007. End of Sunday

621 68 3
                                        


Usai mengisi perut dengan makanan manis, Joonghyuk beserta Dokja kembali menjelajah taman hiburan. Tak lupa mereka juga membawa peta, yang menunjukkan rute wahana permainan yang ingin dikunjungi.

Wahana pertama yang mereka kunjungi, tentu saja-

Rollercoaster

Untuk pemanasan, bukankah jauh lebih menantang dengan wahana paling ekstrem, 'kan?

Entah mengapa, mereka berdua tidak merasa begitu ngeri, hingga bulu kuduk meremang, atau berteriak ketakutan.

Bukankah ini, terlalu... Biasa, huh? Tapi karena Kim Dokja orang nya mau sedikit 'dramatisir', dia insiatif akting ketakutan. Tapi ujung-ujungnya Joonghyuk tau, kalau Dokja cuman pura-pura doang.

"Lah, kirain bakal ngeri. Ternyata emang biasa aja," imbuh Dokja, saat sudah turun dari rollercoaster.

Joonghyuk memasang wajah datar, "Kalo biasa aja, ngapain dramatis gitu pas naik tadi," komentar Joonghyuk, menanggapi ucapan Kim Dokja.

Kim Dokja mengusap dagunya, "ya gimana ya, gak afdol aja kalo gak teriak kaya pengunjung lain. Padahal gak se-menakutkan yang orang-orang bilang," ujar Dokja.

Halah, mboh. Karep mu, Ja.

Selepas menaiki wahana yang konon katanya ekstrem itu, Joonghyuk kembali mengajak Dokja mengelilingi taman bermain. Sesekali Dokja juga melempar jokes ala bapak-bapak, meh... Intinya dia ingin supaya atmosfer di antara dirinya dan Joonghyuk terasa lebih hidup. Walau terkesan garing-pun, Joonghyuk tetap mencoba menanggapi balik jokes Dokja. Part ini menjadikan Kim Dokja semakin bucin walaupun jatuhnya sepele.

Sembari melihat sekeliling yang ramai, Dokja mendapati toko aksesoris sovenir untuk pengunjung. Menelisik setiap Couple yang baru keluar dari toko seraya menggunakan bando berbentuk petir, justru lebih terlihat seperti ekor Pikachu Dokja pun menyeletuk, "Hyuk, mau couple-an gak?" Usul Kim Dokja menunjuk ke toko sovenir yang tengah mereka berdua lewati.

Joonghyuk mengernyit, beranggapan bahwa ide Dokja sangat amat kekanakan. Tapi tentu saja, mana mungkin dia bilang begitu langsung dihadapan Dokja.

Kalau ke orang lain  mungkin, pastinya.

Dokja bergumam, "... Gak, mau?" Lihat, apa-apaan dengan puppy eyes looks nya.

'GUSTI MANA MUNGKIN GUE TOLAK, LAH!' Pikiran rasional Jeha langsung di bantah oleh perasaan bucin nya. Berbanding terbalik dengan suara hatinya yang tengah menjerit-jerit gemas, tampang diluar harus stay Cool.

"Hm, boleh aja." Apsh sok kul, cuih.

Mendengar Yoo Joonghyuk menyetujui usulannya, Dokja segera menarik lengan Joonghyuk  kegirangan.

"Hehe!"

Ah... How precious this boy, pikir Joonghyuk.

Sesampainya di toko, Dokja langsung memakaikan bando ciri khas taman hiburan di sini ke atas kepala Joonghyuk. Sebaliknya Joonghyuk juga melakukan hal yang sama kepada Dokja.

Mereka serasi. Sangat menyenangkan.

"Ayo Hyuk! Masih banyak hal yang belum aku ketahui di taman hiburan!" Usai membayar biaya aksesoris, Dokja kembali menarik lengan Joonghyuk. Membuat Yoo Joonghyuk berpikir, sisi ini baru pertama kalinya ia lihat dari diri Kim Dokja yang terkesan ketus, dan pintar menyembunyikan perasaan aslinya.

Senyum tipis terlepas dari tampang keras Joonghyuk, ia juga akan menikmati waktu-waktu berharga ini dengan Dokja.

Dokja berlarian tanpa henti, lepas menaiki wahana wahana yang telah ia tunggangi. Joonghyuk juga membiarkan dirinya di tarik kesana-kemari, dengan ikhlas. Sesekali Kim Dokja tersandung akibat terlalu antusias, dan dengan sigap Joonghyuk akan menariknya.

𝑾𝒉𝒂𝒕 𝑰𝒇? | 𝐘𝐨𝐨 𝐉𝐨𝐧𝐠𝐡𝐲𝐮𝐤 𝐗 𝐊𝐢𝐦 𝐃𝐨𝐤𝐣𝐚 |Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang