6. Api Kemarahan

7.7K 348 4
                                        


Dimanakah Keadilan itu?

Dibawah kolong jembatan?
Diperut orang yang kelaparan.
Atau diatas rumah tak beratap?

Dimanakah Keadilan wahai sang dewi adil?

Apakah keadilan hanyalah sebuah Fiksi? Kita semua lahir dari seorang wanita. Ditempat yang disebut dunia. Tapi kenapa ada strata? Kenapa ada kelas dikala semua menginjak tanah yang sama?

Langit kata mereka adalah tempat turun hujan. Tapi bagi beberapa lainnya, Langit adalah mereka yang bermulut pahit. Suka meninggi tapi tak sadar diri. Sampai akhirnya jatuh di kaki sendiri.

Suara televisi berwarna pucat. Namun api berkobar dengan berani. Merahnya menggambarkan rakyat yang murka, air tak mampu melawan. Pusat militer terbakar kemarahan rakyat.

Inara Arunika berdiri menonton siaran televisi disaluran nomor 15. Mempertontonkan sebuah drama yang sudah ditunggu lama. Kantor kepolisian Kartabhumi dibakar habis oleh penyusup. Yang entah bagaimana bisa menembus pagar perlindungan sang istana tirani.

Inara memeluk selimut yang baru saya ia lipat sambil menatap kearah jam dinding yang tergantung. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Suara Jam Malam mulai terdengar nyaring tapi putrinya sama sekali belum kembali.

Wanita paruh baya itu segera melangkah kearah jendela saat suara gerak jalan para tentara yang berjaga terdengar. Wanita itu mengigit kukunya gusar. Hanya bisa berharap putrinya baik-baik saja diluar sana.

"Aduh gak tenang" baru saja ia meraih gagang telpon untuk menghubungi Cinta. Rekan Hanaya suara mobil berhenti didepan pagar membuatnya langsung berlari keluar. Mengabaikan Gagang telpon jatuh kebawah.

Wanita itu membuka pintunya cepat. Terlihat Hanaya keluar dari mobil hitam berplat abu dipapah oleh pria tinggi dengan rahang tegang dan netra sayu yang kini membantu putrinya untuk melangkah masuk.

"Astaga nak.... anak ibu kamu baik-baik saja sayang?" Katanya panik meraih tangan Hanaya untuk meraihnya. Kemudian memeluk pundak sang putri yang memberat. Wajahnya pucat tapi berusaha terlihat sehat.

"Hanaya sakit, tadi dia batuk sepanjang jalan" Hanaya menatap Sagara sambil menggeleng untuk tidak berbicara pada ibu. Namun terlambat, ibu sudah memegang kedua sisi wajahnya sambil menahan tangis.

"Ya tuhan putri ibu. Pasti kamu telat minum obat kan? Sudah masuk sekarang..... masuk nak" Ibu mempersilahkan Sagara untuk ikut masuk kedalam rumah mereka. Hanaya pun hanya pasrah, tak bisa melawan sang ibu.

"Ibu kan sudah bilang, pulang kerja itu jangan kelayapan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Ibu kan sudah bilang, pulang kerja itu jangan kelayapan. Batuk kamu itu efek dari kecapean...."

"Engga kok bu ini alergi debu aja. Udara luar kan lagi gersang, banyak pasirnya. Tenggorokan jadi sering kering tapi Hanaya jarang minum air"

"Alesan aja kamu tuh!" Ibu mencubit pipi Hanaya gemas sekaligus jengkel. Sagara yang dipersilahkan duduk dengan secangkir teh putih khas Kartabhumi itu hanya mampu menyaksikan interaksi keluarga kecil di depannya. Ia tak ingat terakhir kali ibunya menyapa dengan hangat. Sagara juga tak ingat kapan ibunya memperlakukan Sagara dengan lembut. Bahkan Sagara lupa bagaimana wajah ibunya setelah sekian lama.

BLOOM IN ASHESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang