Romance politic.
Setelah terlibat aksi pemberontakan. Hanaya Asmaranala resmi dikurung di sel isolasi. Namanya sebagai putri aktivis kontroversial membuat gadis itu terpaksa tunduk dibawah kekuasaan Kapten Sagara Mahardikara. Putra bungsu presiden...
Teriakan nyaring seorang wanita yang tengah berangkat melewati jembatan utama menuju pasar. Satu jasad dengan tangan terikat kebelakang, dalam kondisi membusuk dan berbau tajam diletakan begitu saja di tengah jalan jembatan utama. Pagi itu tak ada anggota militer yang berjaga, orang-orang datang mengerubungi. Menutup hidung terganggu dengan keberadaan mayat tersebut.
Baju lusuhnya tak terlepas. Tapi noda darah mengering dimana-mana. Ibu itu pingsan setelah melihatnya, hampir 30 orang mengerubungi lokasi. Meminta bantuan polisi dengan tubuh bergetar ketakutan. Beberapa ada yang menjauh, mundur melihat kondisi jasad itu yang penuh luka tembak sedangkan Wartawan mulai berdatangan. Memotret Jasad itu untuk berita terbaru begitupun para aparat yang mengawali kasus ini. Mulai mengidentifikasi.
Ambulan datang, sirine nya meramaikan area jembatan. Menciptakan sedikit kemacetan.
"Jasad Jagat Dierja"
"Iya itu pak Jagat"
"Ya Tuhan saya masih ingat wajahnya. Mirip sekali"
"Walau setengah membusuk tapi itu benar-benar Jagat Dierja"
"Baru pertama kali ada kasus seperti ini. Melibatkan aktivis lagi"
"Pantas saja koran pagi pembahasannya mulai sepi"
"Aktivis sudah mulai dibungkam, nasib kita kian suram"
"Udah gue bilang, jangan terlalu vokal. Pemerintah gak suka"
"Yaelah, pemerintah emang gak pernah suka kalau kita pintar. Mereka sukanya kalau kita bodoh dan gak menuntut sana sini"
"Hush kalau kedenger besok nasibmu akan sama seperti Jagat Dierja, loh"
Bisik-bisik rakyat kecil mulai mengganggu. Ardhana Mahardikara datang sebagai Komandan operasi yang menghandle masalah ini. Dua petugas medis membawa jasad tersebut dengan kantong Jenazah lalu memasukannya ke dalam mobil. Beberapa anggota pro rakyat terlihat ikut berada di sana, melihat dengan langsung panutan Organisasi yang kini terbujur kaku tanpa nyawa. Diaz, masih dengan almamater kampusnya berdiri dengan kaki bergetar. Tangannya mengepal erat dan langsung berlari ke arah yang berlawanan.
"DIAZ!!"
Teman-temannya memanggil. Tapi Diaz tak berbalik. Lelaki itu terus berlari menuju Markas tersembunyi. Ada yang harus mereka bereskan hari ini.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari ini
"Jagat Dierja Menghilang" ucap aparat 1 di kursi khusus sipir berjaga. Penjara mulai hidup, suara para tawanan saling bersahutan. Koran pagi dibagikan, semua orang di lembaga pertahanan mulai sibuk menggali topik. Yang kali ini cukup panas dan menarik.