Pagi itu Keyzha gak masuk sekolah. Tumben sih, memang. Dia itu termasuk anak rajin kelas, posisinya di kelas sebagai sekretaris makanya rajin.
Sekitar pukul delapan pagi Keyzha baru bangun. Dia langsung cuci muka walau kepalanya pusing banget di bawa jalan. Panggilan di luar kamarnya ngebuat Keyzha buka pintu, ada mamanya. Mamanya bawa sarapan, bukan bubur karna Keyzha gak suka bubur. Pokonya kalau sakit Keyzha cuma minta sayur dan akhirnya makan dengan tenang.
"Tadi ada temen kamu pagi pagi, Mama bilang kakak sakit jadi Mama juga nitipin surat ke dia."
Keyzha mengerutkan alisnya, "Siapa?"
"Katanya namanya Yuda, temen sekelas kamu?" Keyzha mengangguk.
"Ganteng." Celetuk Mamanya, Keyzha tertawa kecil. Mamanya nih emang gemar sekali melihat yang ganteng ganteng, suaminya juga gak kalah ganteng emang.
Setelah sedikit obrolan kecil dan selesai makan. Keyzha lanjut istirahat lagi.
Soal kenapa sakit, kayanya itu reaksi tubuh Keyzha yang tiba tiba dapat kejadian semalam, masalah traumanya ternyata belum selesai.
•
Masih inget soal kejadian di taman saat mereka sekelas setuju main bareng weekend itu?
Yang akhirnya menimbulkan panik attack Keyzha.
Sama halnya mungkin dengan kejadian semalem. Bukan maksud gak waspada, tapi Keyzha sedari kecil tinggal di sini gak pernah ada kejadian diuntit orang sampai di kejar segitunya.
Malam ini buku novel kesukaannya udah ada di toko buku yang jaraknya gak jauh dan gak deket dari rumahnya. Keyzha tau karna pemilik toko buku itu sendiri yang kasih tau.
Jadi dengan segara Keyzha pergi ke toko buku itu.
Awalnya, semua baik baik aja bahkan sampai di toko buku gak ada apa apa. Tapi itu kejadian saat pulangnya, sekitar 5 menit berjalan ke arah rumah, entah kenapa perasaan Keyzha terus merasa terganggu merasa ada yang mengawasi.
Bahkan Keyzha sampai nengok ke belakang berkali kali tapi gak ada siapa siapa, jalannya semakin di percepat dan gerakan cepat Keyzha yang menoleh ke belakang ternyata gak bisa cepat di hindari oleh orang yang menguntitnya.
Karna panik Keyzha buka handphonenya kemudian berlari. Entah gimana kontaknya yang berniat menelepon Thirsa jadi menelepon Linggar. Jauh memang di lihat dari Inisial depan, tapi kontak Thirsa di simpan dengan huruf L lebih dulu.
Telepon tersambung dan Keyzha otomatis semakin lari.
"Linggar.. tolong. -Gue di deket daerah ×××. -cepet ya Gar." Teleponnya gak di matiin tapi Keyzha terhenti di dekat jalanan sepi.
Dia kecapean, kakinya malah semakin bergetar. Lama lama Keyzha terpojok karna orang itu berhenti, terpojoknya lebih buruk lagi malah ke arah gang buntu sekitaran situ.
"Javi?" Dengan suara bergetar dan kaget Keyzha memanggil nama seseorang di hadapannya.
Dia tersenyum, walau dulu sering mengatakan kalau senyuman itu manis tapi kali ini dia menyeramkan.
Javi, perlahan mendekat tangannya terulur untuk mengelus kepala Keyzha tapi gadis itu dengan cepat menepisnya. "Kenapa lo ada di sini?" Walau berusaha tegas sejujurnya hati Keyzha sangat takut.
"Astaga, sayang.. Jangan kasar kasar."
"Apasih?" Keyzha semakin takut.
"Key.. kamu gak kangen aku?" Terdengar sedikit lirih.
Keyzha malah mengerut tidak paham, "Kita udah putus, guna nya gue kangen lo apa, Jav?"
Javi tertawa sarkas, "Gue kangen lo soalnya, siapa tau sama ya kan?" Tatapan Javi memang gak pernah berubah, selalu tajam.
"Jangan gila, lo kenapa ada di sini sih?!"
"Salah gue pindah?"
"Lo.." Dengan jeda Keyzha menghela nafas, "Lo buat gue takut lagi Jav.."
KAMU SEDANG MEMBACA
ClasSy 97s
Random"Berkelas?" "Huek!" sekelas kali ah. Cuman isi tentang anak anak SMA yang lagi sekolah terus punya lika liku aja. 97s - 97 Line .1997.
