050. Akhir Dan Awal

280 23 6
                                        

"Kadang perpisahan terjadi agar tidak saling menyakiti satu sama lain."

~FEARFUL~

•••

"Itu yang terbaik untuk kamu!"

Netra coklat gadis itu menatap dalam wanita tua yang duduk di dekat tempatnya berbaring. Tidak bisa membantah keputusan yang baru saja disampaikannya.

Oma menggenggam tangan cucunya. "Kamu berhak bahagia dengan kehidupan yang lebih baik."

Allea hanya mengangguk pasrah. Setelah ini kehidupannya mungkin akan berubah total. Entah menjadi lebih baik atau malah lebih buruk.

"Oma, aku mau keluar mencari udara segar di taman rumah sakit," ucapnya penuh harap saat teringat sesuatu.

"Kamu belum sembuh, tubuhmu juga masih lemah."

"Aku mohon! Aku sangat muak berada di ruangan ini!"

Helaan nafas wanita di sampingnya terdengar berat, terpaksa menyetujui keinginannya. Ia keluar meminta izin pada dokter.

Saat neneknya keluar, gadis itu meraih ponsel di nakas dekat tempat tidurnya. Menghidupkan ponsel untuk pertama kalinya setelah kejadiaan naas itu terjadi. Tujuannya langsung tertuju pada grup yang pernah dibuatnya. Tidak ada pesan terbaru di dalamnya. Allea mengetikan beberapa kata yang berisi ajakan untuk bertemu di taman sekarang juga.

Tidak lama setelah itu, Oma Sarah kembali dengan membawa kursi roda. Sebenarnya ia bisa berjalan, tapi nenek memaksanya menggunakannya karena takut ia kelelahan. Oma Sarah mendorongnya dari belakang, sedangkan gadis itu memegangi tiang infus yang digunakannya.

"Oma, bisa tinggalkan aku sendiri?" minta Allea setelah mereka sampai di taman rumah sakit.

"Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?"

"Ada banyak perawat yang berlalu lalang. Mereka pasti akan menolongku jika terjadi sesuatu."

Mau tak mau ia terpaksa menyetujui permintaan cucunya yang keras kepala. Bisa-bisa mereka malah berdebat jika memaksa menemaninya.

Nyeri di kepala membuat Allea memijat pelan keningnya. Nafasnya sesak, tapi ia berusaha menahannya sembari berharap mereka akan datang. Ada ketakutan jika sahabat-sahabatnya tidak mau datang menemuinya karena dia penyebab kecelakaan mereka.

"LEA!"

Teriakan seseorang membuat gadis itu mengangkat pandangan. Senyumnya mengembang melihat Raka berlari ke arahnya, sedangkan Jeff berjalan santai di belakangnya.

"Lea, kenapa sendirian saja disini?" tanya Raka panik sambil berjongkok di depan kursi roda.

"Kenapa ngga ditemani Oma atau suster?" Jeff ikut bersuara.

Pandangan Allea beralih padanya yang baru sampai. Gadis itu tak menjawab, memilih memandangi mereka berdua bergantian. Jika dilihat sekilas, Jeff terlihat sehat dan hanya terdapat beberapa luka goresan di wajah. Nyatanya, ada jahitan panjang di belakang kepala pemuda itu. Sedangkan Raka terdapat perban di dahi, dekat pelipis dan juga di lengannya.

"Riko mana?" tanya Allea saat menyadari pemuda itu tidak ada. "Apa dia baik-baik saja?"

Kedua pemuda di depannya saling pandang sejenak. Bingung harus memberitahunya bagaimana.

"Woi, tega kalian ninggalin gue!!"

Mereka bertiga menoleh ke sumber suara. Seorang pemuda berjalan tertatih dengan tongkat di tangan kanan. Tangan kirinya terbungkus perban dan terdapat sebuah alat penyangga. Kaki kanannya patah, begitu pula dengan tangan kirinya.

FEARFUL (End) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang