[Beberapa hari kemudian]
.
.
.
.
.
.
Pemuda manis itu berjalan dengan beberapa buku di dekapannya menuju kearah perpustakaan. Berniat mengembalikan buku-buku yang sempat dipinjamnya beberapa hari yang lalu. Bukan buku untuk keperluan materi kuliahnya, hanya beberapa novel yang berhasil menyita perhatiannya saat ia pertama kali menjejakkan kaki di tempat yang biasa orang sebut sebagai sumbernya ilmu pengetahuan.
Langkahnya terhenti, saat sekelebat ingatan dimasa lalunya menyergap isi kepalanya. Renjun termangu, dengan ingatan itu. Ingatan dimana dirinya dulu melihat Jeno tengah berciuman dengan seseorang yang tak Renjun kenal, karena posisi tubuh sosok yang menjadi lawan bergulat lidah Jeno yang membelakanginya.
Saat itu, Renjun juga Jeno belum menjalin hubungan. Namun si manis masih bisa mengingat bagaimana hatinya merasakan nyeri saat melihat kejadian itu. Aneh memang, melihat seseorang yang bahkan belum memiliki ikatan khusus dengannya, namun sudah merasakan bagaimana sakitnya kecemburuan.
Apa kali ini, Renjun akan kembali merasakan kecemburuan seperti dulu, mengingat status mereka yang kini sudah menikah, terlepas dari ketidakjelasan hubungan mereka saat ini?
Renjun menepis semua pikiran buruknya. Belum tentu semua kejadian yang ia lewati kini benar-benar akan mengulang persis seperti kejadian dulu.
Terlebih, pemuda aries itu juga sedikit memiliki keyakinan jika Jeno yang ia temui saat ini adalah Jeno dari masa depan, walaupun belum sepenuhnya yakin. Namun jika benar, maka Jeno tak seharusnya mecium sembarang orang dihadapannya.
Berharap suaminya itu masih mengingat untuk menjaga perasaannya, walaupun hubungan mereka yang kini tengah berada di ujung jurang kehancuran.
Renjun membawa langkah kakinya untuk memasuki perpustakaan itu, namun baru tubuh kecilnya berada di ambang pintu, netranya langsung menangkap adegan dua orang yang tengah bercumbu di sudut ruangan dengan salah satunya adalah Jeno.
Persis. Semuanya berjalan persis seperti kejadian yang ada dalam ingatannya.
Pemuda manis itu beringsut mundur dengan pandangan yang tak bisa teralihkan dari dua sosok yang berhasil membuatnya kembali merasakan sakit hati.
Obsidian cantiknya mengembun, bersamaan dengan genangan air di pelupuk matanya yang bisa sewaktu-waktu luruh. Renjun benar-benar tak menyangka jika lelaki Lee itu kini tengah bercumbu dengan orang lain, padahal keyakinan Renjun mengenai Jeno yang sama-sama mengingat kejadian dimasa depan cukup besar. Namun sekarang? Apa benar jika Jeno kini benar-benar berniat ingin merubah keadaan masa depan diantara mereka?
'Grep'
Sepasang tangan kekar bersarang di dua sisi lengan Renjun membuat lelaki maret itu diam terpaku ketika punggungnya menabrak tubuh seseorang yang belum Renjun ketahui. Sepersekon kemudian, dibaliknya tubuh si manis untuk menghadap kearah sosok itu.
"Mata cantikmu terlalu berharga untuk melihat hal yang tak seharusnya" Ucapnya dengan tersenyum manis. Menatap lekat kearah manik hazel yang lebih kecil.
Renjun menatap lamat lelaki itu. Jaehyun. Kenapa lagi-lagi harus pria itu yang muncul di semua reka adegan masa lalunya bersama Jeno? Seharusnya dulu, mereka tak saling mengenal hingga harus membuat lelaki itu selalu berada di setiap kejadian masa lalunya.
Namun, entah kenapa, perasaan kalutnya ketika melihat Jeno bermesraan dengan sosok lain luntur seketika ketika melihat senyum manis lelaki berlesung pipi itu.
Bak sihir, perasaannya menghangat juga desiran hangat ia rasakan ketika tubuh mereka yang hampir menempel itu berhasil membuat degup jantungnya berdetak tak menentu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANOTHER CHANCE [JAEREN ft. NOREN]
Fanfiction[END] Hanya kesempatan yang diberikan oleh Tuhan kepada mereka untuk merubah atau mempertahankan cerita yang sudah ada. JAEREN ft. NOREN BXB MPREG
![ANOTHER CHANCE [JAEREN ft. NOREN]](https://img.wattpad.com/cover/332662852-64-k497498.jpg)