7. Rasa yang Sama

8K 401 24
                                        

Diseperkian detik nafas yang berhembus. Goesan pelan tak bertenaga menjadi alur perjalanan. Hanaya memandang kedepan dimana para masyarakat berjalan kaki menenteng kantong belanja berisi sayur. Para pedagang kaki lima menggoreng jajanan ramah harga. Para toko kelontong mulai buka, menyambut pembeli dengan syukur.

Pemandangan pinggir kota yang cukup hangat. Semua berinteraksi penuh semangat. Menyambut pagi hari. Dari sekilas yang ia nikmati sebagian kecil merasa hidup sampai saat ini adalah sebuah keajaiban yag patut disyukuri.

Tapi disisi sebagian lain ada yang merasa kembali bangun hari ini. Merupakan ujian yang harus dilewati. Bangun untuk bekerja, membangun hidup lebih baik lewat pekerjaan yang monoton. Tak ada ruang untuk berkreasi, hingga mereka harus berlindung dalam cangkang ketidak adilan.

Dulu Hanaya selalu berpikir. Apa sih alasan ia hidup?

Kenapa semesta menahan Hanaya dalam dunia dimana ia akan mati lebih cepat dari mereka?

Hingga ia masuk perguruan tinggi. Belajar untuk menjadi guru sekolah dasar. Masuk ke dalamnya dengan tekad untuk membantu anak negri.

Sebagai bentuk hiburan dari rasa sakit. Kanker paru-paru yang semakin menggerogoti dirinya mungkin takkan sembuh. Tapi setidaknya disisa waktunya. Ia bisa bermain sebentar dengan anak-anak yang bertumbuh. Mengajari mereka membaca, menulis bahkan berbicara dengan jelas.

Tawa anak-anak itu layaknya surga. Mereka yang bersih tanpa dosa. Dan Hanaya selalu mensyukurinya.

Menjadi guru. Bukan sekedar impian. Tapi juga terapi untuknya agar tak berlarut dalam sedih.

"Anak-anak hari ini kita senam pagi ya!"

"Sambil olah raga sambil menari"

"Ikuti gerakan ibu guru ya...."

"Ayoo semangat!..."

Suara lantunan musik anak-anak menjadi pembuka. Para anak berusia 4-5 tahun berbaris rapi. Mulai menggerakan tubuhnya mengikuti irama lagu dan gerakan sang guru. Sorakan ceria para guru yang bertugas menjadi penyemangat. Badan mereka berputar, kedua tangan gerak pelan seperti mengangkat beban. Kepala menoleh ke kanan dan kiri bergantian. Jalan ditempat, melompat-lompat kecil hingga berkeringat.

Suara tawa yang ceria seolah mereka adalah pusat dunia.

Sagara. Tidak pernah ingat masa sekolah dasar. Selain pembelajaran baca tulis dari guru privat sang ayah. Hingga di hari kesekian ia memata-matai target. Ia mendapat sebuah interaksi baru selain menembak dan menyayat daging. Yaitu bernyanyi bersama anak kecil.

Ada perasaan hangat pada relungnya yang kosong. Hanaya tertawa disana, sambil memegang kedua sisi tangan anak-anak muridnya. Bernyanyi sambil berputar membentuk lingkaran besar lalu lingkaran kecil. Anak-anak terlihat enjoy, menikmati pagi hari mereka.

"Jadi, ini dunia kamu Hanaya?"

Sepanjang hidup Sagara tidak pernah menyangka akan bersoulmate dengan gadis yang penuh kasih sayang. Ruang hangat dan lingkungan sehat gadis itu membuat Sagara semakin ragu akan langkahnya yang tragis. Jika boleh mengganti target, mungkin untuk pertama kalinya Sagara akan memilih untuk mundur. Dan mendapat pukulan.

_____

Diwaktu pulang pukul 12 siang. Hanaya mendorong sepedanya menyusuri jalan raya. Bukan karena lelah menggoes tapi karena banyak massa yang berlalu lalang. Tengah hari adalah waktu para anak sekolah dasar dan menengah pulang kerumah. Jadi jika ia tetap menggoes sepedanya walau dengan kekuatan pelan, takutnya akan menubruk atau menabrak para anak karena jalanan mereka yang tidak luas.

Hanaya tersenyum kecil saat beberapa muridnya yang berjalan kearah sekolah ia jumpai. Suara sapaan hangat dan senyum ceria ia lontarkan. Gadis itu pulang dalam perasaan senang. Bukan merana ataupun lelah, mengajar membuat Hanaya merasa dua kali hidup lebih lama.

BLOOM IN ASHESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang