"Terkadang mereka yang terlihat baik-baik saja belum tentu benar baik-baik saja. Mungkin mereka hanya sedang ber-pura-pura."
-Malisya Azura Syahreza
Mei 2019
"Lo serius mau ninggalin kita disini ca? kenapa sih harus sekolah itu? kita ngga bisa main lagi dong? " Celetuk Isabella. Pandangannya masih lurus ke mading sekolah SMP Negeri Nusa Indah. Disana tertera nama-nama orang yang akan melanjutkan sekolahnya ke luar kota. Dan nama Malisya Azura Syahreza berurutan paling atas.
Malisya tersenyum mendengar keluhan teman-temannya, dia menghembuskan napasnya pelan lalu segera merangkul teman-temannya "Ishhh kalian kayak ditinggal keluar Negri aja ah. Gue nanti bakalan balik kok setiap libur. Tenang aja, nanti gue bawa sesuatu kalo pulang."
"Ah gue gak mau apapun itu. Gue maunya lo tetap bareng sama kita disini." Timpal Amira.
Malisya geleng-geleng kepala menanggapi ocehan itu. Ia kembali mengalihkan atensi kemading, lalu menghela napas samar. Setelah belajar lebih keras selama setengah tahun terakhir tetapi kini nilainya yang lumayan turun dikarenakan ada dua kelas yang digabungkan membuatnya agak kewalahan untuk mencapai target nilai itu. Tetapi dia masih bisa masuk kedalam sepuluh besar nama-nama orang yang memiliki rangking paling atas.
Menjadi Malisya tidaklah mudah, hidupnya tidak sepenuhnya yang ia inginkan. Seringkali dia menjadi orang yang harus menuruti keingiinan kedua orang tuanya. Apalagi Ayahnya itu yang terkenal sedikit kejam apalagi soal pendidikan.
"Gue sebenarnya gak mau. Tapi ini tuntutan mamah sama kakak gue" balas Malisya.
"Terus kenapa lo ngga mencoba untuk ngomong baik-baik ke mereka, kalo lo pengen sekolah disini?" Timpal Adira.
"Gue juga gak mau sekolah disini"
"Bentar-bentar gue gak ngerti. Maksud lo?"
"Gue pengen sekolah jauh. Tetapi gue gak mau bareng kakak gue."
"Kenapa?"
"Gue tetap ngerasa ngga bebas aja kalo ada dia."
"Lo kurang bersyukur banget ca. Kalo gue jadi lo gue udah happy banget, udah dikasih keluarga yang masih lengkap juga materi yang lumayan daripada kita." celetuk Isabella.
"Emang menurut kalian hidup gue sesempurna itu ya?" Malisya bertanya iseng.
"Iyalah" Kini, semuanya ikut menyeletuk. Perempuan berponi itu menghampirinya lalu dia menatap Malisya serius "Nih ya, Lo itu lahir dari keluarga yang cukup pinter, ekonomi lo juga gak kayak kita, keluarga lo ngedukung lo buat sekolah tinggi-tinggi karena mereka gak mau lo di remehin sama orang-orang. Kalo misal gue dikasih kesempatan gue juga mau jadi lo. Biar bisa keluar kota dan lanjutin sekolah yang elit kayak gini."
Ketika ia sedang mendengarkan ocehan dari teman-temannya, ia melihat Haiden Micahel, Pacarnya. Lelaki itu sedang sibuk bersama sahabat-sahabat ceweknya itu. Dia lebih muda dari Malisya. Makanya saat Malisya akan melanjutkan sekolah keluar kota. Dia khawatir dengan pacarnya itu. Dia khawatir dirinya belum siap untuk hubungan jarak jauhnya. Apalagi lelakinya sekarang itu terkenal banyak disukai oleh perempuan disekolah ini.
"Haiden" sapa Malisya dari jarak sekitar lima meter dari hadapan lelaki itu.
Haiden Micahel yang menyadari sapaan itu, menatapnya, lalu dia tersenyum dan menghampiri Malisya, "Ca.. kamu jadi ngelanjutin sekolah disana?" tanya Lelaki itu sambil memegang tangan Malisya dan menatapnya dalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Maliga
Teen FictionMalisya menatap Zavierga dengan tatapan sayu, sebelum meninggalkan laki-laki itu, dia memeluknya dengan sangat erat, untuk terakhir kalinya. "Aku harap kita bisa bertemu lagi dengan versi kamu yang tidak akan pernah pergi, " Zavierga melepaskan pel...
