░░░🄷🄰🄿🄿🅈🅁🄴🄰🄳🄸🄽🄶░░░
Hari ini aniversary mereka yang ke 8 bulan, setelah melewati pertengkaran tentang Krist yang ada di club ternama. Akhirnya Singto tau siapa wanita yang dibeli oleh Krist di pelelangan. Wanita itu teman masa kecil Krist, mereka sangat dekatkarena orang tua Mook selalu datang ke rumah Krist. Krist merasa kasihan dengan Mook yang ingin dijual di pelelangan akhirnya kekasihnya itu memutuskan untuk membeli Mook.
Singto kini sedang menunggu ditaman biasa ia menjemput Krist, ia sadar sudah sangat lama tidak melakukan ini. Ia mulai merasa rindu dengan kedekatan mereka saat itu. Kemudian ia melihat sebuah mobil berhenti tak jauh dari tempatnya duduk. Ia tau itu Krist yang diantar oleh bodyguardnya untuk memastikan dengan siapa Krist pergi.
Dari jarak segini Singto dapat melihat betapa menawannya Krist, ya mereka sudah lama tidak pergi berdua seperti ini. Singto yakin kalau rasa yang ia rasakan sekarang adalah rindu.
"P'Sing" Panggil Krist ketika berdiri tepat didepan Singto.
"Selamat pagi Kit" Sapa Singto sambil mengacak-acak rambut Krist.
"Hihihi pagi juga Phi" Balas Krist sambil tersenyum imut.
"Kalau gitu ayo kita pergi" Ujar Singto sambil menggenggam tangan yang sudah lama tak ia genggam.
"Kemana aja kita pergi?" Tanya Singto ketika memasuki mobil.
"Taman bermain" Jawab Krist dengan semangat.
"Oke, sudah itu?" Tanya Singto lagi.
"Gimana kalau kita jalan-jalan di taman pas sore?" Tanya Krist sambil menatap Singto.
"Boleh" Jawab Singto. "Sudah itu aja?" Tanya Singto entah kenapa ia merasa itu sangat singkat.
"Boleh Kit nginap tempat Phi?" Tanya Krist. Membuat Singto langsung menatap pemuda manisnya.
"Boleh dong, masa nggak boleh" Jawab Singto dengan semangat. "Tapi apa nggak ada yang marah?" Tanya Singto.
"Siapa yang marah? Toptap?" Tanya Krist.
"Iya, dia nggak marah?" Tanya Singto lagi.
"Nggak kok, memangnya kenapa Toptap marah? Toptap kan cuman temen Kit" Jawab Krist. Itu membuat Singto tersenyum senang mendengarnya.
Saat sampai ditaman bermain, mereka langsung mencoba berbagai wahana. Singto merasa sangat bahagia, walaupun Krist tidak meminta untuk melakukan hal-hal yang menguras kantongnya tapi ini sangat menyenangkan. Sekarang Singto sadar, betapa ia masih sangat mencintai pemuda manis yang sedang tertawa disebelahnya. Sekarang ia ingat, betapa kerasnya ia mencoba mendapatkan pemuda ini. Sekarang ia ingat dengan degup jantungnya yang masih berdetak kencang ketika bersama Krist.
"Ayo kita makan dulu Kit, sudah itu baru lanjut lagi" Ujar Singto menghentikan Krist yang masih bersemangat mencoba berbagai wahana.
"Iya ayo kita makan dulu Phi" Setuju Krist ketika melihat waktu sudah menunjukkan jam makan siang.
Ya inilah yang paling Singto rindukan, mendengar celotehan Krist ketika makan bersama. Krist akan terus berceloteh tentang apa yang ia makan walaupun Singto tak paham betul dengan apa yang Krist katakan tapi tetap saja ia sangat menikmati ketika mendengar celotehan Krist.
Selesai makan siang, mereka melanjutkan bermain berbagai wahana, suara tawa selalu terdengar ketika mereka selesai menaiki sebuah wahana. Ini juga yang Singto rindukan, suara tawa Krist yang selalu terdengar merdu.
"Sekarang ayo kita ke taman Phi" Ajak Krist sambil menarik tangan Singto berjalan menuju mobil kekasihnya. Singto tak bisa menahan senyum ketika tangannya ditarik lembut oleh Krist.
Selama perjalanan menuju taman yang tak jauh dari apartemennya, Singto selalu mendengar tawa Krist ketika menceritakan hal-hal lucu yang terjadi dirumah pemuda manis itu. Sekarang Singto tak masalah tak ada namanya dalam cerita Krist karena Krist menceritakan semua yang terjadi kepada dirinya.
"Wah ini taman dekat apartemen Phi?" Tanya Krist karena takjub dengan tempat yang ada didekat apartemen kekasihnya.
"Iya bagus kan?" Tanya Singto sambil menggenggam tangan Krist. Lalu berjalan dengan santai, menikmati waktu sore dengan tenang seperti ini.
"Bagus banget" Jawab Krist dengan riang.
Mereka terus berjalan, melihat anak-anak yang berlalu kesana kemari, melihat orang-orang yang berolahraga sore, melihat orang-orang yang berusia senja sedang berjalan sambil menggenggam tangan. Lagi-lagi Singto jatuh ke pesona Krist, dapat Singto lihat betapa riangnya Krist menyapa para lansia yang melihat kearah mereka, Krist dengan manisnya membalas sapaan anak anak.
"Kit, I Love You" Bisik Singto berhasil membuat pipi Krist memerah hingga telinga.
"Love You Too" Balas Krist dengan wajah merah lalu berjalan mendahului Singto.
"Kit" Panggil Singto lalu berlari mengejar Krist yang sudah berjalan cukup jauh.
Mereka berdua berjalan-jalan memutari taman dengan tangan yang bertautan. Singto merasa waktu berjalan terlalu cepat, karena sekarang matahari sudah tenggelam dan digantikan dengan bulan yang sangat cerah.
"Ayo ke apartemen Phi" Ajak Singto sambil menggenggam tangan Krist.
▒▒▒▒▒▒▒▒▒▒▒▒▒▒▒▒▒▒▒▒▒▒▒▒▒▒
"Wah apartemen Phi luas banget" Krust sangat kagum melihat betapa luasnya tempat tinggal kekasihnya.
"Hahaha kamu lucu banget sih" Ujar Singto sambil mencubit pipi Krist.
"Ish P'Sing" Cebik Krist sambil melepaskan tangan Singto dari pipinya.
"Phi mandi dulu" Ujar Singto. Lalu kecurigaan sebuah kecupan dibibir Krist kemudian berlari menuju kamar mandi.
"P'Sing!" Teriak Krist hanya dibalas dengan tawa oleh Singto.
Kemudian Krist berjalan mengelilingi apartemen Singto yang didominasi warna hitam. Sekarang Krist sudah masuk kamar Singto mengamati kamar yang masih didominasi warna hitam. Fokus Krist teralih ketika dering ponselnya berbunyi menandakan sebuah pesan masuk.
-Lakukan Krist, akhiri semuanya hari ini-
Krist menghela napas ketika membaca pesan itu. Entahlah apa benar ini waktu yang tepat? Krist mulai ragu untuk melakukannya.
Ketika keluar dari kamar mandi, Singto dapat melihat Krist tenggelam dalam pikirannya, entah apa yang pemuda manis itu pikirkan hingga seperti itu.
"Kit" Panggil Singto sambil menepuk bahu kekasihnya. Ketika sadar dari pikirannya pandangan Krist langsung terjatuh pada tubuh bagian atas Singto yang tepat didepan wajahnya hal itu berhasil membuat wajah Krist memerah.
"Um P'Sing ada yang mau Kit omongin" Ujar Krist sambil mengalihkan pandangannya dari tubuh Singto.
"Ada apa hum?" Tanya Singto sambil berlutut dihadapan Krist.
"Phi" Lirih Krist, Singto mulai merasakan sesuatu yang tak enak menjalar di dadanya. "Mari kita akhiri hubungan ini" Lanjut Krist dengan wajah yang menunduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Two Faces (END)
Fiksi PenggemarDibalik wajah Krist yang terlihat polos, terdapat wajah lain yang tidak diketahui oleh orang lain termasuk para sahabat dekatnya. *** HOMOPHOBIC DIHARAPKAN MENJAUH!! MENGANDUNG BxB ♂️x♂️ HUBUNGAN SESAMA JENIS JANGAN SAMPAI SALAH LAPAK! SUDAH DIREVIS...
