❗️FOLLOW & VOTE DULU SEBELUM BACA❗️
Seorang wanita yang tidak ingin hidupnya terikat dalam hubungan pernikahan, akan tetapi menginginkan anak tumbuh dan lahir dari dalam rahimnya. Lalu bagaimanakah hal itu bisa terjadi?
Suatu hari Kim Jesslyn Nara a...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
JANGAN LUPA DI VOTE & KOMEN YA SAYANG
🎵 Josh Makazo - Hours
ꕤꕤ
"Apa kau akan pergi? Sekarang sudah waktunya makan siang. Aku ingin mengajak Nona Jesslyn untuk makan siang bersama,” tawar Jeon di saat Jesslyn hendak masuk ke dalam lift.
Jesslyn memutar bola matanya sekaligus tubuhnya dan membiarkan lift itu tertutup bersama dengan sekretarisnya yang sudah berada di dalam sana. “Aku ada urusan lain, maaf,” tolak Jesslyn halus.
Jujur saja Jesslyn sangat canggung berada di dekat Jeon. Memilih menjaga batasan bukan tanpa sebab, ada pergulatan batin di pikirannya untuk menolak. Karena ada satu hal penting, nama pria itu sama persis seperti yang tercantum dalam informasi pendonor sperma yang dibeli dari Dokter Shin. Dia tak pernah melihat lebih lanjut laporan informasi itu seolah menganggapnya hal yang tidak penting lagi untuk dia ketahui. Namun, Jesslyn sedikit menaruh curiga jika pendonor itu sebenarnya pria di hadapannya karena namanya sama persis.
“Apa kau tidak mengenalku, Nona Jesslyn? Aku....” Jeon kembali berbicara, dia ingin tahu apa wanita itu masih mengingat dirinya atau tidak.
“Kau, Tuan Jeon, CEO Deerwod Corporate.”
Jesslyn bingung harus mengatakan apa lagi, kenapa pria itu seolah-olah seperti mengenal dirinya. Apa sebelumnya dia pernah bertemu dengannya? Jesslyn diam memilih untuk menggali ingatannya yang tertumpuk oleh pekerjaan.
“Pria ini bukankah yang di rumah sakit?” batin Jesslyn, menaikkan pandangannya ke arah Jeon, mengamati lebih dalam wajah itu.
“Bagaimana, apa kau mengingatku?”
Jesslyn menangguk ragu. “Kau pria yang menabrakku di rumah sakit?”
“That’s right, itu aku Nona Jesslyn. Aku belum memperkenalkan diriku kepadamu sebelumnya. Aku Jeon Arion Deerwod.”
“Aku sudah tahu namamu jadi tidak perlu memperkenalkan diri lagi, Tuan Jeon.” Jesslyn memutar tubuhnya kembali ke arah lift, memencet tombol untuk turun.
Namun saat Jesslyn hendak masuk kembali, Jeon spontan menahan pergelangan tangan wanita itu, lalu menariknya kuat tanpa aba-aba hingga tubuh Jesslyn tertarik dan berakhir pada dada bidang milik Jeon yang keras.
“Aku mohon kali ini saja kau mau makan siang bersama denganku.” Jeon semakin rapat menyematkan satu tangannya pada pinggang ramping Jesslyn dan satunya lagi memegang pergelangan tangan wanita itu. “Apa perlu aku meminta izin kepada Tuan Kim untuk mengajak putrinya makan siang?” timpal Jeon sedikit menampilkan senyum.
Jesslyn mendorong tubuh pria itu menjauh darinya, pria itu dengan seenaknya menyematkan tangannya pada tubuh berharganya. Jesslyn begitu risih tapi di saat bersamaan dia berdebar, gugup, canggung, waspada dan takut. Entah sejak kapan dia merasa takut dengan seseorang, baru kali ini dia merasakan hal ini.