Chapter 7*

7 2 0
                                        

Suara notifikasi terus berbunyi hingga memenuhi layar hpnya, tapi dia beloum niat untuk membaca semuanya. Ia pun menggulir layarnya dan ada pesan masuk dari Choi Yena yang bertuliskan Oppa, sudah selesai beluuum mandinya lama banget, ayooo makan, gak enak tau makan sendiri aku tunggu di ruang makan Veren pun menjawa sambil tersenyum lebar "Iyaaa baaweeell, aku turun sekarang," Veren pun menuruni tangga. Ia terkejut melihat hanya ada Choi Yena di sana yang sedang memainkan makanannya dengan wajah tidak nafsu. Seketika ada sesuatu yang menusuk hatinya dalam sekejap.

"Ayah dan ibu belum pulang Yen?" Melantangkan suaranya.

"Beelooom. Ayo sini cepetan aku tungguin dari tadi," dengan berbicara manjanya.

"Iyaaaa saaayaaang, baru di tinggal sebentar aja udah kangen," berjalan mendekat ke meja makan.

"Lagian sih lama banget ngapain aja di kamar mandi. Konser?" Dengan wajah manyun.

"Bilang aja kangen sama oppa, iya kan? Jangan manyun dong," mengelus kepala Yena dengan lembut. Yena memeluk Veren erat.

"Iya kangen, janji ya jangan tinggalin aku lama – lama?"

"Iyaaa, sayang," Veren menjawab dengan lembut dan memeluknya sedikit lama. Ia berbicara dalam hati aku tidak akan membiarkanmu sendiri lagi Yena, aku akan lebih perhatian lagi.

"Ayo kita makan oppa ntar keburu makannya dingin."

"Makanannya udah dingin tuh Yen."

"Isssh lagian lama amet mandi," Yena memukul pundak kakaknya kesal.

"Aw aw aw sakit Yen. Oppa minta maaf deh," rengeknya minta diampuni.

"Ya udah oppa panasin dulu deh makanannya di oven sana," suruh Yena mendorong punggung Veren.

"Iya iya bentar, jangan didorong nanti tumpah."

merekapu mulai memakan makan malam mereka setelah Veren memanaskan semuanya walau Yena rada jengkel dengan kakaknya yeng lelet kayak kura-kura.

Di rumah Liona –

Liona sibuk chattingan dengan temannya, sampai lupa membantu ibunya di dapur untuk menyiapkan makan malam. "Liona!! Ayo sini makan malemnya udah siap niiiih."

"Iyaaaa buuu bentar," jawabnya lantang.

"Aduh aku lupa bantu ibu di dapur nyiapin makan malam, bisa kena omel aku. Aish dasar bakal ngomong apa ibu nanti aduuuh. Ya udah deh hadepin aja," ucapnya sambil berjalan bolak-balik lalu menarik napas panjang dan turun ke bawah.

Liona langsung bergegas ke dapur untuk makan malam dan makan malam sudah siap semua di meja. Ayahnya pulang lebih awal karena sudah berjanji akan makan di rumah. Lalu dia melihat ayahnya membantu ibunya menyiapkan makan malam. "Sooo sweet banget ayah bantu ibu di dapur, jadi kepengen deh," ayah menjawab dengan santai.

"Iyaaa dong, suami siaga."

"Kamu kemana aja gak bantu ibu di dapur? Untung ada ayah yang bantuin," omelnya.

"Miane... Liona minta maaf," sambil menundukkan kepalanya dan ayahnya menjawab dengan nada yang lembut. "Lain kali, bantu ibu di dapur jangan di kamar aja, ayahkan gak bisa terus ada di rumah buat bantu ibu.. yah. Paham?" Dengan mengelus kepala Liona

"Iya Liona paham, omma miane?" Sambil memohon.

"Iya deh eomma maafin. Eh mukamu lucu loh pas lagi kayak gini."

"Masa sih, muka Lio lucu yah jadi malu," wajah Liona pun memerah.

"Keinget pas kamu masih kecil waktu itu kamu numpahin kue ke lantai. Gini nih muka mu pas minta maaf," terang ayah mulai tertawa kecil.

"Aku masih kecil seceroboh itu ya yah?" Menggaruk tengku lehernya.

"Iya lumayan sih dan bukan cuma itu masih ada lagi," terang ayah menutup matanya.

"Eh, apa lagi tuh yah?" Tanya Liona penasaran.

"Emm kamu pernah di carin ibu kemana-mana sampe tetangga ikutan nyari dan rupanya kamu masuk bakul cucian, untung aja gak kecuci hahaha," tawa ayah ngakak.

"Iya waktu itu ibu panik kamu main gak bilang-bilang jadi heboh deh satu komplek," terang ibu sambil mengelap meja kompor.

"Iya waktu itu kamu masih umur 6 atau 5 tahunan karena badan kamu kecil jadi kalo ngumpet atau nyelip gak keliatan," jelas ayah memperagakan beberapa katanya.

"Hehe Liona minta maaf deh udah ngeropit ibu sama ayah," menundukkan kepalanya menyesal.

Mereka pun tertawa bersama sambil membahas cerita masa kecil Liona.

**

Dan kita sekarang melihat kediaman Gojun, Ujin dan teman – teman sedang berkumpul di sana seperti biasa bercerita sampai larut malam, menginap bersama dan memasak sesuatu di sana. Mereka mengajak Veren untuk kumpul bersama tapi dia tidak bisa datang karena ia harus menemani Yena di rumah, mereka dapat memakluminya karena Veren walau tingkahnya dingin tapi sayang dengan adiknya. Seperti dia esnya dan Yena pencairnya, lagi pula mereka masih tetap video call bersama hampir setiap saat. Dan malam ini, Jun dan teman – teman akan mengerjakan tugas sekolah di rumah Veren, setelah makan malam mereka selesai, beberapa menitpun berlalu malam ini yang bertugas cuci piring adalah...

Jun mulai duluan "Baiklah, mala mini yang bertugas cuci piring siapa?" mereka sekejap terdiam karena tidak ada yang mau mencuci piring yang banyak hampir seperti gunung di costafel Jun mulai berpikir agar adil dan dia memutuskan untuk hompimpa.

"Ayo kita hompimpa biar adil, hana, dul, set."

Seung berteriak tidak terima. "Aaaaah ini tidak adil, aku minta di ulang satu kali lagi."

"Heeeeh, baiklah kita ulang satu lagi, kali ini jangan ada yang perotes, ok?" Dengan aegyo andalan Ujin, bersama.

"Hana, dul, set."

Diam beberapa detik Jun mulai lagi "Baiklah, saya putuskan yang cuci piring mala mini adalah... drum roll please." Jeon melakukan beat boxnya di ikuti dengan Ujin

"Go Seung dan Nam Jeon..."

Serempak "Yaaaaaayyyy!!"

Yooji menyahut dengan merenggangkan badanya. "Akhirnya malam ini aku tidak bertugas cuci piring, senangnya."

"Waktunya mommy and daddy yang cuci piring," saut Ujin dengan gembira.

"Aiggo... ini tidak adil, aku kabur aja deh," pura-pura tak melihat.

"Eh eh eh mau ke mana kamu hem. Mau kabur ya?" Tanya Jun menarik kaus Seung.

"Ehehe ampun pak," memasang wajah minta di kasihani.

"Aku masih ada urusan jadi aku pamit ya bye," kata Jeon juga berusaha kabur.

"Eh hyung, kau tidak akan pergi kemana-mana sampai pekerjaanmu usai," kata Ujin menyengkram tangan Jeon.

"Ah ah ah adu sakit Ujin. Lepasin gak?" ancemnya.

"Gak mau kalo hyung masih mau kabur," menggelengkan kepalanya.

"Iya iya aku gak kabur janji deh," menaikan jari kelingkingnya.

"Tidak tidak, kau harus aku seret ke dapur dulu. Ayo." Ujin menyeter Jeon ke dapur tanpa melepaskan tangannya sama sekali hingga membuat Jeon pasrah.

"Aduh aduh pelan-pelan jalannya Jin," rengek Jeon lagi.

Seung di sini yang paling malas kalo di suruh beres – beres tapi yang lain punya trik bagus agar dia tidak kabur, Jun dan Yoonji menggendong Seung sedangkan Ujin yang menarik tangan Jeon. Mereka membuat malam itu begitu seru, walau yang mencuci piring hanya 2 orang tapi yang lain juga membantu, ada yang membereskan bekas makanan di meja, ada yang membuang sampah di luar, dan ada yang membereskan peralatan masak yang berantakan di dapur, bisa di bilang mereka benar – benar kompak. 

Hidden Love [ SVT Ff ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang