"Belle, what do you hate the most?" tanya Leon pada Anna yang sedang menikmati spaghetti Aglio Olio yang menjadi favoritnya sambil menonton Netflix.
"Why do you ask?"
"Nothing. I just want to know you more. That's all," jawab Leon sambil membetulkan rambut Anna yang juga nyaris ikut menikmati masakannya.
"Being betrayed. I hate that the most. So , baby, don't you dare to do that," jawab Anna sambil memicing tajam ke arah Leon, sementara tangan kirinya mencubit kecil hidung sang kekasih.
"I'll never do that. I promise you," kata Leon sambil mengecup singkat bibir indah Anna.
Kecupan singkat itu perlahan berubah menjadi lumatan-lumatam dalam yang panjang. Mereka berdua begitu menikmatinya. Namun saat tangan Leon mulai memasuki kaos putih Anna dan lumatannya mulai turun ke leher, ia langsung menahan tangan kekasihnya dan menjauh kan kepala mereka. Tersenyum tipis, Anna memberikan kecupan terakhir di pipi kanan Leon.
"Marry me first if we want to continue, Sir," katanya sambil menatap mata coklat indah milik Leon.
Saat hendak beranjak dari sofa, justru tangan Anna tertahan oleh Leon.
"Soon, Belle. I'll do it as soon as possible. I promise. Wait a little more," jawabnya sambil mengecup pelan punggung tangan Anna.
Tak lama Leon pun beranjak dan melingkarkan tangan kanannya pada pundak Anna sambil menatapnya lembut. "So what do you want to do now, soon to be Mrs. Wiryadinata?"
"Hmmm... Nightwalk, maybe? Sekalian ngejauhin setan yang baru aja lewat? Siapa tahu pas balik setannya udah pergi?" tanya Anna sambil menatap Leon dengan cengiran lebarnya.
"Sure..."
Ingatan-ingatan indah itu terus saja bergulir di pikiran Anna. Sejak pertemuanya dengan Leon, kenangan-kenangan mereka mulai bermunculan kembali di otak Anna tanpa di undang. Padahal dengan susah payah ia berusaha menghapusnya.
"Miss Annabelle, lu kenapa sih? Pagi-pagi lemes banget. Harusnya kan kita happy, sist. TGIF loh today!"
Melihat Monique yang tiba-tiba duduk di sebelahnya, mau tidak mau Anna mengubah ekspresinya agar terlihat ceria dan bersemangat. "Iya dong, tentu aja kita harus semangat. Gue cuma lupa sarapan aja tadi pagi. Makanya lemas banget."
Bohong. Bukan itu yang sedang dipikirkan Anna. Hanya Tuhan dan dirinya yang tahu apa yang baru saja dipikirkannya. Tapi tak mungkin juga ia menceritakan cinta pertamanya yang berakhir tragis. Apalagi pada rekan kerjanya sendiri. Beside, it's not a proper time for her to share.
"By the way, Mon, Annie bakal datang ga ya hari ini? Kayanya kalau dia ga datang lagi, kita harus besukin deh. Sudah hampir 2 minggu dia ga datang, tapi waktu kita mau besukin malah dihalang-halangi gitu. Dibilang gapapalah, udah baikanlah. Aneh banget deh!"
"Yes, Na. I think the same. Paling ga kalau anak itu ternyata kenapa-napa, kita bisa cepat untuk turun tangan."
Baru saja mereka ingin melanjutkan pembicaraan tentang Annie dan keanehan yang terjadi pada anak itu, tiba-tiba pintu kelas diketuk. Tak lama, muncullah Mr. Steven beserta Surti dan Annie digandengnya. Tentu saja kedua guru itu langsung menghampiri murid mereka sambil tersenyum sumringah.
Berhadapan dengan Annie, Anna pun segera berlutut dan hendak memeluk erat muridnya itu. Namun Annie justru mundur dan bersembunyi di balik badan Surti. Hal yang membuat Anna cukup sedih dan terkejut.

KAMU SEDANG MEMBACA
Entangled Again
RomanceAnnabelle Clarinne Sastrawijaya Seorang wanita Aries yang mencintai dunia pendidikan. Ia adalah cahaya bagi murid - muridnya, semangat bagi sahabatnya, dan kehangatan bagi keluarganya. Sayang, sebuah masa lalu menyakitkan membuatnya menutup hati b...