16. Opening.

106 8 1
                                        

_______________

Hari ini adalah hari Pertama dimana cafe tuan muda Linggar resmi dibuka, rencananya hari rabu malah jadi sabtu, di undur sedikit. Setelah potong pita sebagai perayaan kecil-kecilan dan meluncurkan diskon khusus selama 3 hari. Semua teman teman kelas mereka sedang ada di keadaan terkejut gak terkecuali Wahyu yang menyarankan tempat untuk Rangga part time dua minggu lalu.

"Jadi owner cafe nya Linggar?" Kaget? Jelas, gak usah di tanya.

Juna ngerangkul Wahyu disebelahnya, "Mantap si Linggar. Gue aja gak kalah kaget. Padahal waktu lewat gak sengaja nerima selembaran iklan Cafe ini, gue sih tergiur sama makanan dan harga murah aja."
Revan si yang paling tau Linggar saat ini ngerasa bangga sekali. Walaupun taunya karna gak sengaja, bukan karna diajak diskusi.

"Bonus tempat aesthetic juga ini." Dengan sombongnya juga Lilly bangga karna dialah yang mendesain detail cafe shop ini.

Wahyu menghela nafas pelan secara tiba tiba, "Gue yang nyaranin Rangga part-time disini." Katanya dan buat setiap mata di meja itu tertuju ke dia seorang.

"Oh! Jadi elo?!" Mina reflek menunjuk Wahyu dengan telunjuknya.

"Iya, iya, iya Mina, maaf Mina." Mina di depan Wahyu persis itu juga buat Wahyu reflek nurunin jari telunjuk Mina pelan.

"Minta maaf sama Rangga sana." Kata Mina berhasil bikin Wahyu reflek melotot kaget sama ucapannya.

"Kok minta maafnya sama Rangga?! Rangga nya aja mau kerja disini." Jelas Wahyu gak terima lagian kan dia bantu teman, gak ada salahnya loh. Sementara di sekon berikutnya, Linggar datang bareng Rangga yang bawa catatan dan menu pesanan untuk mereka.

"Udah. Udah. Gue seneng dia kerja disini, bisa gue babuin." Karna sejak tadi Linggar denger pembicaraan mereka juga, Rangga di sampingnya sinis seketika, sesuka hati Linggar deh mentang-mentang owner. Linggar yang lihat mata Rangga jadi nyeletuk, "Santai dong, Bos lo nih."

"Kambing." Kata Rangga duduk di sebelah Jeka yang lagi liat-liat buku menu yang dibawa Rangga tadi.

"Ini semua menu diskon? Ga Salah lu, Gar? Sedekah Sabtu berkah ini?" Tanya Jeka, dan sekedar info juga kalau Linggar buka cafe hari pertamanya di hari sabtu biar teman temannya bisa datang menikmati juga, saran Revan sih ini.

"Dia kan udah banyak duit, buka cafe cuma buat sedekah." Celetuk Rangga sebagai pegawainya juga, ngebuat semuanya terkekeh.

"Lah gue sendiri lebih heran, pegawai gue satu ini di tf tiap bulan 4 juta setara udah sama gaji UMR kota, tapi masih mau nyumbang tenaga dengan di bayar 2,5 juta doang." balas Linggar gak mau kalah ngebuat Rangga menyumpal mulut Linggar dengan satu gulungan tisu.

"Berisik ah Gar." Balas dari Rangga cepat.

"Emang Pegawai minus." Celetuk Sandhya juga di sana. Linggar bangun dari duduknya, menepuk pundak Rangga biar dia nulis pesanan dari teman teman yang lain.

"Pesen apa? Hari ini kalian semua diskon setengah harga, deh." Kata Linggar yang buat mereka seketika langsung ramai sorak sorai "Asik." itu cukup membuat bising sampai harus di kendalikan Yuda.

"Cepet, lama milih gak ada diskon gede gedean." Gaya Rangga udah kaya owner cafe.

Malam harinya cafe Linggar udah di tutup sementara para pegawainya masih duduk di deket kasir, capek selesai closing tapi hari ini kata mereka banyak serunya juta, fifty-fifty. Mereka juga duduk di sana ada tujuannya, katanya Linggar mau ngasih sesuatu.

Linggar dari ruangannya bawa beberapa amplop putih lalu menyodorkan ke mereka masing-masing satu, sambil bilang "Ini penghasilan hari ini, gue sisihin beberapa buat kalian soalnya hari pertama kita cukup sukses karna kalian juga. Buat gaji kedepannya itu 24 hari setelah hari ini." Kata Linggar begitu.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 10, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ClasSy 97sTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang