Sembilan

2.1K 222 16
                                        

Bagaimana jika kau dipaksa untuk melepaskan apa yang coba kau genggam selama ini? Bukan karena kau ingin, melainkan keadaan yang membuatmu harus belajar mengikhlaskan.

Mungkin itu yang kini tengah Renjun rasakan. Hal yang selama ini coba ia tepis jauh-jauh dari bayang-bayang kehidupan pernikahannya yang masih seumur jagung itu.

Kini, kedua kuasanya bergetar hebat kala ia menemukan sebuah undangan pernikahan yang tertulis nama salah satu calon pengantinnya adalah nama yang selalu ia agung-agungkan sebagai sosok pendamping terhebatnya.

Sosok yang selalu ia andalkan di setiap keadaan, walau mungkin akhir-akhir ini sosok itu seolah asyik dengan dunianya dan seolah bersikap acuh pada dirinya dan sang putra.

Seolah ada petir menyambar tubuh kurusnya di siang bolong, sebersit kehancuran rumah tangganya terlihat begitu nyata di depan matanya kini.

Bukan memergoki sang suami tengah menghabiskan waktu bersama wanita lain, bukan juga tak sengaja membaca pesan romantis antara sang suami dengan wanita lain di ponsel milik dominannya itu.

Namun undangan pernikahan yang secara tak langsung membuatnya tersadar, jika apa yang selama ini coba ia genggam, tanpa sadar mulai terlepas secara perlahan.

Tak ada lagi penjelasan yang Renjun perlukan, semuanya sudah mampu menjelaskan jika tak ada lagi alasan untuknya menahan Jenonya untuk tetap berada disampingnya.

"Renjun.."

"Aku akan segera mengurus surat perceraian kita, kau bisa menikah dengan status lajang dan tak akan membuat calon istrimu dicap sebagai perebut suami orang" Ucap Renjun dengan menahan sesak didada.

Senyum tipis tercetak di bibir si Aries, mencoba menyembunyikan kehancuran hatinya di hadapan Jeno. Walau nyatanya, dari suara bergetar si manis bisa membuat Jeno sangat yakin jika Renjunnya tak baik-baik saja sekarang, dan semua itu karena dirinya yang terlalu lemah jika dihadapkan dengan keselamatan suami dan anaknya.

"Maaf.."

Renjun berdecih, saat hanya satu kata itu yang mampu lelaki Lee itu ucapkan untuknya.

Seperti tak memiliki niat untuk mempertahankan keluarga kecilnya. Pun jika Jeno mau berusaha melakukan itu, apa Renjun akan mau mendengarkan? Tentu saja tidak, kekecewaannya sudah melebihi ambang batasnya. Ia tak akan mau mencoba bertahan sekalipun Jeno bersujud di bawah kakinya.

"Mungkin terdengar seperti alasan, tapi ayahku benar-benar tak pernah mau melepaskanku. Beliau melakukan banyak cara agar aku bisa kembali ke rumah itu. Pekerjaanku terancam, dan mungkin jika aku tak mengalah, ayahku tak akan segan untuk menyentuhmu, dan aku tak ingin hal itu terjadi. Maaf Renjun" Jelas Jeno yang tentu saja tak pernah ingin didengar oleh Renjun.

Brengsek tetaplah brengsek. Jika Jeno memang benar mencintainya, kenapa lelaki itu tidak mencoba untuk mempertahankannya dan menghadapi setiap masalah bersama?

"Hm.. Seharusnya dari awal kau menyerah saja, dan turuti kemauan ayahmu. Jika seperti ini bukan hanya aku saja yang tersakiti, tapi Chenle juga asal kau tau Jeno"

"Maaf Renjun.. Maaf" Rasanya seribu kalipun kata itu keluar dari mulutnya tak akan membuat rasa kecewa Renjun padanya sirna.

"Jangan meminta maaf. Aku melepasmu sekarang, berbahagialah setelah ini, hm?" Renjun berbalik, meninggalkan Jeno yang masih diam tertunduk. Menyembunyikan tangis disana. Tak ingin Renjun tahu, sehancur apa dirinya harus mengambil keputusan ini demi keselamatan si rubah dan si buah hatinya dari ganasnya kedua orang tua kandungnya.

***

Sekali lagi satu helaan nafas berat terhembus dari mulut lelaki februari itu. Sungguh, jika harus menghitung berapa kali lelaki itu menghela nafas dalam sehari, maka Haechan akan segera mengangkat bendera putih. Jika tidak karena rasa iba sebagai orang terdekat Jaehyun, sudah bisa dipastikan lelaki berkulit madu itu sudah paling awal melarikan diri.

ANOTHER CHANCE [JAEREN ft. NOREN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang