Seorang cowok bertubuh tegap itu berdiri disebuah panggung sejak beberapa menit yang lalu. Dia memakai seragam yang kusut karena tidak distrika dan celana abu-abunya yang sedikit sobek dibagian lututnya. Dia membawa sebuah gitar akustik kesayangannya. Bagi dia gitar telah menjadi seorang teman dalam keaadan apapun, gitar mampu memahami semua perasaannya ketika dia menyanyikan sebuah lagu yang sama seperti perasaannya sekarang. Beberapa detik kemudian, petikan dari gitar itu terdengar, diiringi sebuah lagu pop barat. Dia bernyanyi sangat merdu saking menghayati sebuah lagu yang ia nyanyikan sekarang. Seperti dia sudah mahir dalam bermain musik juga sebagai penyanyi.
I think some words are overdue
Could we just do it over
Can we just talk it out like friends
because i need your shoulder
I know we ended on the wrong terms
But i said we're past it
So why you texting me with questions
you don't gotta ask me, like
I know it's random, how you've been?
Dia Zavierga Prahwita Wijaya, cowok berusia Delapan Belas Tahun itu berhasil menyanyikan sebuah lagu Keshi yang merupakan penyanyi pavoritnya.
Suara tepuk tangan dan teriakan dari semua murid dilapangan membuatnya tersenyum lebar.
Hari ini sekolah mengadakan pentas seni dan dia ditunjuk sebagai perwakilan kelasnya untuk menunjukan bakat pada acara hari ini.
Ketika dia sudah selesai menunjukan bakatnya, Zavierga turun dari panggung itu dan segera mencari ketiga temannya. Masalahnya mereka bertiga tidak menyaksikan penampilannya itu.
Daripada menyaksikan temannya tampil, Byantara, Leo dan Emyer memilih untuk merokok di atap sekolah. Hari ini adalah hari kemerdekaan bagi mereka bertiga. karena hari ini hari pertunjukan seni untuk semua siswa yang mempunyai bakat, sedangkan mereka tidak memiliki bakat dibidang seni, makanya mereka memilih untuk merokok diatap sekolah saja.
"TEGA LO SEMUA" teriak Zavierga dari bawah tangga.
Belum ada wujudnya saja, suara cowok itu sudah terdengar jelas ke atas. Kini Zavierga menghampiri mereka dengan tatapan kesalnya.
"Yang punya bakat dibidang seni tidak diizinkan kesini" sahut Leo, Lelaki itu sedang asik memainkan handphonenya.
"Lo irikan sama gue, Le? gue digemari cewek-cewek cantik disekolah ini" balas Zavierga yang kini sudah merangkul pundak cowok itu.
"Halah paling saat dipanggung doang, kalo hari-hari biasamah mereka sukanya sama gue" Ucap Leo sambil menepis tangan Zavierga
****
"Gimana sekolahnya hari ini, dek?" tanya Airin, dia kakanya Rega.
Zavierga baru pulang sekolah, Airin menatap bajunya yang kotor. Setiap pulang sekolah pasti seragamnya selalu berantakan yang membuat wanita itu geleng-geleng kepala.
"Hari ini ada pentas seni, dan aku tampil" sahut Zavierga sambil berjalanan menuju kamarnya yang bernuansa gelap.
"Wuih kok gabilang-bilang. Bawa lagu apa tadi?"tanya Airin antusias dia menghampiri Zavierga yang sedang merapihkan rambutnya yang berantakan.
"Keshi"
"Seruuu, andai kakak masih sekolah disana, bakal liat kamu tampil"
"Gapapa, liat aja diyoutube bakalan ada" jawab Zavierga
"Ya Beda lah. By the way Kakak udah masak makanan kesukaan kamu. Nanti kalo laper ambil aja didapur ya, kakak mau berangkat kerja"
KAMU SEDANG MEMBACA
Maliga
Teen FictionMalisya menatap Zavierga dengan tatapan sayu, sebelum meninggalkan laki-laki itu, dia memeluknya dengan sangat erat, untuk terakhir kalinya. "Aku harap kita bisa bertemu lagi dengan versi kamu yang tidak akan pernah pergi, " Zavierga melepaskan pel...
