10. Logam Gelap

7.8K 399 17
                                        


Pintu kamar terbanting. Cahaya koridor menyorot tajam, siluet boot aparat bergerak cepat di lantai kayu. Suara mereka-komando singkat, langkah berat-menggema sampai ke tulang Hanaya.

Sagara menatap sejenak, lalu menempelkan bibirnya di telinga Hanaya, suaranya serak.

"Kamu ikut saya. Diam-ikut saya."

Hanaya mengangguk, tubuhnya sudah kebas karena obat dan kelelahan, tapi matanya masih menyala. Mereka melompat ke jendela kecil di belakang gudang-jalan darurat yang biasa dipakai untuk evakuasi. Sagara membuka jendela, menarik Hanaya; tubuhnya ringkih tapi ia tarik dengan hati-hati, seolah tak ingin merobek sesuatu yang sangat rapuh.

Di luar, hujan deras menutup jejak. Malam memeluk kota dengan suara air. Mereka turun atap, melompat dari talang ke tumpukan kardus, membiarkan tubuhnya jatuh ke tanah yang berlumpur. Di bawah, dua agen pemerintah sudah berbelok ke gang kecil; lampu senter mereka menebar lingkaran terang.

Sagara mendorong Hanaya ke balik deretan kendaraan tua. Napasnya panjang. Tangannya bergetar, bukan karena dingin - tapi karena rasa sakit yang selalu muncul tiap kali Hanaya terluka. Sekejap ia menutup mata, merasakan getar itu seperti kawat yang ditarik dari dalam.

"Jangan teriak. Jangan bergerak lebih cepat dari saya," bisiknya.
Mereka berlari, menyusup di antara pasar malam yang sepi. Hanaya menempel rapat di punggung Sagara, tangannya menggenggam kemeja pria itu sampai kainnya terkikis di antara jari-jarinya. Setiap langkah adalah taruhannya: napasnya berat, kaki hampir tak kuat. Namun ia menolak berhenti.

DOR

DOR

DOR

Di sudut sempit, suara tembakan memecah malam. Kaca pecah di dekat mereka. Seorang aparat menyorotkan senter, matanya menemukan dua bayangan. Sagara melempar tubuhnya di depan Hanaya, mengangkat tangan seperti tameng hidup. Sebuah peluru menghantam bahu kirinya; ia menjerit keras, tapi refleknya lebih cepat-mendorong Hanaya, menuntunnya melintasi gang samping.

Mereka jatuh ke tanah berair. Hanaya menoleh, melihat darah merembes dari balik kemeja Sagara. Wajahnya pucat, tapi matanya tak kehilangan fokus. Ia coba menggeser tangan, ingin merawat, tapi Sagara menahannya.

"Jangan," ucapnya tegas, tapi napasnya tersengal. "Kenapa mereka mengejarku?"

Sagara menyeringai kaku. "Karena kamu adalah Aktivis" Suara itu bercampur rasa sakit dan sesuatu yang lebih lunak - pengakuan yang tak pernah ia ucapkan.


Mereka merayap sampai ke sebuah van tua yang diparkir di pojok gudang. Sagara mendorong pintu belakang-terkunci-dan dengan sisa tenaga ia menendang sampai engselnya copot. Mereka masuk, bersembunyi di dalam kegelapan yang bau oli dan debu.
Hanaya menarik napas, menempel di dada Sagara. Jantung pria itu berdetak kencang; di antara suaranya yang terengah, Hanaya mendengar nada yang selama ini jarang ia dengar: takut. Bukan untuk dirinya sendiri-tetapi takut kehilangan sesuatu yang baru saja ia temukan.

Di luar, suara radio aparat bergeser makin dekat.

"Perimeter bersih. Pengejaran dilanjutkan ke selatan. Tidak ada jejak di utara." Suara itu berlalu, tetapi napas lega yang singkat di dada Sagara tak sepenuhnya hilang. Ia tahu, itu hanya jeda.


Mereka tidak punya banyak waktu. Sagara mencari peta yang tergulung di dashboard-lokasi aman yang disiapkan oleh jaringan bawah tanah. Mereka berencana menuju gudang tua di pinggiran kota, tempat orang-orang seperti Hanaya biasa berlindung.
Sagara menyalakan mesin. Van menyala dengan suara serak, mengelak dan menyusup di antara rintik hujan. Saat mobil bergerak, Hanaya menyandar, menutup mata untuk sesaat. Rasa sakitnya datang, menuntut perhatian; ia menggigit bibir sampai rasa logam mengalir. Sagara meraih perban di tas, membalut bagian yang koyak seadanya. Tangannya kaku, tapi gerakannya cepat, terlatih-perilaku yang hanya dilakukan oleh seseorang yang tak mau kehilangan lagi.

Di jalan kosong, lampu kota membentuk garis-garis samar. Sagara melaju pelan, matanya berkaca. Ia menahan keinginan untuk menoleh ke Hanaya setiap saat-sebab setiap tatapannya membuat rasa sakit itu datang lebih kuat. Tetapi ada satu hal yang sudah jelas: setiap kali Hanaya mendesak napas, ia juga ikut merasakan sesuatu yang patah di dalam dirinya.

"Darimana kamu tau?" tanya Hanaya lirih.
"Semua orang juga tau"Sagara menahan napas, jarinya mengetat di setir. "Karena kamu adalah gadis Paling vokal di Demo kemarin" jawabnya.

"Tapi..."

Mereka meluncur ke dalam malam, menuju sebuah gudang yang beraroma oli dan roti basi-markas sementara para aktivis. Di pintu masuk, wajah-wajah yang lelah menyambut mereka, beberapa memaki Sagara, beberapa hanya memandang curiga. Hanaya dibawa masuk ke ruangan kecil yang remang; Gadis itu pingsan setelah menahan rasa sakit pada bahu dan kambuhnya penyakit yang tak kunjung diobati.

Seorang wanita tua menutupinya selimut tipis dan meletakkan cangkir hangat di genggaman tangannya.
Di sudut, Sagara berdiri sendiri, menutup tubuhnya agar tidak terlihat lemah. Darah di bahunya meresap hangat ke kain, bau logam yang menusuk. Ia menatap Hanaya-yang kini tertidur sejenak, napasnya berat-dan sesuatu di dadanya retak.
Langit di luar mulai terang, jam menujukkan awal pagi. Mereka berhasil lolos untuk sekarang. Tapi di antara bisik-bisik kecil para aktivis, satu nama terus berulang: euthanasia. Sebuah surat edaran baru yang membuat semua raut wajah berubah pucat.

Sagara menepuk pelan punggung tubuhnya sendiri, seperti memberi aba-aba. "Kita belum aman," gumamnya. "Ini baru permulaan."
Di ranjang sempit itu, Hanaya terbangun sebentar, matanya menemukan Sagara.

Ia tersenyum, lemah tapi tulus. "Terimakasih pangeran berkuda putih, maaf membuat kamu merasakan sakit untuk kesekian kali"

Sagara malah mengangkat satu sudut bibirnya. "Lebih baik merasakan sakit jutaan kali daripada melihat kamu mati"

Hanaya menggenggam tangannya-lebih kuat dari sebelumnya-seakan untuk menegaskan janji yang tak pernah diucapkan. Di luar gudang, hujan reda, tapi di langit ada awan hitam yang bergerak cepat. Waktu 100 hari masih jauh dari habis. Dan setiap detik membawa bahaya yang lebih dekat.

"Bahunya?.... pasti sakit sekali" Tanya Hanaya khawatir. Menatap pada bahu Sagara yang terbalut perban. Pria itu lantas mengusap wajah Hanaya, lebih tepatnya menutup kedua mata gadis lemah itu agar kembali tidur.

"Ini hanya luka tembak biasa" jawab Sagara. Si penembak jitu yang sudah berteman akrab dengan peluru.

"Yang terpenting bagi saya sekarang adalah keselamatan kamu, hanya itu" Katanya menggenggam tangan dingin Hanaya. Netra binar itu pun perlahan menutup kala atmosfernya dilanda rasa aman.

Sedangkan Sagara. Terus terjaga semalaman. Memastikan jika tulang rusuknya tetap bernafas, tanpa henti.

_____

BLOOM IN ASHESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang