"Chuuya, maaf soal kemarin. Ayah dan ibu berkata kalau aku yang salah"
"Tidak apa, aku mengerti kalian tidak suka pada Osamu. Aku yang akan berteman dengannya, aku yang akan menemaninya!"
"Benarkah? Jadi.. kita tetap bisa bermain bersama lagi?"
"Tentu saja, asal kalian mengizinkan Osamu juga"
Mereka terdiam, seperti tidak yakin akan keinginanku. Namun mereka tetap menyetujuinya, mereka mengangguk dan mengajakku main sekarang. Aku senang, akhirnya aku bermain dengan mereka, bersama Osamu.
Aku menoleh belakang, di mana Osamu terduduk bersandar pada kursi kayu di sekolah. Dia masih melihat buku yang sama seperti saat aku pertama kali menemuinya.
Namun perbedaannya, buku itu sekarang penuh warna, dan wajah Osamu berseri ketika melihat buku itu.
"Osamu, mau main bersama?" Ucapku, sembari mengulurkan tangan. Dia melihatku dengan wajah senang.
"Mewarnai?" Aku menggeleng.
"Bersama mereka" ibu jari ku menunjuk mereka yang berkumpul untuk bermain bersama. Namun wajah senangnya berubah menjadi cemberut. Dia kesal dan menatap buku itu lagi.
"Tidak mau"
Aku tertawa sedikit, dia memang lucu, aku suka dia seakan terus bergantung padaku. Tapi aku berharap dia juga bisa berteman dengan anak lain.
"Kau akan bersamaku, Osamu"
"Tetap todak"
"Kenapa?"
"Kau bilang tidak berteman lagi dengan mereka!"
"Aku tidak pernah bilang begitu" suaraku mungkin membuatnya terkejut, aku sedikit berteriak hingga satu ruangan mendengarkanku. Kami seakan bertengkar di mata mereka, seakan aku telah marah pada Osamu. Padahal aku tidak marah sama sekali.
"Apa kau marah?" Anak di hadapanku bertanya. Dia menghela nafas panjang seperti memiliki masalah tersendiri. Dia tidak seperti anak anak yang lain, yang tidak memikirkan sebuah masalah.
"Kau main saja dengan mereka. Aku akan sendiri di sini"
Aku menghela nafas, mengikutinya yang tadi menghela nafas. Aku melirik mereka, dan mendatangi mereka.
"Maaf, aku tidak jadi ikut. Nanti siang saja, aku akan mengajak Osamu" bisik ku, tapi sepertinya terdengar olehnya. Karena itulah aku melirik Osamu, yang ternyata menatapku dengan penuh kejutan. Osamu itu mudah terkejut ya?
"Ahh! Meskipun kau selalu terkekang hanya untuk menjaga perasaannya, belum tentu dia mengerti perasaanmu, Chuuya" dia berucap. Aku menoleh kearahnya, yang berbicara tadi.
"Tidak apa apa, kalian main saja dulu, aku tidak terkekang, aku akan main nanti" aku berlari kembali ke tempat Osamu. Dia memasang wajah menyesal.
"Ada apa? Apa kau sedih karena aku berbicara dengan mereka?" Aku tanya dengan menebak nebak.
"Tidak. Perkataan mereka benar, aku pasti membuatmu tidak nyaman"
Aku segera duduk di sebelahnya, satu bangku dengannya dengan memaksanya untuk minggir. Lalu aku mengambil pensil warna dan mulai menggambar di bukunya.
"Ayo mewarnai, lupakan saja perkataan mereka. Itu tidak benar" ucapku, berharap dia melupakan kata kata mereka. Namun dia tidak bergerak sedikitpun dan hanya menunduk, aku melihatnya dengan khawatir.
"Sungguh! Lupakan saja itu. Kalau kau terus seperti ini, aku akan menangis" aku hanya bergurau canda. Namun matanya seakan sedih seperti aku sedang serius, dia menganggapku serius.
Aku menepuk pipinya.
"Bercanda! Tapi tolong lupakan saja, oke?" Dia mengangguk dengan menghadapku. Dia sangat imut, aku sangat menyukainya, soalnya dia imut, dan baik.
"Kau sangat imuttt~" tanpa sengaja, aku menarik pipi tembem itu dan mengatakan kalimat aneh itu. Dia mengaduh kesakitan, jadi aku melepaskannya. Kemudian dia menunduk, pipinya memerah. Aku bertanya tanya apakah itu karena aku menarik pipinya, atau apa? Tetapi bahkan kalau aku bertanya, pasti salahku.
"Ahh! Maaf banget, aku salah!" Aku melipat tangan dan memohon maaf. Dia kemudian menatap buku itu kosong, sesekali melirikku, dan membuang muka ketika mata kami bertemu.
"Tidak, ini.. bukan salahmu. Jadi ayo kita menggambar"
"Ah.. oh.. baiklah" jawabku, meskipun aku tidak mengerti tindakannya itu. Tapi sudahlah, aku berharap saat siang nanti, suasana hatinya membaik dan dia mau bermain bersama mereka, pasti menyenangkan.
|
|
|
.
Kini Dazai, dengan Atsushi berada di kantor polisi untuk melakukan penyelidikan. Atau, mereka sedang di interogasi.
"Seperti yang ku bilang, aku mendapat klien yang meminta untuk menyelidiki persoalan teror di jalan besar itu. Lalu aku mengetahui bahwa wanita itu adalah teroris" jelas Dazai pada kedua polisi di hadapannya yang menatapnya tak percaya.
"Lalu, bagaimana kau mengetahui bahwa wanita itu adalah teroris?"
"Kau mempertanyakan hal itu kepada seorang detektif? Sungguh mengecewakan, kalian lupa bahwa hampir semua tugas kepolisian, kami para detektif yang membantu". Terlihat Dazai tidak serius dengan ucapannya, karena itulah yang membuat mereka ragu, seakan menginterogasi anak anak yang ingin bercanda.
"Baikah. Kalau begitu, kenapa kau masuk ke mobil itu?"
"Karena aku punya caraku dalam menginterogasi seseorang"
"Kenapa kau harus menyamar menjadi orang lain?"
"Supaya dia tidak kabur"
"Kenapa kau tidak melapor polisi?"
"Karena klien menyuruh kami, bukan polisi"
"Kenapa kau tidak menyelamatkan wanita itu?"
"Menurutmu aku sempat?"
"Tapi kau sempat kelua- hah! Sudahlah!" Mereka menghembuskan nafas lelah. Melihat satu sama lain dan menyudahi interogasi itu. Toh dia akan terus menjawab mereka dengan jawaban yang tak pasti.
Mereka keluar dari ruang interogasi dan bertemu dengan petugas lain yang menginterogasi Atsushi. Mereka menggeleng kepala, dan lagi lagi menghela nafas yang sudah menjadi kebiasaan semua orang.
"Dazai-san" panggil Atsushi dari ruang interogasi lain.
"Kalian tidak kami tahan hanya karena kalian adalah detektif, tidak lebih dari itu. Jadi jangan berharap kami akan memberimu kebebasan, detektif!"
"Baiklah, baiklah. Kami mengerti, kami akan pergi sekarang. Tolong kembalikan barang kami!" Ucap Dazai semena mena.
Mereka memberikan kembali barang yang mereka sita.
"2 pertanyaan terakhir, Dazai. Buku ini untuk apa?" Kata salah satu petugasnya sambil menunjukkan buku panduan bunuh diri.
"Ah! Aku berniat bunuh diri bersama wanita cantik~ apa kau ingin tahu soal ini?" Tanya Dazai dengan penuh semangat. Petugas itu menatap Atsushi yang membuat mata malas sambil mengibas tangannya menandakan "jangan lakukan itu!".
"Pertanyaan terakhir" mereka mengambil beberapa kertas yang ada di atas meja.
Dazai sontak membulatkan matanya, ketika melihat koran dengan judul yang tertera di sana.
.
.
Beberapa
Menit
Kemudian
.
.
Ketika keluar dari ruangan itu, Dazai langsung menendang suatu barang keras di sana dengan kasar, dia terlihat sangat marah.
Lalu entah bagaimana, dia tersenyum kembali seperti biasa.
.
.
.
.
.
.
"Atsushi-kun.. para polisi tadi itu bodoh ya?.. mereka bahkan tidak menyadari.. bahwa kita lah teroris itu!"
"Haha.. kau benar, Dazai-san, mereka bahkan tidak pantas menjadi polisi"
KAMU SEDANG MEMBACA
Find You || Soukoku ✣
Fanfiction"Janji ya!" Chuuya mengangkat jari kelingkingnya. "Aku janji" Namun dia tidak pernah datang lagi, jadi aku mencarinya. - Title: Find You Ship: Dazai Osamu x Nakahara Chuuya Anime: Bungou Stray Dogs Made: 9/11/22 Finished: 15/11/22 Publish: 15/11/22 ...
