Yoongi berjalan ke tepi pantai, matanya terlihat kosong jauh memandang ke depannya. Seolah raganya tetap ada namun jiwa dan pikirannya ntah kemana.
"Aku harus bagaimana? Bagaimana aku akan tetap hidup jika kamu saja meninggalkan ku-
Kenapa kenapa tidak mengajak ku juga? Kenapa?!! Minji-ah.." Yoongi berlutut meremas pasir disekitarnya. Memukul mukul dadanya yang terasa sesak.
...
Tok tok tok
"Jimin-ah hyung minta maaf" ini sudah beberapa kali Seokjin mengetuk pintunya namun Jimin tak kunjung menjawabnya. Dia benar-benar marah pada Seokjin.
"Baiklah kamu boleh tinggal di sana"
Ceklek
"Benarkah?!" Jimin membuka pintunya dan mengembangkan senyumnya sampai matanya hilang.
"Um asalkan kamu bisa menjaga dirimu di sana, awas saja jika kamu akan sering menghubungi hyung karena inilah itulah"
"Iya iya tidak akan. Terimakasih banyak hyung sudah mengizinkan ku untuk tinggal di asrama" Jimin memeluk erat tubuh Seokjin orang yang selalu menjaganya bahkan setelah dimana mereka kehilangan tiga orang tersayang mereka. Dimana Jimin berada pada titik paling terendah dalam hidupnya. Bagaimana tidak dalam sehari mereka berdua kehilangan orang tua mereka dan saudara perempuannya, semenjak saat itu Seokjin menjadi over protektif terhadap Jimin dan selalu memenuhi semua keinginan adik satu-satunya itu.
...
Hari ini Yoongi pulang ke rumahnya untuk mengambil beberapa barang yang dirinya butuhkan "mama" Yoongi memeluk Gulf mamanya yang sedang menata makanan diatas meja.
"Inget rumah kamu, kirain udah lupa" Gulf mencium pipi putra satu-satunya itu sayang "iya ma, ada barang yang harus Yoongi ambil dan Yoongi juga harus segera kembali karena papa selalu saja menugaskan ku pada hal-hal yang membosankan" Yah Yoongi tidak pernah pulang ke rumahnya kecuali jika ada barangnya yang ketinggalan atau dibutuhkan barulah dia pulang.
"Ya udah Yoongi ke kamar sebentar ya" Gulf mengangguk "kenapa pulang" Yoongi mendongak dan mendapati sang ayah yang menuruni tangga "kenapa" Mew bersedekap dada menatap anaknya itu "anak ini ditanya malah nanya balik"
"Dah ah papa ditungguin mama tuh dibawah" Mew menatap Gulf yang memang menunggunya "hm, dan cepatlah turun juga"
Mew menghampiri istrinya, melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Gulf dan mengecup bibirnya "ishh nanti Yoongi melihat bagaimana" Gulf memukul pelan lengan Mew "memang kenapa biarin aja. Toh anak kita itu sudah besar"
"Mama kayak gak tau papa aja" Yoongi yang tiba-tiba menyahuti membuat Gulf langsung mendorong tubuh suaminya "kok aku didorong" Mew mendramatis seolah tersakiti yang membuat Yoongi memutar mata jengah "papa pantas mendapatkan itu, dasar tidak tau tempat" mulailah sarkas nya Yoongi keluar untuk ayahnya itu.
"Sudah sudah ayo makan dulu. Yoongi-ah bukankah kamu juga bilang harus segera kembali ke asrama" Yoongi dan Mew segera duduk tidak ingin memancing kemurkaan satu-satunya wanita yang sangat penting bagi mereka berdua.
...
"Tae ini gue bawa apalagi ya" Jimin monoleh ke arah Taehyung yang sedari tadi berguling ke sana kemari di atas ranjangnya. Taehyung berhenti sejenak setelahnya duduk bersila "chim lo nanya bawa apalagi?? Ini aja barang lo udah kek mau pindahan aja" Taehyung menunjuk empat koper besar milik Jimin.
"Kan emang mau pindah" Taehyung mengepalkan tangannya geram "pindah si pindah emang lo mau tinggal selamanya apa di sana. Lagian nih ya gue jamin gak sampai sehari lo tinggal disana lo bakal nelpon Jin hyung dan bilang 'hyung chim gak bisa tidur, hyung chim takut, hyung chim blablabla' dan pada akhirnya lo bakal minta dijemput buat pulang"
![Destiny Bond [YoonMin]](https://img.wattpad.com/cover/333143095-64-k935512.jpg)