Liona keluar dengan perasaan legah, karena selama disana ia merasa tertekan berhadapan dengan panitia yang tampan yang umurnya 8 tahun lebih tua darinya, serasa seperti tergepit antara 2 batu di sekelilingnya, tapi sekarang Liona sudah merasa free... dan sudah bisa bernafas legah.
"Eh tunggu, kemana ibu tadi menunggu di sekitar sini."
Hp Liona pun berdering dalam saku roknya lalu ia mengangkatnya "Halo?"
"Liona ini ibu, kamu udah selesai tes belum?"
"Udah kok, baru aja, ibu dimana Liona cariin dari tadi."
"Maaf ya? Ibu tadi bosen nunggu sendirian di koridor jadi ibu ke taman deh."
"Ya udah aku ke sana, ibu tunggu ya jangan kemana – mana." pik telfon di tutup.
Liona pun kebingungan karena dia baru tahu tempat sebatas ruang pendaftaran, ia pun mulai gelisah, sambil mencari ibunya dia bergumam sangat menyusahkan, darimana ibu tau arah ke taman sekolah, persaanku dia baru tahu sekolah ini, apa mungkin dia sudah pernah ke sini sebelumnya? aaah aku tak tahu, lebih baik aku mencarinya.Di tengah jalanpun ia menabrak seseorang yang sedang lewat, mereka tejatuh di lantai dengan posisi yang saling membelakangi.
Brug!!!
"Aduh...aaaah sakit." Liona bergumam dalam hati eh tunggu kayaknya aku nabrak orang deh, cobaku lihat, aaah iya gimana nih?? Hadapin aja deh aku memang ceroboh banget sih jadi orang ia mengitik dirinya dengan kesal.
"Kalau jalan lihat lihat... badanku sakit semua dan kulitku yang mulus jadi korengan, ayo minta maaf sebelum aku menghukummu."
"Enak saja emang cuman kamu yang luka. Haaah ok deh aku minta maaf aku yang ceroboh."
"Lain kali hati – hati kalo jalan, kerena aku sedang baik hari ini aku tidak menghukummu."
"Gomawo oppa." Liona sontak langsung berdiri.
"Tunggu kau..." Veren menatapnya curiga.
Liona menundukan kepala lalu berbicara kecil "Aduuuh dia kakak senior yang aku liat tadi, sial banget aku punya masalah di hari pertama." lalu menatap wajah Veren.
"Annyeong oppa." sapanya mencoba tersenyum.
"Aaaah iya, kau Liona Ardinata pindahan dari Indonesia, yang duduk bersama panitia Kim." Veren menatap dingin Liona.
Pertemuan keduanya menjadi sunyi sesaat dengan angin berhembus pelan, tak lama Veren pun mulai membuka pembicaraan, dan jantung Liona pun mulai berdegup kencang seperti drum band.
"Mau kemana kau? Terlihat bingung sekali?"
"Aku mencari ibuku dia bilang dia berada di taman sekolah, aku tak tau tempatnya bisa tolong antarkan aku ke sana?"
"Eeemmm baiklah akan ku antarkan, ayo."
Sekarang Liona berada di belakang kakak senior yang ia katakan ganteng, cool dan dingin itu rasanya bagi Liona mimpinya seperti jadi kenyataan. Tapi di lihat – lihat Veren tak banyak bicara, dari tadi dia hanya diam saja heeeh sedikit bosan tapi gak apa – apa deh yang penting aku bisa liat dia lebih lama hehe, jangan iri ya guys gumam Liona sambil tersenyum kecil.
"Sampai di sini sajah ok, itu ibumukan? Aku harus pergi." menunjuk dengan wajah lalu pergi.
"Terima kasih sudah mengantarku oppa, sampai bertemu lagi." Veren langsung berpaling dan meninggalkan Liona begitu saja dan tidak menjawab sepata kata pun.
"Dasar menyebalkan untung cakep." gerutu Liona.
Catatan, walau Veren dingin tapi dia baik hati dan bertanggung jawab, senior yang baik dan menusuk hati.
🌻🌻
Liona Pov
Akhirnya aku bisa rebahan di kamar kesayanganku ini, wah legahnya agak capek juga hari ini tapi menyenangkan hehe. Hemm
Semakin lama aku semakin kepikiran soal kejadian beberapa hari yang lalu seperti terekam berulang – ulang di dalam kepalaku, aku sulit untuk mengelak jika aku mulai menyukai Veren, walau ada rasah jengkel menyelimuti pikiranku, tapi perasaanku tak bisa di bohongi karena itu nyata.
"Eh iya beberapa hari lagi pengumumannya. Hemm semoga aku masuk PAS dan bisa bertemu dia lagi amin."
🌻🌻
Author Pov
Beberapa hari setelah itu pengumuman pun tiba, pengumuman itu di sebar lewat website sekolah. Jantung Liona pun berdegup kencang, keringat dan rasa gemetar di tangannya mulai muncul, tapi ia mencoba menenangkan pikiranya itu. Diapun mulai membuka website sekolah dan mencari namanya di tabel yang ada di hadapannya itu, ia mengscroll hpnya dengan perlahan, setelah beberapa nama yang muncul di sana dia pun kesal karena namanya tidak muncul – muncul.
"Aduh namaku belom muncul – muncul kesel juga, eh sabar Liona kau pasti masuk, baiklah." Menggulung layar hpnya lagi.
Setelah beberapa saat kemudian mata Liona melotot saat melihat namanya ada dalam tabel itu.
Aaah aku melihat namaku tercantum di tabel, matakupun terjelit melihatnya, rasa gugup dan penasaran tadi seketika hilang begitu saja gumam Liona sambil berjoget-joget riang. Dia pun segera memberitahu ibunya soal pengumuman tadi, dengan wajah ceriah Liona berlari mendekati ibu yang sedang berada di dapur.
"Ibuuu... aku keterima di Performing Art School!" teriak Liona menggelegar.
Seketika ibu terkejut, dan pisau yang ia pegang hampir memotong tangannya. "Ada apa teriak – teriak? Seperti menang undian aja."
Liona Pov
Aku menjawab dengan jelas bahwa aku di terima di PAS (Performing Art School), kita pun berpelukkan sambil meloncat kegirangan.
"Wah selamat ya anakku, ibu ikut seneng dengernya muah." Sambil mengecup keningku singkat.
"Makasih ibuku sayang."
"Selangkah lagi cita-citamu tercapai tapi inget pesan ibu jangan bolos sekolah dan belajar yang rajin ya?" Menatap kedua mataku penuh peringatan.
"Iya ibu, Liona janji gak akan ngecewain ibu." Aku memberi kelingkingku dan ibu menyatunya dengan senyum lebar.
walau dalam keadaan senang ibuku tidak lupa memberi nasehat kepada ku untuk serius sekolah, dan tidak membolos atau bermalas – malasan. Aku pun berjanji dengan sepenuh hati, tawa dan senyum menemani kami pada hari itu. Malam pun tiba dan ayah pun pulang dari kantor.
"Ayah pulang." satunya dari depan pintu masuk dengan wajah yang tetap semringah.
"Selamat datang ayah, gimana kerjaannya lancar?" Ibu bertanya sambil mengambil tasnya.
"Semua lancar kok, Eh Liona kemana?"
"Dia lagi di kamarnya tuh, ayah mau cemilan?"
"Wah boleh nih tapi ayah mandi dulu ya?"
"Ok sayang."
aku sedang sibuk menyiapkan barang – barang untuk keperluan sekolah, sedangkan ibuku menyiapkan cemilan untuk ayah yang sedang duduk di sofa sambil menonton tv. Aku mengintip dari balik tembok dan menduga di sana mereka berbincang soal kejadian hari ini, ibu pun tak lupa memberi tahu jika aku di terima.
"Ayah anakmu keterima di PAS loh."
"Jinjja?" Membulatkan mata.
"Ne jinjjayo. Baru aja tadi dia kasih tau."
"Wah syukurlah kalo begitu ayah ikut seneng jadinya."
ayah pun senang mendengarnya dengan senyum di wajahnya.
"Hehe makasih ya ayah?" Sautku dari balik tembok.
"Eh udah turun sini duduk makan cemilan." ajak ayah antusias.
"I'm coming Daddy."
sorry pendek hehe, tapi semoga kalian menikmati ya, jangan lupa vote dan com kalo ada saran boleh aja nih asal kata-katanya gak menyelekit ke hati wkwk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidden Love [ SVT Ff ]
Teen FictionAttention 💎 karya ini republish dari akunku Senachwehansol26 🌻🌻 Seorang gadis pindahan dari Indonesia yang bersekolah di Seol karena pekerjaan orang tuanya, sejak SMP pergi ke Korea adalah impiannya dan akhirnya terkabul. Saat di sekolah baru di...
![Hidden Love [ SVT Ff ]](https://img.wattpad.com/cover/337938353-64-k875222.jpg)