"Kehilangan orang tua akan menjadi penyesalan terbesar saat semasa hidup mereka kita tak berbakti pada keduanya."
~FEARFUL~
•••
Deretan karangan bunga ucapan berbela sungkawa berjejer rapi di dekat pintu masuk. Para pelayat sudah mulai meninggalkan rumah duka setelah pemakaman selesai.
Gadis remaja yang sejak kemarin tidak henti menangis terlihat duduk di sofa ruang keluarga seorang diri. Duduk di sofa sambil memeluk kedua lututnya dan wajah di sembunyikan menggunakan kerudung hitam yang menutupi rambutnya. Suara isak tangis tertahan terdengar pilu.
"Allea sayang!" Panggilan seseorang membuat gadis itu mendongak menatapnya.
Seorang wanita tua yang merupakan nenek Allea terlihat tidak kalah sedih. Sang nenek duduk di samping cucunya sambil mengelus kepalanya lembut.
"Oma tau ini pasti berat buat kamu, tapi kamu harus tetap makan. Kamu belum makan dari kemarin. Oma ambilin makanan?"
Allea menggeleng. Rasanya tidak nafsu makan saat dua orang paling disayanginya pergi begitu cepat secara bersamaan. Dunianya seakan hancur lebur.
"Kamu harus perhatiin kesehatanmu, Lea. Ingat, ada adik kamu yang harus kamu jaga," ucap Oma mengingatkan.
Gadis itu langsung duduk tegak saat mengingat adiknya. Ia bahkan belum berbicara pada adik laki-lakinya setelah kematian orang tua mereka. Allea terlalu fokus pada dukanya sendiri. Sampai tidak ingat adiknya butuh lebih banyak dukungan daripada dirinya sendiri.
"Jevan mana, Oma?"
"Adikmu ada di belakang rumah bareng teman-teman kamu."
Gadis itu bangkit dari duduknya berniat menemui adiknya.
Sesampainya di belakang rumah, ia melihat adiknya sedang duduk di ayunan taman. Anak itu begitu murung. Raka dan Riko berusaha menghiburnya, sedangkan Jeff diam mengawasi mereka.
"Kakak!" teriak Jevan saat melihat Allea mendekat.
Anak kecil itu berlari memeluk kakaknya. Ia mendongak menatap wajah Allea. "Mata kakak merah terus bengkak juga."
Allea diam tak tahu harus menjawab apa.
"Kak Lea, aku kangen ayah sama mama!" Belum cukup sehari kepergian orang tua mereka, Jevan sudah merindukan keduanya.
"Maafin kakak! Kakak egois karena ga perhatiin kamu."
"Jevan yang harusnya perhatiin dan jagain Kak Lea karena Jevan anak laki-laki," ucapnya berusaha kuat.
Mata Allea berkaca-kaca, tapi dirinya berusaha menahannya agar air matanya tidak jatuh di depan adiknya satu-satunya.
"Kamu sudah makan?"
Jevan menggeleng.
"Sana masuk rumah, makan yang banyak supaya cepat gede."
"Kak Lea gimana?"
"Nanti kakak nyusul!"
Saat Jevan sudah masuk ke dalam rumah, tangisan Allea kembali luruh. Sejak tadi berusaha menahannya agar adiknya tidak ikut bersedih. Gadis itu berjongkok lalu menarik rambutnya frustasi sambil memukul kepalanya sendiri.
Ketiga sahabatnya yang melihat itu segera menghentikannya dan menahan tangan gadis itu.
"Lea, apa yang lo lakukan?" Jeff bertanya dengan nada tinggi.
Gadis itu memberontak ingin memukul diri sendiri lagi, tapi kedua tangannya di pegangi Raka dan Riko.
"Jangan menyakiti diri sendiri!" bentak Jeff kesal.
"Gue emang bego!" ucap Allea pada diri sendiri.
Raka ikut berjongkok memeluk gadis itu. "Lea, tenangkan diri!"
Bukannya tenang, gadis itu malah semakin menjadi-jadi. Menangis kencang dan memberontak minta dilepas.
"G-gue nyesel ... selama ini gue kehilangan banyak moment penting ... bersama orang tua gue. Saat keluarga gue lagi quality time ... gue malah milih mendekam di kamar."
Jeff mengusap puncak kepala Allea, "gaada gunanya menyesali yang sudah terjadi."
Allea melepaskan pelukan Raka, "gue benci diri sendiri. Saat orang tua gue ngajak keluar jalan-jalan, gue pasti nolak. S-sekarang ... semua itu ga akan terjadi lagi. Seharusnya gue bisa menghabiskan banyak waktu dengan orang tua, tapi gue malah menjauh dari mereka."
Selama ini, Allea memang terkesan menjauh dari keluarganya sendiri. Saat hari libur, kedua orang tuanya selalu mengajak anak-anaknya berlibur ataupun quality time bersama. Namun, Allea selalu punya alasan untuk menolak.
Gadis itu terus menangis dan sesekali menjambak rambut atau memukuli kepalanya, membuat sahabatnya kembali sigap menahan.
"Kak Lea dipanggil Oma!" teriakan Jevan terdengar dari pintu belakang.
Allea seketika berdiri mengusap pipi untuk menghilangkan bekas air matanya agar tidak terlalu kentara jika sedang menangis.
"Aku masuk ke dalam rumah dulu!"
Langkah pelan gadis itu meninggalkan tiga pemuda yang ikut terpukul dengan keadaan sahabat mereka yang menderita.
Kedatangan Allea di ruang tengah membuat pembicaraan keluarga besarnya seketika berhenti. Ia memilih duduk di dekat neneknya. Tatapan orang-orang yang ada di sana seketika mengarah padanya. Ada yang menatapnya kasihan, tapi lebih banyak yang terlihat sinis menatap tidak suka.
"Baru mau ikut kumpul setelah orang tuanya meninggal. Dasar anak jaman sekarang!" sindir salah satu Tante Allea.
Mata Allea yang awalnya mulai mengering, kembali basah mendengar sindiran menyakitkan itu.
"Jamilah, jangan bicara sembarangan di situasi duka seperti ini!" Oma menegur anaknya itu.
Allea mengedarkan pandangan menatap orang-orang di sekitarnya. Mereka adalah keluarga besar dari pihak ayah, sedangkan dari pihak ibunya sudah banyak yang pulang.
"Kita berkumpul di sini untuk membicarakan nasib Allea dan Jevan ke depannya. Mama mau keduanya tinggal dengan mama. Bagaimana menurut kalian?" tanya Oma pada anak-anaknya.
"Aku ga setuju! Di rumah kan sudah ada aku dan anak-anakku. Nanti ribet kalau tambah banyak yang tinggal bareng kita, ma." Jamilah protes karena tidak ingin berbagi tempat dengan keponakan yang tidak disukainya.
"Biar mereka tinggal denganku!" timpal salah satu paman Allea yang merupakan polisi. "Aku akan mendidiknya dengan tegas supaya mereka tidak jadi anak manja."
"Aku setuju dengan kakak. Mama sudah tua, pasti akan kecapean kalau mengurus mereka berdua."
Allea menggeleng tidak setuju mendengar pembicaraan mereka. "A-aku tidak akan meninggalkan rumah ini!" Suaranya terdengar bergetar menahan tangis.
"Memangnya kamu bisa tinggal berdua dengan adikmu? Warisan orang tuamu baru bisa diambil saat kamu berusia dua puluh tahun. Siapa yang akan menanggung hidupmu?"
"Aku akan bekerja!"
Paman dan bibi Allea menentang keputusan gadis ibu. Bahkan terkesan meremehkannya. Mereka terang-terangan berbisik di depannya.
"Kerja apa? Lulus SMA aja belum. Mau open BO?" celetuk tante Jamilah kasar.
"Jaga ucapanmu, Jamilah!" Oma mulai kehabisan kesabaran.
Jamilah sangat tidak menyukai keponakannya itu. Hubungannya dengan kedua orang tua gadis itu juga tidak baik. Makanya ia tidak segan menyindir Allea.
"Jika tidak ada lagi yang mau dibicarakan, sebaiknya kalian pulang!"
Kalimat allea yang bernada usiran itu membuat keluarga besarnya syok dan tidak terima.
"Anak anti sosial dan gak bisa bergaul kayak kamu memang cuma bisa jadi beban. Makanya orang tua kamu pergi lebih cepat."
"Cukup, Anda keterlaluan!" teriak Allea tak terima.
Ia pergi dari sana menuju kamarnya dengan tangis yang pecah untuk kesekian kalinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
FEARFUL (End)
Teen FictionAlleana Zanara dan segala permasalahan sosialnya. Si gadis pendiam, introvert, dan cenderung antisosial. Perpaduan sempurna yang membuatnya kesulitan bersosialisasi. Hidupnya berjalan monoton, nyaris tanpa warna. Beruntung, ia masih memiliki sahabat...
