6. Maaf

13 2 0
                                        

"Sorry gue mau numpang lewat" pinta Malisya. Kini dia sudah berada disebelah Lelaki itu.

Lelaki itu tidak menjawabnya, Ketika Malisya hampir marah, tetapi sekarang malah pokus pada luka dibagian pelipis Lelaki itu, ya luka bekas berantem pagi itu. anehnya mengapa dia tidak mengobati lukanya dan malah membiarkan orang lain melihatnya.

"Gue mau lewat, lo bisa minggir dulu ga?" tanya Malisya, kini tubuhnya sudah membungkuk dan menatap lelaki bermata hitam itu.

"Lewat aja gue gak ngelarang lo." cetus Lelaki itu, tanpa menoleh sedikit pun.

"Gimana gue mau lewat, gak ada jalan buat gue lewat."

Lelaki itu mendengus kesal, "Lagian lo mau kemana sih? mau bel, mending lo masuk kelas sana"

Malisya mengerutkan keningnya. Udah salah tapi nggak mau ngalah, itu salah satu sifat yang Malisya ketahui hari ini tentang Lelaki dihadapannya.

"Tinggal minggir dulu kenapa sih? ribet amat lo"

"kalo gue nggak mau?"

"Gue bakalan paksa lo buat minggir"

"Silakan aja kalo bisa"

Malisya menghembuskan napasnya kasar, lalu segera mendorong tubuh Lelaki itu hingga terjatuh. Setelah melihatnya terjatuh Malisya segera menuju toilet dan mengunci toilet tersebut.

"Anjing, kasar banget jadi cewek, mana beneran nyingkirin gue lagi," Lelaki itu mendumel.

"Woii lo kasar banget jadi cewek. Lo gak diajarin sopan santun sama orang tua lo? badan gue sakit nih." teriak Lelaki itu dari luar toilet, dia berusaha mengetuk-ngetuk pintu Toilet. Tetapi Malisya sengaja menahannya karena sudah tidak mau berurusan dengannya lagi.

Malisya yang mendengarnya pun hanya mendengus dan memutar bola matanya malas. Kenapa dia harus bertemu dengan Lelaki seperti itu disekolah ini. Awalnya dia mengira Lelaki itu baik karena kejadian kemarin. Tetapi setelah tahu sekarang dia ingin menarik ucapannya itu dan menggantinya menjadi 'Lelaki menyebalkan' untuk panggilan Lelaki itu.

Ketika hendak mau keluar dari toilet, Tiba-tiba ponsel perempuan itu berdering, satu panggilan masuk dilayar handphonenya.
Malisya segera mengangkat panggilan itu hingga suara berat dari seorang Lelaki berumur itu terdengar disebrang sana.

"Semua sekolah disini bakalan libur" ucap Lelaki itu.

"Kenapa libur?"

"Banyak virus. Virus yang mematikan. Kamu jangan banyak tanya, kalo saya suruh pulang, pulang. Jangan ngehamburin uang saya untuk apapun yang ngga ngebuat saya bangga."

"Iya, Pah"

Kenapa harus dengan kalimat menyakitkan itu untuk mengakhiri teleponnya? kenapa ngga seperti anak-anak lain? I love you pah, i love you too Sayang. sesusah itukah? apakah dirinya ngga pantas untuk mendapatkan kalimat seperti itu? dengan cara apa lagi untuk mendapatkan semua kasih sayang itu? kini air mata perempuan itu sudah mengalir menyusuri kedua pipinya.

Karena bel sudah terdengar, Malisya segera mengusap air matanya dan segera membuka pintu toilet. Saat membuka pintu itu, Bruk, Tubuh lelaki itu terjuntal dihadapannya, keningnya yang menyentuh keramik membuat luka yang tadinya kering, kini berlumuran darah, Malisya yang kaget pun segera mengangkat tubuh lelaki itu. Lelaki itu pingsan, dia harus mencari bantuan orang lain, karena tidak mungkin dirinya menggendong tubuh besar Lelaki itu hingga ke UKS yang jaraknya cukup jauh dari toilet sana.

"Bantuin gue ya, tadi gue lagi buka pintu ini terus dia udah ada didepan, jadinya kayak gini deh" ujar Malisya panik, dia menggigit ujung kuku jari tangan kanannya.

Berkat bantuan Tiga orang laki-laki, Lelaki itu kini sudah berada di UKS, dengan luka lebam dikeningnya. Malisya yang dari tadi mondar mandir di Uks berharap Lelaki itu segera sadar, tetapi sudah beberapa jam menunggu Lelaki itu masih tidak sadarkan diri.

"Lo lama amat sih pingsannya, gue kan mau balik kelas" gerutu Malisya.

Kini Lelaki itu sudah mulai sadarkan diri, dengan meringis kesakitan karena meraba pelipisnya, kini matanya sudah menemukan perempuan itu di ujung pintu, Lelaki itu berdehem.

Malisya yang tahu lelaki itu sudah sadarkan diri, segera menghampirinya. "Lo udah sadar?"

"Kening gue sakit" jawab lelaki itu.

Karena jaraknya yang lumayan agak dekat, Malisya membaca name tag Lelaki itu, "Zavierga Prahwita Wijaya?" ujar Malisya.

Lelaki yang menyadari namanya disebut itu menaikan alisnya sebelah, "apa?"

"Kita belum sempat kenalan" jawab Malisya sambil terkekeh pelan.

"Lo gak perlu tahu nama gue, gue juga gak butuh nama lo" kata Lelaki itu dengan matanya yang melirik name tag perempuan itu.

"Yaudah, karena gue udah bawa lo kesini, berati kita,,," tangan Malisya mengambil tangan lelaki itu supaya bersalaman,

"Enak aja" Potong Zavierga, seperti sudah tahu arah pembicaraan perempuan itu, "Gue babak belur gini, lo mau selesain masalah ini gitu aja? lo udah dua kali bikin gue kayak gini."

Malisya mendengus kesal, "Lalu gue musti ngapain?"

"Temenin gue futsal nanti sore, jam 18.00"

Malisya menelan ludahnya susah payah lalu memastikan ucapan lelaki itu sekali lagi "Futsal?"

"Iya. Atau lo harus teraktir gue makanan mahal selama seminggu?"

Setelah mendengar perkataannya barusan, ia lebih memilih untuk menyetujui pilihan yang pertama. Karena dirinya sadar dia tidak punya cukup uang untuk membelikan makanan seperti yang di bicarakan lelaki itu. Terlebih dirinya juga cuman makan mie instan di setiap harinya karena harus mengirit supaya uangnya cukup untuk satu bulan. Kecuali awal bulan, karena baru di transfer.

"Yaudah nanti gue temenin lo Futsal." jawab Malisya.

"Okei, pulang sekolah nanti gue jemput."

MaligaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang