❗️FOLLOW & VOTE DULU SEBELUM BACA❗️
Seorang wanita yang tidak ingin hidupnya terikat dalam hubungan pernikahan, akan tetapi menginginkan anak tumbuh dan lahir dari dalam rahimnya. Lalu bagaimanakah hal itu bisa terjadi?
Suatu hari Kim Jesslyn Nara a...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
JANGAN LUPA DI VOTE & KOMEN YA SAYANG
🎵 Daniel Di Angelo - Drive you insane
ꕤꕤ
Tidak ada dalam jadwal Jesslyn menyambut pagi dengan bermalas-malasan, atau bangun kesiangan walaupun di hari libur sekalipun. Justru waktu libur Jesslyn akan begitu sibuk oleh pekerjaan yang belum diselesaikan sebelumnya.
Seperti pagi ini, wanita itu sudah bangun sejak pukul empat pagi untuk memeriksa laporan fisik maupun non fisik yang masuk. Emailnya begitu penuh sampai membuat matanya menyipit saat memeriksanya satu per satu. Tanpa sadar jam bergerak cepat menunjukkan pukul sembilan.
"Bau apa ini? Harum sekali," seru Jesslyn saat sebuah aroma makanan melewati indra penciumannya.
Kedua manik Jesslyn terpejam menikmati aroma masakan yang begitu harum hingga membuat perutnya berbunyi. Konsentrasinya buyar seketika. Dia sudah membalas setengah email yang masuk. tinggal beberapa lagi saja jadi dia bisa istirahat.
Jesslyn meletakan laptopnya di atas ranjang. Dia segera beranjak pergi mengikuti aroma harum semakin kuat berada ke lantai bawah. Di sana, dia melihat mamanya tengah memasak sesuatu di dapur bersama bibi. Sudut bibir Jesslyn terangkat tipis, dia sudah tidak sabar untuk mencicipi hasil masakan ibunya.
"Mama masak apa? Harumnya sampai masuk ke kamar Jesslyn.” Jesslyn bertanya seraya mendekati ke dapur.
Wanita paruh baya itu menoleh ketika suara putrinya menyambangi telinganya. "Duduklah, Mama masak makanan kesukaanmu, sayang," jawab sang ibu santai sambil menarik senyum manis.
Jesslyn membalas senyuman hangat ibunya dan segera duduk di depan meja panjang menghadap langsung ke kompor. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk memakannya, bahkan janin di perutnya juga sudah memberontak ingin makanan itu.
"Nasi goreng?" tanyanya dengan mata berbinar.
"Bukankah kau menginginkan ini kemarin? Jadi Mama buatkan hari ini spesial untukmu. Makanlah sampai kenyang." Ibu Jesslyn ikut duduk di sebelah putrinya.
Jesslyn mengambil sebanyak yang dia inginkan. Dia sudah melupakan diet ketat yang selama ini dilakukan secara rutin—ralat bukan melupakan lebih tepatnya karena ingin bayi di kandungannya sehat dan berkembang dengan baik.
Di lain sisi, seorang pria itu masih bergelut dengan selimut tebal yang membungkus dirinya. Tubuh Jeon begitu pegal, sakit, berat dan juga dia merasa kedinginan. Dahinya mengerut merasakan ketidaknyamanan di tubuhnya. Ac sudah dimatikan sejak dini hari, tapi kenapa dia masih merasa dingin. Rasa dinginnya begitu menusuk hingga ke tulang sampai menimbulkan nyeri.