Extra Part: Who is she

364 27 12
                                        

Perpustakaan selalu menjadi tempat terbaik untuk menyendiri. Seorang pemuda yang sudah biasa berada di tempat sunyi itu, duduk bersandar di kursi dengan tangan terlipat di depan dada. Matanya terpejam, dihiasi bingkai kacamata bening. Buku di depannya terbuka, menganggur tak terbaca.

"Jeff!"

Panggilan itu membuatnya membuka mata, sebab ia memang tidak tidur.

"Kirain tidur." Raka menarik kursi dan duduk di sampingnya.

Jeff tidak menjawab, memilih melanjutkan bacaannya yang tertunda. Tadi ia berhenti karena kenangan seseorang mengganggu pikirannya. Makanya Jeff memejamkan mata agar bisa melupakannya.

"Cemberut mulu gue liat. Seharusnya lo senang karena baru menang Olimpiade sains tingkat nasional."

"Hm," dehemnya tidak peduli.

Tidak mendapat respon baik, Raka memilih meregangkan tubuh yang kaku dikarenakan kelelahan menangani acara sekolah yang akan berlangsung selama lima hari.

"WOI, kalian!" Riko datang dengan berlari, melupakan peraturan perpustakaan.

"Kecilin suara lo! Pake lari-larian segala lagi," tegur Raka, takut penjaga perpus mengusir mereka.

Pemuda itu duduk di kursi depan Raka dan Jeff dengan meja sebagai penghalang. Ia mengatur nafas yang tak beraturan sebab berlari dari kelas ke perpustakaan, keningnya sampai berkeringat.

"Eh, wakil lo nyariin tadi," beritahu Riko setelah nafasnya mulai normal.

"Kirain kenapa sampai lari segala. Ternyata cuma masalah sepele." Raka menatapnya malas, "Gue capek, mau istirahat bentar. Dari kemarin urusin acara sampai begadang."

"Siapa suruh mau jadi ketua OSIS. Gue juga kesini bukan karena masalah itu."

"Mending lo pergi kalau mau ngerusuh. Lihat Jeff sampai keganggu gara-gara lo."

Pemuda yang disebut namanya hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus pada bacaannya. Riko malah memukul meja untuk menarik perhatian keduanya, lalu mengeluarkan ponsel dari saku dengan semangat.

"Gue kesini bawa info penting," ucapnya sambil meriksa ponsel dan membuka aplikasi Instagram.

"Paansih, ga jelas," gerutu Jeff, mulai terganggu dengan kehebohannya.

Riko mengarahkan layar ponsel pada dua orang di depannya. Memperlihatkan feed Instagram seseorang. Jeff tidak peduli, memilih memperhatikan bukunya. Raka meraihnya, penasaran dengan apa yang ingin ditunjukan pemuda itu.

"Ini ada hubungannya dengan Allea," ucapnya menggebu.

Mendengar nama itu disebut, Jeff menarik ponsel yang baru dipegang Raka.

Sudah berbulan-bulan tidak ada yang pernah mengetahui kabar gadis itu. Nomor telepon dan semua sosial medianya non-aktif. Mereka lost kontak dengannya. Oma Sarah pun tidak bisa dihubungi dan sudah tidak tinggal di rumah Allea. Kini mereka sudah kelas dua SMA, tapi bayang-bayangnya masih belum hilang dari ingatan ketiganya.

"Waktu lagi scroll, akun itu muncul di rekomendasi. Lihat foto profilnya mirip Allea, jadi langsung gue kepoin."

"Tapi nama akunnya Nara, bukan Allea," sanggah Raka.

Mata Jeff meneliti foto pemilik akun itu. Gadis cantik dengan rambut sebahu berwarna dark brown. Manik mata abu-abunya begitu cocok, menambah kecantikannya. Kebanyak postingannya berisi foto jalan-jalan bersama teman-temannya. Pemilik akun itu tak segan mengumbar senyuman lebar di setiap tangkapan layarnya. Ia nampak seperti gadis ramah yang menyenangkan. Wajahnya mirip Allea, tapi gaya dan tingkahnya sangat berbeda.

"Mirip," gumam Jeff.

"Kan, apa gue bilang. Ini sih, fix Allea! Apalagi sama-sama tinggal di Belanda."

"Masa, sih?" tanya Raka penasaran. Ia ingin melihat, tapi Jeff tidak memberinya kesempatan.

Pandangannya tak bisa lepas dari ponsel. Jempolnya menggulir dari postingan paling awal, tidak ingin melewatkan satu foto pun. Jarinya berhenti pada sebuah foto dua orang berlatar langit malam. Gadis itu berdiri bersebelahan dengan seorang pemuda tinggi berambut blonde. Keduanya tersenyum lebar ke arah kamera. Jeff menyoroti pakaian gadis itu yang sedikit terbuka.

"Dia bukan Allea!" seru Jeff sambil melempar ponsel ke meja.

"Eh, ponsel gue awas rusak!" Riko langsung mengambilnya dan memeriksa keadaannya. Takut ada yang lecet.

"Kenapa?" tanya Raka pada Jeff.

Pemuda itu bersedekap. "Mereka cuma mirip. Allea tidak suka berpakaian terbuka."

"Coba gue lihat!" Raka mengambil alih ponsel itu.

Ia melihat foto yang barusan di lihat Jeff. Terdiam menatapnya. Ada perasaan aneh ketika melihat dua orang di dalam foto tersebut. Padahal belum tentu itu Allea.

"Memang mirip, sih! Tapi ...." Raka ragu mengatakannya. Otaknya berkata itu bukan Allea, tapi hati kecilnya berkata bahwa dia adalah sahabatnya.

"Sini." Riko merebut ponselnya, "gue yakin ini Allea."

Riko membuka story akun itu. Sebuah video pendek di dalam kelas. Seorang siswa laki-laki tertidur di bangkunya dan diganggu oleh siswa lainnya. Sang pembuat video tertawa melihat kelakuan teman sekelasnya.

"Suara tawanya aja mirip Allea."

"Kebetulan aja!" sergah Jeff.

"Ga mungkin sekedar kebetulan. Kan, Raka?" tanyanya meminta dukungan.

"Entahlah."

Decakan kasar Riko terdengar, karena tidak ada yang sependapat dengannya. Ia memperhatikan fotonya seksama, sangat yakin bahwa itu Allea. Meski gayanya berbeda, tapi feeling-nya kuat. Sebuah ide muncul di otaknya. Ia mengetikan sesuatu.

"Gue udah DM dia."

Riko memamerkannya pada dua orang di depannya. Jeff tidak peduli. Keputusannya sudah bulat, orang itu bukan Allea yang dikenalnya.

Raka mengernyit melihat layar ponsel Riko.

"Astaga, kenapa ngga basa-basi dulu. Malah langsung nanya 'lo Allea, kan??' apalagi pakai bahasa Indonesia. Kenapa ngga DM pakai bahasa Inggris? Gimana kalau dia bukan Allea?"

"Sudah terlanjur. Pasti dibalas, kok. Apalagi dia lagi aktif."

Keyakinan Riko sudah seratus persen. Tidak mungkin jika hanya kebetulan semata. Meski tidak selama Raka dan Jeff bersahabat dengannya, tapi instingnya lumayan kuat.

"Dia pasti Alleaku!" ungkapnya yakin.

"Dih, Allea bisa muntah kalau tau lo nyebut dia begitu." Raka berusaha sedikit bercanda.

"Ga usah banyak berharap! Dia sendiri bilang tidak akan kembali. Di juga pergi tanpa berpamitan baik-baik. Cewek egois kayak dia ngapain dipikirin."

Perkataan Jeff membuat Raka dan Riko saling pandang. Suasana jadi canggung karenanya. Mereka saling diam cukup lama. Jeff kembali membaca bukunya, Raka memilih merenung, dan Riko tetap bersikeras mengharap balasan akun itu.

"Lah, kok gini?" pekiknya memecah keheningan.

"Lo kenapa, Rik?"

Riko menunjukan layar ponselnya pada Raka dengan wajah cemberut.

"Pfftt ... haha, makanya jangan sok akrab. Di blokirkan. Dia pasti risih lo kirim DM ga jelas. Seharusnya lo say hi pakai bahasa Inggris."

"Soalnya gue yakin dia Allea."

Raka berdiri mendekat ke kursi Riko dan menarik kerah bajunya menuju keluar perpustakaan. Tidak mau membuat Jeff semakin kesal dengan pembahasan tentang Allea.

"Mending urusin tim futsal lo! Banyak laporan kalau mereka suka nongkrong di tangga dan gangguin murid cewek yang lewat," gerutu Raka kesal.

"Terserah mereka, lah. Bukan urusan gue."

"Pantas saja mereka begitu, ketuanya lo, sih. Sama-sama susah diatur."

Mereka berdua berdebat, tak ada yang mau mengalah. Jeff memandangi kepergian mereka. Ia menghela nafas panjang. Kemudian mengeluarkan ponsel dari saku dan membuka aplikasi Instagram.


















FEARFUL (End) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang