Jeffry duduk santai di samping Wira, senior sekaligus sahabatnya, yang sedang menyetir. Dia meladeni Wira yang mengajaknya mengobrol sembari tangannya sibuk menggeser-geser layar ponsel. Membaca berita dan membuka-buka, seperti biasa, laman media sosial.
Pagi ini Wira yang biasa mengendarai mobil ke kantor mengajaknya pergi sama-sama. Karena, siang nanti mereka harus keluar kantor untuk sebuah urusan.
"Wuiih... siapa tuh?" Mata Wira menunjuk foto yang terpampang di layar ponsel Jeffry. "Coba lihat," pintanya setelah menarik tangan Jeffry mendekat. "Wow! Cantiknya super, nggak kaleng-kaleng."
Jeffry tertawa. Entah menertawakan komentar Wira atau merasa senang mendapat teman baru yang sama-sama mengagumi kecantikan keturunan Hawa yang satu ini.
"Siapa?"
"Temen, kok," katanya defensif, mengantisipasi Wira berpikir macam-macam.
"Kok, pake 'kok'? Apa aku terlihat mau ambil kesimpulan lain?"
Jeffry menyeringai lebar. Mereka terbahak berdua. Ada yang bisa disimpulkan tanpa harus dikatakan atau disepakati bersama. Mungkin ini salah satunya.
"Tapi, tampang licin glowing gitu pasti butuh skinker berlapis-lapis. Bisa-bisa ngabisin separo gaji kita, Jef. Iya nggak?"
Jeffry mengangkat alis tinggi-tinggi.
"Nggak juga sih, Bang, kayaknya. Cantiknya emang dari lahir, cuma butuh dipoles sedikit udah jadi cetar membadai membahana."
Kabin mendadak dipenuhi suara tawa mereka.
"Hati-hati, jangan main api," Wira masih sempat mengingatkan.
"Iya, Bang. Mana berani aku macam-macam."
"Tapi masih mending dia daripada Bu Fiona, Jeff."
"Ya ampun, Bang, nggak ada yang mendinglah. Dua-duanya istri orang juga."
"Lha, bukannya malah bagus kalau begitu?" tanya Wira dengan ekspresi serius.
"Bagus gimana?"
"Saingannya kan cuma satu, suaminya doang." Wira terbahak.
*
Tidak ada yang istimewa di kantor Jeffry hari ini. Dia bekerja dan mengerjakan tugas-tugas seperti biasa. Banyak berkas baru yang harus ditelaah. Sebagai penelaah keberatan sehari-hari dia bertugas meneliti ketetapan pajak yang diterbitkan oleh pemeriksa dengan mempertimbangkan beberapa dokumen yang dilampirkan oleh wajib pajak. Beberapa Wajib Pajak perlu dikirimi surat undangan agar keberatan mereka bisa dipelajari lagi lebih tuntas sehingga bisa cepat mendapat keputusan akhir.
Pertimbangan azas keadilan bagi Wajib Pajak dan pertimbangan penerimaan negara kadang-kadang membuat pusing tujuh keliling. Tak jarang Jeffry harus berbeda pendapat dengan pemeriksa yang menerbitkan surat ketetapan pajak yang nota bene memiliki posisi lebih tinggi darinya. Hal itu menjadi tantangan tersendiri. Secara psikologis pasti akan ada pengaruh, terlebih kultur di Indonesia yang masih sering ewuh pakewuh. Mendebat pendapat seseorang yang usianya lebih tua, posisinya lebih tinggi sering menempatkan kita dalam posisi yang sulit.
Di zaman sekarang, saat semuanya ditangani dengan lebih transparan, hampir tak ada celah untuk mengakali peraturan. Berurusan dengan uang, terlebih keuangan negara, butuh komitmen kuat. Tidak heran jika ASN di instansi tempat Jeffry bernaung mendapat penghasilan lebih tinggi daripada di instansi lain.
"Lagi sibuk Pak Jeffry...?" Seseorang menyapa ketika Jeffry baru mulai membuat SPUH yang akan dikirimkan kepada Wajib Pajak sebuah perusahaan berskala sedang.
Jeffry mendongak.
"Eh, ada Icha lewat," sahutnya, menjawab sapaan rekan kerjanya, seorang ibu muda bertubuh mungil tapi bervolume otak besar. Dia salah satu yang terpandai di angkatan mereka. Penampilannya sekarang cukup berkelas, berbeda dibandingkan saat kuliah dulu. Yaiyalah, mahasiswa dapat duit dari mana buat beli skinker para sultan... sekarang jauh lebih terawat. Kulitnya yang dulu sawo matang jadi lebih terang dan mulus. Wajahnya terlihat licin dan segar. Cantik, bahkan dengan riasan yang sangat sederhana.

KAMU SEDANG MEMBACA
RUMPUT TETANGGA
RomanceAda yang mengirimi permintaan pertemanan di akun fesbuk Jeffry. Seorang perempuan yang di foto profilnya kelihatan sangat cantik. Bening. Glowing. Shining. Shimmering. Splendid... ... ♪♫... Masih seperti yang dulu. Perempuan yang sudah lama tak terd...