhadapan dengan Jisung.

"Kak Minho... dia cerita sama aku tentang teman khayalan Jiho."

"Ah, begitu. Lalu?"

Jisung mulai berpikir, apa Minho bercerita tentang semua masalah keluarganya pada Felix. Yang benar saja.

"Kak Minho bilang kamu melarang Jiho untuk berteman dengan teman khayalannya itu. Menurutku Ji, apa salahnya? Biarkan Jiho mengekspresikan imajinasinya."

"Kamu tau apa, Lix?"

"Aku, aku cuma ingin kasih tau kamu, jangan terlalu mengekang Jiho, Jiho itu semakin tumbuh, semakin banyak tentang dunia yang harus dia tahu."

"Lixㅡ"

"Dan juga, cukup dengan pemikiran gak masuk akal kamu kalau sosok teman khayalan Jiho itu nyata. Ji, coba lebih berpikir realistis. Aku tahu kamu pasti banyak pikiran akhir-akhir ini, aku minta maaf juga karena aku, kak Minho jarang ada waktu untuk kamu dan Jiho. Kak Minho juga bilang tentang pernyataan cinta kamu, maaf tapi dari awal kak Minho memilih aku."

Jisung mengepalkan kedua tangannya. Jujur saja dia emosi, bukan, bukan masalah perasaan dia untuk Minho yang tidak tebalaskan, tapi Felix yang begitu sok tahu menasehatinya padahal dia tidak tahu apa-apa.

"Kamu gak ngerti, Lix. Kamu tau apa? Yang diceritakan kak Minho hanya dari sisi nya, sisi kak Minho yang bahkan kamu sendiri bilang kalau dia jarang ada untuk aku dan Jiho. Siapa yang bersama Jiho sehari-hari? Aku. Siapa yang menghabiskan waktu bersama Jiho dari pagi hingga malam? Aku. Aku yang lebih mengerti Jiho. Kamu mencoba menasehati aku, tapi bahkan kamu sendiri gak pernah merasakan bagaimana khawatirnya menjadi seorang ibu!"

PLAK

Tangan Felix bergetar, dia baru saja menampar pipi Jisung. Matanya berkaca-kaca, dia ingin menangis.

"Kamu tahu Ji, siapa orang yang menyebabkan aku dan kak Minho tidak bisa bersatu, kami tidak bisa menikah dan menjalani kehidupan yang indah bersama anak-anak kami, itu karena kamu! Kamu, Ji! Dan sekarang kamu bilang aku tidak pernah merasakan menjadi seorang ibu? Iya, aku tidak bisa merasakan itu karena kamu! Aku hanya menasehati kamu demi kebaikan kamu dan Jiho, aku menganggap Jiho sebagai anakku juga, tapi perkataan kamu... itu benar-benar membuat hatiku sakit."

Felix merasa cukup, dia tidak sanggup lagi untuk bertengkar dengan Jisung, hatinya sakit.

Entahlah, ini mungkin menjadi terakhir kalinya dia berkunjung ke rumah Minho, dia tidak ingin bertemu dengan Jisung untuk beberapa waktu ke depan.

.

.

.

KIMI - Minsung Horror StoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang