003. Sulit Berteman

1K 74 2
                                        

"Melihat orang banyak saja sudah cukup membuatku lelah, apalagi harus berinteraksi dengan mereka."

~ALLEA~


•••

"Lea!"

Panggilan dari belakang membuat sang empu nama berhenti melangkah. Mendapati Raka berjalan cepat mendekatinya, lalu merangkul pundaknya tanpa beban. Takut siswa lain memperhatikan mereka, Allea melepaskan rangkulannya dengan cepat.

"Kenapa, sih? Takut banget kayaknya dilihat orang lain."

Allea memutar bola mata malas menanggapi ucapannya. Membuat pemuda itu mencubit pipinya. Ia menepis tangan itu dari pipinya, tidak ingin berinteraksi lebih dengannya di depan umum.

Raka berusaha menahannya agar tak pergi.

"Nyokap lo chat gue, katanya motor lo rusak dan nyuruh gue ngantar lo pulang. Gak masalah, kan?" tanyanya meminta persetujuan.

Anggukannya terlihat samar karena Allea langsung melangkah cepat menuju kelas.

Sesampainya di ruang kelas yang sudah ramai, ia duduk di bangkunya sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling. Riuh suara obrolan, candaan maupun tawa terdengar oleh indra pendengaran. Beragam kegiatan terjadi di sekitar saat dirinya hanya diam di tempat.

"Pagi Allea!" sapa Riska yang baru kembali dari kantin bersama beberapa temannya.

Allea mengangguk sebagai jawaban.

Sudah dua bulanan bersekolah, tapi gadis itu masih asing dengan lingkungan sekitar. Belum memiliki teman yang bisa diajaknya mengobrol santai. Lebih banyak menyendiri saat istirahat atau jam kosong.

"Lo sekelompok sama siapa?" tanya Riska setelah duduk di sampingnya.

Pertanyaannya membuat kening Allea menggerut tak paham.

"Lo gak buka grup tadi malam?"

Mulut gadis itu sedikit terbuka, "grup apa?"

"Lah, lo gak masuk grup kelas?" Siswa bernama Caca yang duduk tepat di belakang Allea, ikut bersuara.

Allea menggeleng.

"Tadi malam guru bahasa Indonesia nitip pesan ke ketua kelas, kalau gak bisa masuk Senin depan. Jadi, beliau kasih tugas dan nyuruh kita bikin kelompok yang terdiri dari lima orang perkelompok."

Perhatian Allea seketika tertuju pada empat orang lainnya yang tadi bersama Riska. Yakin jika mereka sudah membentuk kelompok. Ekspresi Allea terlihat biasa saja seakan tidak terlalu peduli, padahal dalam hatinya sudah tidak karuan.

"Sorry, Allea! Gue cuma ngajak Riksa karena kelompok gue kurang satu orang," ucap Caca jadi merasa bersalah.

"Mau gue bantuin cari kelompok?" tawar Riska merasa tak enak hati.

Allea meletakan kepalanya di meja, "gue sendiri aja!"

"Gak bisa gitu, Allea! Tugasnya itu berkelompok," ucap Caca mengingatkan.

"Terserah!"

***

Setelah bel pulang berbunyi, Allea segera membereskan buku-bukunya. Kemudian, keluar kelas menuju parkiran mencari keberadaan pemuda yang berjanji akan mengantarnya pulang. Ia menemukannya sedang menunggu di dekat mobil.

Allea mendekat ke arahnya dengan wajah cemberut.

"Kenapa?" tanya Raka penasaran.

Allea menggeleng dan masuk ke dalam mobil tanpa banyak kata. Diikuti Raka yang duduk di kursi kemudi. Matanya melirik orang di sampingnya yang terlihat tidak mood sejak tadi.

FEARFUL (End) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang