"Aku tidur bukan hanya untuk melepas kantuk, tapi juga untuk melupakan beban pikiran, walau hanya sejenak."
~FEARFUL~
•••
Bunyi sepatu menggema saat Allea menuruni tangga. Gadis cantik itu mengedarkan pandangan menyusuri rumah yang sepi. Dulu saat pagi sebelum berangkat sekolah, rumahnya pasti ribut oleh teriakan mamanya. Suara omelannya terngiang di kepalanya
"Lea, ayo sarapan!"
Oma Sarah menghampiri cucunya yang termenung di ujung tangga. Ia merangkul dan mengajaknya ke ruang makan.
"Selamat pagi, Allea!"
Kening gadis itu mengernyit saat melihat Jamilah duduk di kursi makan bersama Jevan yang sudah siap dengan seragam sekolahnya. Wanita itu memang sering datang ke sini sejak Oma Sarah tinggal bersamanya. Namun, tak biasanya datang sepagi ini.
Allea duduk sambil melirik canggung bibinya. Merasa Aneh dengan Jamilah yang tersenyum ramah padanya.
"Bagaimana pekerjaanmu, Allea?" tanya Jamilah sambil menyendokan makanan ke mulutnya.
Allea beku sejenak saat mendengar pertanyaan bibinya. "Lancar," jawabnya seadanya.
"Ayo cepat makan. Nanti ada yang mau Tante bahas sama kamu," ucapnya berperilaku seperti tuan rumah.
Allea menurut dan memulai sarapan pagi yang sudah disiapkan. Tidak ada lagi pembicaraan di meja makan hingga mereka berempat selesai makan. Saat Allea berniat bangkit mengumpulkan piring kotor, Jamilah menahannya.
"Biar Bi Inah aja yang beresin! Tante mau bicara sesuatu sama kamu," ucapnya sembari menarik Allea kembali duduk. "Jevan, sana pakai sepatu! Biar nanti tante yang antar kamu sekolah."
Bocah itu segera pergi saat mendengar perintah Jamilah. Allea melirik nenek yang jadi lebih banyak diam, tidak seperti biasanya.
Jamilah menggeser tempat duduk mendekat pada keponakannya. "Setelah kepergian orang tuamu, yang kamu punya sekarang hanya Oma, Tante dan juga anggota keluarga yang lainnya."
Tangan gadis itu digenggam Jamilah dengan lembut. Allea sampai kebingungan melihat tingkahnya yang tidak seperti biasanya.
"Anggap saja tante sebagai pengganti mamamu yang sudah pergi. Tante akan membantu Oma menjaga dan menyayangimu seperti anak sendiri."
Allea melepas genggaman Jamilah dari tangannya. Merasa tak nyaman dengan perlakuan wanita di sampingnya. Entah setan apa yang merasukinya sampai berubah jadi lemah lembut.
"Apa yang mau tante omongin sebenarnya?" Allea bertanya to the point.
Helaan nafas wanita itu terdengar penuh beban.
"Tante mau minta bantuan kamu!"
"Bantuan apa?"
"Em ... Tante mau pinjam uang."
Allea diam sejenak, speechless mendengarnya. Ia melirik nenek yang menghindari kontak mata dengannya.
Jamilah kembali menggenggam tangan Allea, "Ayah kamu 'kan, ninggalin banyak uang tabungan dan juga warisan."
"Terus?!!"
"Tante butuh banget uang saat ini karena usaha tante ada masalah keuangan. Sudah kesana-kemari tante pinjam uang, tapi belum ada yang mau. Mungkin karena mereka memandangku sebelah mata sebagai janda."
Orang tua Allea memang meninggalkan tabungan yang lumayan, tapi ia tidak mengambilnya karena akan digunakan untuk biaya sekolahnya dan Jevan sampai lulus kuliah. Warisan yang berupa rumah, apartment, dan beberapa bidang tanah baru bisa diambil saat usia keduanya sudah legal.
KAMU SEDANG MEMBACA
FEARFUL (End)
Teen FictionAlleana Zanara dan segala permasalahan sosialnya. Si gadis pendiam, introvert, dan cenderung antisosial. Perpaduan sempurna yang membuatnya kesulitan bersosialisasi. Hidupnya berjalan monoton, nyaris tanpa warna. Beruntung, ia masih memiliki sahabat...
