Begitulah akhir dari pagi ini, Yuda di bawah tiang bendera setelah ngehajar orang sampe mampus tadi.
"Panas banget, sial." Ayo kita ketawa bersama.
Dia sendirian di bawah tiang bendera karna di beri hukuman sama pak Zidan. Sebenarnya Yuda begini juga ada alasan sendiri kok, keadaannya gitu sih. Gimana Yuda gak emosi coba sampe ngebuat anak orang babak belur, korban yang Yuda pukulin ganggu sepupunya duluan.
Rasanya pas pulang Yuda mau skip aja kegiatan apapun itu dan langsung rebahan di kasur. Setelah berantem yang nguras energi ternyata berdiri di hadapan tiang bendera juga nguras energi, belom lagi nanti.
Terus berdiri sampai rasanya 10 menit udah Yuda diem sama pikirannya dan gak buka suara sedikit pun. "Aneh aneh." Yuda kaget, sedikit.
"Sejak kapan lo di situ?" Sedikit sewot, karna setelah di sidang sebentar sama pak Zidan tadi, mereka ada cekcok.
"Baru."
Diem dieman deh mereka tuh di bawah teriknya sinar pagi.
"Lo tuh gak harus selalu begini, Yuda." Arsyl buka suara lagi, dia cuman duduk tepat di bawah tiang bendera yang ngeliatin Yuda lagi berdiri akibat ... Arsyl sendiri(?).
Yuda balik natap dia, tapi gak lama anaknya melengos lagi. "Lo mau bilang soal kejadian hari ini?" Tanya Arsyl, yang di jawab gelengan sama Yuda.
Sementara ya Arsyl bisa tenang, gak tau deh kalau nanti orang itu berbuat tambah parah, mungkin Yuda kembali buka suara.
"Gue-"
"Syl." Panggil Yuda, maka Arsyl natap dia. Yuda jongkok di hadapannya sekarang. Apaan nih, kok aneh gini ya.
"Berapa kali gue bilang, kalau ada hal yang bersangkutan sama dia tarik gue aja. Tante nitip lo ke gue karna takut lo kenapa napa lagi."
"Iya gue paham, tapi gue juga mau berusaha selesain ini sendiri, Yuda." Yuda ngegeleng. Gak yakin dia tuh, orangnya itu kasar banget, mana mungkin Yuda yakin Arsyl bisa selesaikan masalah ini, kejadian tadi aja udah kasar. Sepele padahal, gimana sama yang lebih dari ini?
"Gak. Gue bilang lo boleh kan sangkut pautkan gue Syl, masalah apapun itu. Terutama kalau berurusan sama orang kaya dia." Arsyl ngalah, oke masalah ini aja bagian Arsyl ngalah. Sisanya gak akan.
"Iya, iyaa... Terserah deh." Yuda senyum bangga, bangga karna buat Arsyl yang sama keras kepalanya kaya dia ini nurut.
"Makan yuk, gue laper, bentar lagi istirahat ini." Ajak Arsyl, mereka setuju ke kantin. Dengan Arsyl yang bayar makanan Yuda, katanya mah biar tau diri berterima kasih sama sepupu.
_____
"Oke, karna sudah bel, pelajaran hari ini sampai di sini saja ya, sampai ketemu Minggu depan."
Setelah guru Bahasa Indonesia keluar, mereka juga pada susul susulan ke kantin. Saatnya mengisi perut penuh cacing yang demo butuh makan.
"Gak liat Arsyl?" Tumben amat nanya.
Mina yang memperhatikan jadi menggeleng pelan, "Anaknya izin ke toilet, tapi gak balik lagi, kalau gak ada ya paling sama si Yuda."
"Kenapa nanyain? Kangen lo?" Tanya Lintang, mukanya Jeka seketika julid.
"Iya kangen, kangen sama Yudanya." Jeka mukanya udah gak enak banget, pengen aja ngejulid terus di tambah Juna lagi bilang gitu.
"Abnormal, udah di atas normal ternyata bisa gila juga." Celetuk Thirsa.
"Temen lo, Sa." Balas Hana.
"Duh sorry, partner in crimenya Yoga itu, gue sih ogah."
"Partner in crime atau partner idup, nih? " Andri ikut ikutan. Seketika Thirsa bombastic side eyes.
KAMU SEDANG MEMBACA
ClasSy 97s
Sonstiges"Berkelas?" "Huek!" sekelas kali ah. Cuman isi tentang anak anak SMA yang lagi sekolah terus punya lika liku aja. 97s - 97 Line .1997.
