Chapter 4. Masa Lalu Yang Tak Seharusnya Kuceritakan.

7 2 0
                                    

Pagi pun tiba. Rian membuka matanya dan melihat betapa terangnya sinar mentari pagi kala itu. Ia berpikir bahwa ini akan menjadi hari yang cerah, namun ia teringat dengan janjinya dengan Clarissa tadi malam.

"Ahh ... jadi males," keluh Rian.

Dengan sangat terpaksa, ia beranjak dari tempat tidurnya, dan keluar dari kamarnya. Disana ia melihat Yuuna yang sudah duduk diatas sofa dan sudah menatap layar laptop, ia juga tampak sudah mandi, aroma wanginya pun tercium sampai kehidung Rian.

"R-Rian ... selamat pagi ...," lirih Yuuna.

"Y-ya-selamat pagi, Yuuna ...," balas Rian.

Rian lalu berjalan pelan kearah Yuuna seraya berkata, "Apa yang kamu lakukan pagi-pagi didepan laptop?"

"Ini, aku udah nyari tau beberapa hal, ternyata bahan masakan disini gak jauh beda dari dunia lama ku, ya."

"Kamu ... cepet banget adaptasinya. Gak nyangka sampe bisa searching sendiri."

"Iya kah? Aku rasa ini normal ... lagipula, penjelasan yang diberikan Rian cukup mudah diingat olehku."

"Iya sih. Yaudah, aku mandi dulu, baru nanti ngeringin rambut kamu lagi."

"Siap!"

Rian lalu segera mengambil handuk miliknya, dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Sementara Yuuna, ia sepertinya keasyikan berada didepan layar. Bagaimana tidak? Selama ada internet, kau bisa melakukan apapun. Ditambah, orang seperti Yuuna yang suka belajar, menjadikan laptop sebagai sarana belajar yang sangat sempurna baginya karena mudahnya mendapatkan informasi.

"Oh iya ... Rian bilang, dia belum dapet pekerjaan sama sekali ... coba aku cari pekerjaan digoogle bisa gak ya?" gumam Yuuna.

Rasa penasaran kembali timbul didalam benak Yuuna, karena merasa kasihan dengan Rian ia akhirnya mencari sendiri lowongan pekerjaan untuk Rian bermodalkan ilmu pengetahuan yang Rian kasih kemarin. Sayangnya beberapa menit ia mencari, hasilnya tidak ada. Atau mungkin, Yuuna nya saja yang kurang jauh dalam mencari?

Tak lama, Rian pun selesai dengan mandinya dan segera keluar dari kamar mandi. Dengan bermodalkan handuk yang ia pasang diarea kemaluannya, ia segera masuk kekamar dan segera mengenakan pakaian rapih agar nantinya ia tak perlu repot-repot harus ganti baju lagi untuk bertemu Clara.

Yuuna tentu tidak menyadari keberadaan Rian, dikarenakan matanya fokus menghadap layar laptop. Tanpa ia sadari, Rian tiba-tiba duduk disampingnya dengan membawa hair dryer ditangannya. Ia lalu segera mengeringkan rambut milik Yuuna yang tengah sibuk sendiri, sampai pada akhirnya ia baru menyadari keberadaan Rian yang tengah mengeringkan rambutnya.

"E-eh ... Rian ...!" Dengan segera, Yuuna menutup laptopnya. Rian terkejut, ia lalu bertanya, "Kenapa kamu tutup laptopnya?"

"E-enggak kok-aku cuma, iseng ..."

Rian menghela napas panjang, dengan penuh keheranan ia kembali melanjutkan sesuatu yang sedang ia kerjakan, yaitu mengeringkan rambut Yuuna.

Tak berselang lama, ia akhirnya beres dan segera menaruh kembali hair dryer miliknya diatas meja. Yuuna tampak senang sesaat, sebelum akhirnya kembali melanjutkan kegiatannya didepan laptop.

Rian tidak memperdulikan. Asalkan Yuuna senang, itu sudah cukup baginya. Ia lalu segera mengambil jaket abu-abu miliknya dan memakainya saat itu juga.

Rian lalu berjalan perlahan kearah pintu. Yuuna yang melihatnya tiba-tiba bertanya, "Eh, Rian? Mau kemana?"

"Aku-mau keluar dulu. Mungkin, sekalian beli beberapa bahan masakan biar kamu bisa masak nanti. Jadi, tunggu, ya?"

"Yaudah ..."

My Wife Is From Another WorldTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang