The truth!
*****
Qin memandangi wajah pria pemilik tiga kepala bak alien itu sambil tertawa.
"Bro! Kau bukan manusia? Kau adalah Dajjal... Yah, Dajjal. Hehehe... Kepalamu ada tiga. Tunggu, bukan Dajjal tapi dewa. Ya, dewa! Hahaha mengapa kau lucu sekali. Hahaha!!"ucap Qin melantur, ia sudah mabuk parah.
"Aku bukan Dajjal, juga bukan dewa!"kata Everest, memasangkan sabuk pengaman untuk Qin.
"Bukan Dajjal, bukan juga dewa? Terus kau itu apa? Pasti alien yang mau menguasai bumi, 'kan!"kata Qin menusuk-nusuk wajah Everest.
"Imajinasi mu berlebihan. Dasar payah."maki Everest, menyingkirkan telunjuk Qin dari wajahnya. "Duduk dengan tenang."Everest menutup pintu mobil.
"Hei, alien! Kau mau pergi ke mana? Apakah kau akan bersiap menghancurkan bumi? Tidak boleh. Aku belum menikah dan punya anak tahu!"Teriak Qin heboh.
Everest masuk ke dalam mobil. Kali ini dia menyetir mobil sendiri karena Fadil sedang menjalankan perintahnya.
"Alien! Kau mau membawaku ke mana? Turunkan aku! Cepat!"Qin berontak melepas sabuk pengaman tapi tidak bisa.
Everest menggeram. "Duduk dengan tenang dan tutup mulutmu! Jangan panggil aku alien! Aku bukan alien! Aku Everest bosmu! Mengerti?!"
Qin mengangguk polos. Mesin mobil menyala, Everest lantas menjalankan mobilnya melenggang pergi dari tempat itu. Melirik Qin yang tengah senyam-senyum sendiri dari balik spion dalam mobil.
"Sudah gila beneran."gumam Everest.
Qin kembali teringat saat pangeran tampan menolongnya ketika pria kepala plontos mau menghajarnya. Dengan jagoan pria itu menarik Qin ke belakang tubuhnya, membelanya. Pria tampan itu juga mewakili dirinya menghajar si plontos sampai memohon ampun. Dan wanita jalang itu mengemis ampun darinya. Kemudian mereka disuruh pergi, dan tidak diperbolehkan menginjakkan kaki di klub malam ini.
"Kau baik-baik saja?"pria berwajah malaikat itu balik badan menanyakan kondisinya.
Qin terdiam, tersipu, salting, melting, dan blushing.
"Apa kau sudah tidak waras lagi?"bentak Everest, ketus. Menghancurkan khayalan Qin.
"Hei, paman. Kau punya teman tampan tapi kenapa tidak memberitahuku?"tanya Qin setengah sadar.
"Bajingan sepertimu tidak layak untuknya. Apa kau bodoh, kau seorang pria."
Qin terkekeh. "Apakah kau cemburu?"
"Cih! Akibat terlalu banyak minum otakmu sampai mengalami kerusakan."
"Katakan saja kau sedang cemburu."olok Qin masih tertawa.
"Gila!"hardik Everest. Menyesal sekali tadi membantu pria mesum itu.
"Temanmu itu seperti bunga Krisan yang mekar di halaman belakang rumah, jatuh tertiup oleh angin barat yang lembut. Senyumnya ibarat sunshine yang mekar di ufuk timur... Begitu menggairahkan. Aku terperdaya dan terpesona. Sehingga lupa dan hilang akal. Jika langit mengijinkan aku untuk meraihnya... Maka, akulah orang pertama yang akan melakukannya. Hehehe...."ucap Qin, mengkhayal.
Everest terdiam, mengapa terdengar seperti puisi. Meskipun liar dan tidak beraturan tapi puisi itu cukup menarik.
Sepanjang jalan Qin mengoceh sendiri seperti burung beo. Bukan ocehan biasa, tapi sepenggal puisi indah dan enak didengar. Tiba-tiba Everest tidak mendengar suaranya lagi. Jangan-jangan mati? Everest pun melihat dari spion mobil. Rupanya Qin tertidur pulas, mendengkur pula.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Billionaire Romance
Romance[on going] Cewek nyamar jadi cowok, menguasai bisnis, pandai merayu wanita! Dialah tuan muda keluarga Marques, Qin Marques As Daniella Qin Marques. Selama 11 tahun penyamarannya belum ada yang tahu. Namun saat Qin memiliki hubungan kerja dengan tuan...
