Di hari yang sama dengan hari kedua di laksanakannya Olimpiade, Ketua OSIS dan Wakilnya lagi ada di ruang OSIS.
Linggar nyandarin kepalanya ke bangku, nutup mata pakai kedua tangan. "Mendingan gak Gar?" Linggar hanya anggukan kepala pelan, sebenernya kepala dia sendiri masih sedikit pusing walau gak separah kemarin.
"Kalau belum terlalu baik gak apa apa, biar gue yang urus aja." Linggar buka matanya dan natap Mina yang berjarak dua bangku darinya. "Gak usah biar gue aja, gue masih bisa kok."
"Justru itu, kalau pun masih bisa lo harus istirahat, gak usah ngerasa gak enak deh."
"Masalahnya ini kan di luar urusan OSIS." Mina senyum kecil, natap mata Linggar.
"Tenang sih, gue itu temen lo, mau luar urusan OSIS gue tetep bisa bantu selagi gue juga mampu." Katanya, setelah itu berdiri dari duduk dia. Niat keluar ruangan. Lebih tepatnya mampir kantin, oh iya ini tuh jam pelajaran tapi karna kelas mereka jam kosong Linggar dan Mina niat omongin beberapa masalah.
"Mau sesuatu gak atau mau ikut? Gue mau ke kantin, pasti ada anak anak."
"Gue ikut deh." Mina ngangguk kemudian jalan duluan, Linggar kunci ruangan OSIS terlebih dahulu sebelum dia ikut ninggalin kawasan itu.
Berjalan di samping Mina, arah kantin gak jauh sih, karna setelah lewatin lapangan belakang terus belok ke kiri udah ada kantin. Jadi posisi ruangan OSIS itu menghadap arah lapangan belakang.
"Bilang dong anjir, asal comot aja." Dumel Lintang. Beneran deh, dia gak suka banget kalau tiba tiba ambil comot punyanya tanpa bilang. Pengecualian untuk Lilly.
"Bagi." Tanggapan dari ketua OSIS yang singkat, padat dan jelas. Lintang langsung gak bereaksi, terserah Linggar aja.
"Pada kosong pas pulang nanti gak?" Tanya Thirsa tiba tiba.
"Gue kosong aja sih." Jawab Athaya.
"Mau main? Di rumah gue, kita masak masak deh."
"Orang tua lo ada?" Thirsa nge geleng pelan.
"Bokap, nyokap lagi keluar kota, nengokin saudara yang baru lahiran." Semua orang di meja itu nyimak, Anne yang nanya tadi hanya mengangguk.
"Jadi gimana, bisa semua?"
"Kayanya gue enggak, kalau udah selesai dan kalian belom pulang gue nyusul aja." Kata Linggar. Seperti yang di bilangnya, dia punya sesuatu menuntut, harus di kerjakan secepat mungkin.
"Gue juga nyusul. Ada urusan, gak pa-pa?" Mencurigakan nih berdua. Hana yang mau nanya malah ke duluan sama Lilly.
"Ada apa lo berdua? Urusan, alesan doang yaaa? Aslinya mau pacaran." Kata Lilly, dia ngeledek aja.
"Waah, parah backstreet ke sahabat juga? Gila, gue sih sakit hati." Lebay Rangga, pantes deh Athaya mikir mikir mau sama nih orang.
"Mana ada sih, otak lo berprasangka tuh pacaran doang apa? Gue sama Mina temenan."
Bel pulang udah bunyi sejak 10 menit lalu dan sebagai teman yang baik, mereka sepakat nunggu yang piket hari ini selesai di depan kelas. Sebenernya ngalangin jalan, tapi apa perduli, toh lewat mah lewat aja. Kalau malu pun masih ada tangga sisi lainnya di sana, kelas mereka kan tengah tengah.
"Selesai!!" Dengan cepat Juna lari ke luar kelas setelah selesai piket. Yang lain udah siap siap bangun, dan Yelvi matiin lampu kelas.
"Yuk." Ajak Thirsa.
"Mau buat apa dulu? Sekalian beli deh takut nanti rumah lo seketika kosong." Candaan, walau niatnya memang biar temen temen macem orang kelaperan ini gak ngabisin bahan di rumah Thirsa. Bisa bisa kalau abis terus lapar rumah Thirsa di makan juga lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
ClasSy 97s
Acak"Berkelas?" "Huek!" sekelas kali ah. Cuman isi tentang anak anak SMA yang lagi sekolah terus punya lika liku aja. 97s - 97 Line .1997.
