Di hari ke 10 setelah surat perintah Euthanasia miliknya diterbitkan. Dan sehari setelah namanya masuk daftar pasien menuju kematian. Hanaya tetap melanjutkan hidupnya, dengan kaki yang mulai normal namun cukup ngilu. Dan luka tembak yang harus kembali diobati.
Seperti biasa, gadis itu mengajar pelajaran dasar. Seperti berhitung dan membaca untuk para muridnya dengan begitu ceria. Bahkan nyanyian balonku ada 5, abcd hingga burung kakak tua terdengar merdu. Membuka jalan kreasi untuk para anak murid.
Semua warga sekolah. Terutama rekan-rekan guru Hanaya yang mendengar nama gadis itu disebut tadi malam tak bisa berhenti melayangkan tatapan sendu. Cinta bahkan tak menyapa ataupun berbicara dengan Hanaya sejak pagi. Bukan karena marah, tapi karena tak sanggup melihat wajah sahabatnya yag pura-pura kuat.
"Jangan cape-cape Nay" Tegur Bu Anita. Guru TK besar pada Hanaya sambil memberikan segelas teh hangat pada Hanaya disela kesibukan gadis itu merekap nilai.
"Gak cape kok Bu Anita. Naya justru seneng bisa ketemu anak-anak"
Cinta semakin menggigit bibir mendengar jawaban sang sahabat kecil dari sudut meja guru belakang Hanaya.
"Naya mulai besok ngajarnya setengah hari aja ya?" Ujar guru bahasa inggris. Bu Anggi ikut nimbrung pada meja Hanaya yang dipenuhi tumpukan buku.
"Gausah gapapa, Naya masih bisa berdiri kok" Katanya terkekeh kecil.
"Nay, kenapa Naya gak cerita kalau sakit?" Suara Pa Derry selaku wakil kepala sekolah pada Hanaya hingga membuat gadis itu sedikit menengadah.
"Iya Nay, tau gitu gue ganti jadwal lo biar part time aja kaya Cinta. Biar lo juga bisa fokus pengobatan" ujar Bu Anggi.
"Dari kapan Nay?..... kenapa kita baru tau sekarang?" Tanya bu Anita. Suaranya begitu lirih sekaligus tak menyangka.
"Udah lama cuman, baru kerasa parahnya sekarang" jawab Hanaya santai.
"Jadi, Siaran radio itu gak salah kan Nay? Naya sakit tapi Naya nyembunyiin semua hal ini sama kita?"
"Kenapa Naya baru kasih tau, saat waktu Naya gak lama lagi?"
"Naya gak sayang sama Kak Anggi dan yang lain ya?"
Hanaya ingin menangis saat suara orang-orang tersayangnya kiat bersahutan. Gadis dengan netra binar itu perlahan kehilangan sinarnya. Ia hanya sanggup menunduk menahan air mata agar tak kembali menangis. Ia sudah berjanji untuk lebih kuat dari biasanya. Ia tidak ingin menjadi orang yang putus asa.
"Naya rasa penyakit Naya bukan hal penting" jawabnya tersenyum paksa. Berusaha terlihat baik-baik saja.
"Lagipula, tanpa Euthanasia Naya akan mati juga kan? Sama aja, cuman bedanya ada di waktu. Kalau tuhan yang menentukan, Naya gak ada persiapan" lanjutnya tegar.
"Kalau ada edaran kaya gini.... Naya jadi tau apa yang harus Naya persiapkan sebelum pergi"
"Kaya banyak ngobrol sama Bunda, sama kalian terus sama semua orang yang Naya sayang"
Suara helaan nafas normal perlahan berganti menjadi isakan tipis. Pa Derry wakil kepala sekolah melepas kacamatanya, mengelap matanya yang berair. Bu Anggi dan Bu Anita bahkan sampai mengusap air mata mereka sendiri. Sambil mengusap tangan Hanaya yang kurus. Mereka semua berusaha menahan tangis. Bu Anggi bahkan tak bisa menyembunyikan isakannya hingga kepalanya jatuh diatas meja Hanaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BLOOM IN ASHES
RomanceRomance politic. Setelah terlibat aksi pemberontakan. Hanaya Asmaranala resmi dikurung di sel isolasi. Namanya sebagai putri aktivis kontroversial membuat gadis itu terpaksa tunduk dibawah kekuasaan Kapten Sagara Mahardikara. Putra bungsu presiden...
