10

14 1 0
                                        

  Mereka berdua saling bertatap mata, sekujur tubuh Fay terikat oleh pesona Lulu, tanpa disadari kedua kakinya melangkah dengan sendirinya mendekati Lulu.

  "Kita bertemu lagi," ucap Fay.

  Lulu tersenyum, sepersekian detik ia menatap Fay, ia bertanya, "kenapa di antara ribuan orang yang berlalu lalang, mesti kau saja yang tak sengaja kutemui?

  "Entahlah," sambut Fay.

  "Kau sering berjalan kaki ya? oleh karena itu kau sangat mudah ditemukan di jalan-jalan seperti ini."

  "Iya kau benar, begitupun kau juga suka berjalan kaki kan? maka dari itu aku menemukanmu juga di jalanan," balas Fay.

  "Kalau itu memang pekerjaanku, sebagai sales asuransi. Aku harus gemar berjalan kaki, tapi itu tidak buruk, dengan berjalan kaki di sekitaran kota, aku bisa menikmati suasana kota, walau di dalamnya dipenuhi orang-orang yang tidak aku suka."

  "Orang-orang seperti apa yang tidak kau suka?" tanya Fay.

  "Orang-orang yang menanggalkan hidupnya pada suatu pekerjaan yang menjadikannya mesin pencetak uang," balas Lulu.

  "Bukankah kehidupan saat ini sudah seperti itu?"

  "Iya, tapi sistem lah yang menjadikan kehidupan seperti itu, mau tidak mau aku harus terseret ke dalamnya," Lulu sedikit merendahkan suaranya, ada suara penyesalan di dalam ucapannya.

  "Persetan, hiduplah sebagaimana adanya, berhenti mencoba mengontrol semua yang ada diluar kendalimu, pikirkanlah hidup seolah-olah engkau seorang penumpang bus yang tak merasa khawatir tatkala sopir asing membawamu pergi," tegas Fay

  "Bicara soal bus, aku harus segera ke halte depan, bus terakhir tujuanku segera tiba dalam beberapa menit lagi, aku harus bergegas." Lulu melangkah pergi menuju halte yang berada ratusan meter dari posisinya.

  Fay menghembuskan nafas dalam-dalam, ia tak ingin malam ini berulang sama seperti malam-malam sebelumnya, yaitu malam yang dingin serta perasaan muram sehabis dikoyak-koyak sepi. Fay mengikuti Lulu dari belakang, sementara Lulu tak menyadari kalau Fay mengikutinya hingga Lulu menaiki bus tersebut.

  Di dalam bus itu tersisa dua kursi kosong pada urutan kedua paling belakang, Lulu melangkah ke arah kursi kosong tersebut, sementara dari belakang Fay menggeser Lulu dan tiba-tiba mendahuluinya, dengan sigap Fay langsung mengambil duduk di dekat jendela, sementara Lulu masih berdiri di hadapan Fay yang dengan santainya duduk sambil memandang ke arah luar jendela.

  Tak lama, di dalam bus itu mereka bertukar tempat, Lulu meminta duduk di dekat jendela bus, sementara Fay meminta memandanginya sepanjang jalan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 14, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

IN THE MOOD FOR NOTHINGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang