Danbi terbangun dengan kepala yang sakit dan badan yang pegal-pegal. Cahaya matahari terasa menyilaukan untuk matanya yang masih mengantuk. Butuh beberapa detik sampai ia menyadari bahwa ia tertidur di sofa dengan posisi tangan kirinya tertindih. Tidak heran tangan itu terasa kebas sekarang.
Danbi hati-hati menghela badannnya duduk. Ketika kakinya menapak lantai, ia menginjak sesuatu yang lembut. Ia memungutnya dan melihat selimut yang sepertinya digunakannya semalam. Entah kapan selimut itu pasti merosot dan meninggalkan badannya kedinginan.
Setelah mengerjap-ngerjap beberapa saat lagi, Danbi akhirnya berdiri dan berjalan pelan-pelan ke dapur untuk mengambil minum. Sambil berdiri di depan kulkas yang terbuka menenggak air dingin dari botol, samar-samar Danbi mendengar langkah kaki dari tangga. Tidak biasanya, suara langkah itu terdengar jarang dan seperti tidak seimbang. Sejenak Danbi ragu apakah itu Chanyeol.
Agak lama kemudian, sosok yang muncul dari tangga menunjukkan kalau sumber suara itu benar-benar Chanyeol. Chanyeol berjalan pincang dengan satu tangan memegangi pinggang.
"Chanyeol-ssi!" Danbi terkejut melihatnya. "Apa yang terjadi?"
Chanyeol mengangkat fokusnya pada Danbi, menautkan alis seakan ia jengkel, tapi tidak langsung menjawab pertanyaannya. Ia tertatih-tatih ke arah kulkas untuk mengambil air juga.
"Apa kau sakit?" tanya Danbi lagi. "Kau terluka?"
"Gara-gara kau," Chanyeol mendesis, kemudian meminum air dari botol lainnya.
"Aku?" Danbi mengerjap-ngerjap. "Aku kenapa?"
Chanyeol mendelik seakan tidak percaya Danbi bahkan berani bertanya padanya. "Berhenti minum!" serunya. "Setiap kali kau minum, selalu saja ada masalah muncul!"
"Minum?" Danbi memutar ingatan kemarin. Ia ingat pergi minum dan bertemu Baekhyun. "Apa aku melakukan sesuatu?" Ia ingat berjalan pulang, dan berpapasan dengan Chanyeol di jalan, lalu... apalagi? Ia tidak bisa mengingat sisanya.
"Tunggu," Danbi menutup mulut dengan tangan, "aku tidak melakukan hal sinting seperti membuka-buka pakaian, kan?"
Kedua mata besar Chanyeol membulat sampai Danbi khawatir bola matanya akan melompat keluar. "KAU—" Chanyeol sudah meninggikan suara, tapi detik berikutnya ia menahan diri. "Jangan berani-berani mabuk tanpa sepengetahuanku, apalagi dengan orang asing," katanya final.
Danbi mengangguk. "Ba-baik...."
Chanyeol meletakkan botol air kosong di wastafel dan menyeret langkahnya sangat pelan, seolah setiap langkah menyakitinya. Danbi merasa harus bertanggung jawab, walaupun ia tidak ingat pasti apa yang ia lakukan setelah bertemu Chanyeol semalam.
"Apa kau sudah minum obat pereda nyeri?" tanya Danbi. "Atau, anu, aku punya plester panas untuk cedera otot. Apa kau mau coba? Akan kubantu tempelkan."
Chanyeol memicing padanya seakan-akan curiga. Setelah menimbang-nimbang sejenak, ia menjawab, "Baiklah."
***
Sedang apa aku ini sebenarnya? Chanyeol baru memikirkannya begitu ia berbaring telungkup di sofa dan mengangkat kausnya setengah badan, menunjukkan kulit pinggangnya pada orang asing. Entah kenapa Chanyeol jadi merasa malu.
Danbi berlutut di lantai, sudah siap dengan plester panas di tangan. "Di mana yang sakit?"
"Pinggangku," Chanyeol menjawab dengan suara tenggelam karena ia menempelkan pipinya ke atas sofa. "Entah di mana. Semuanya sakit."
KAMU SEDANG MEMBACA
Pretty Ghostwriter
FanfictionRyu Danbi sudah mengagumi Park Chanyeol, yang dikenal dengan alias LOEY, hampir sepanjang karir laki-laki itu; mulai dari penyiar radio sampai menjadi penulis seri fiksi kriminal populer, dan sekarang menjelang debutnya sebagai aktor suara. Bagi Dan...
