03.2 DITS

440 63 4
                                        

Ji ah menatap sendu pada Jennie yang terus menatap jam dinding dengan makanan yang sudah tersaji didepannya.

"Sayang ayo makan" gadis 17 tahun itu hanya menggeleng kecil sembari mengayukan kecil tubuhnya kedepan dan kebelakang berualang kali

Ji ah hanya mendesah kasar sembari menunggu putrinya untuk menyantap makanannya.

Jennie masih saja setia dengan kebisuannya sembari menatap serius pada jam dinding hingga begitu jarum pajang menyentuh angka 7 gadis itu langsung menyentuh sendok makan yang sudah siap dihadapannya. Ji ah menghembuskan nafas lelah, seharusnya tidak begini seharusnya Jennie bisa seperti saudarinya yang lain tapi entah bagaimana dia jadi seperti sekarang, seingatnya baik dari keluarganya maupun keluarga mantan suaminya tidak ada riwayat penyakit ini, namun entah bagaimana Jennie bisa memilikinya.

keduanya makan dalam keadaan hening, biasanya Ji ah akan bertanya banyak namun kali ini dia merasa tak perlu menanyakan hal itu. etah kenapa dia merasa Jennie sedikit berbeda kali ini, terlihat dari matanya yang memerah juga terlihat lelah. melihat Jennie tengah meminum susunya untuk mengakhiri makan dia segera memutuskan untuk bertanya

"Jennie?" gadis lain menaruh gelas susunya dimeja sebelum menyahuti Ji ah dengan gumanan ringan, memfokuskan padangannya kembali pada jam dinding

"apa semalam kamu tidur sayang?" Jennie hanya bersenandung kecil sebagai jawaban

"Sayang?" Ji ah mencoba memastikan dengan suara lembutnya namun yang diajak bicara seolah tak mendengar tegurannya

"J-jichu makan?" Tanyanya yang membuat Ji ah menghela nafas lelah, namun melihat binar polos mata Jennie dia tak bisa dengan tega marah padanya

"Je, kakakmu sudah makan lebih dulu waktu kamu tidur, sekarang dia lagi istirahat di kamar" jelasnya sambil menyeduh teh yang masih mengepul panas. Ji ah mengamati raut wajah Jennie yang berubah mengerutkan kening ketika mendengar penjelasanya sampai mata gadis itu jatuh pada gelas bekas susu yang ia minum.

Jennie berdiri dan beranjak dari tempatnya, gadis itu berjalan kearah pantry dapur, membuka laci atas tempat dia biasa menyimpan susunya.

"Apa susunya kurang sayang?" Ji ah mendekat padanya yang tak kunjung juga menjawab pertanyaannya, Jennie memilih sibuk dengan segelas susu yang kini tengah ia seduh. "Kamu membuatnya untuk Jisoo?"

Tidak ada jawaban, hanya hening dan wajah serius Jennie yang sibuk dengan usiknya sendiri. Begitu gadis itu selesai menyeduh susunya dia segera bergerak cepat kearah kulkas, mencari sesuatu entah apa yang ada didalam kepalanya

"Kamu mencari es krim mu? Maaf sayang itu habis, ingat jadwal makan es krimu sudah siang tadi"

"B-bukan aku! I-ini untuk chu" jelasnya dengan cemberut kecil yang membuat Ji ah terkekeh gemas

"Tidak apa, sana berikan susunya selagi masih hangat" kembali Jennie menetralkan raut wajahnya, gadis bermata kucing itu segera meraih suau yang ada diatas meja, membawa gelas itu menuju ke kamar kakaknya.

Tok...tok...

Sang empu yang ada didalam kamar yang kini tengah membaca buku mengerutkan kening begitu mendengar dua ketukan dari pintu, tanpa ditanya gadis berbibir hati itu jelas tau siapa yang ada dibelakang pintu karena hanya dialah satu satunya orang yang mengetuk pintu dengan cara seperti itu dan seperti kebiasaannya yang biasnya setelah mengetuk pintu Jennie akan langsung membuka pintu serta mengintip kedalam tanpa izin dari si pemilik kamar.

"C-chu?"

"Berapa kali aku memberi tahumu untuk menunggu izin sebelum membuka pintu Jen?"

"M-maaf" melihat kerutan tak senang Jisoo Jennie menundukan kepalanya sebelum kembali menutup pintu kamarnya, Jisoo menghembuskna nafas lelah

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 04, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Dancing in the SnowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang