3. Handycam

10.4K 539 53
                                        


"Apa yang mengganggu pikiran kamu akhir-akhir ini?"

Pertanyaan halus dari Cinta dan Diaz sore hari ini terasa deja vu. Biasanya Hanaya akan menceritakan kesusahannya, kekesalan yang tak tersalurkan atau keinginan yang bersungguh-sungguh.

Namun hari ini, ia justru menggelengkan kepala. Memberi isyarat jika dirinya baik-baik saja kemudian pulang dipukul 4 sore setelah semua pekerjaannya usai. Hanaya berjalan melewati jalanan yang ramai namun perasaannya kosong.

Goesan pada sepedanya pelan, hingga beberapa kali sepeda motor dari arah belakang menglaksonnya untuk menepi. Hingga ia sampai disuatu tempat indah, dimana hanya ada ia dan senja disana.

Warna oranye yang bersinar pudar menyambutnya hangat. Menawarkan pelukan, Hanaya diam diposisinya. Menatap langit itu lama. Tangan yang semua menggenggam tali tas ransel kini jatuh rapu.

Netra cantik miliknya menatap kepulan asap dari arah gedung sebrang danau yang gertutup pepohonan rindang. Suara orang-orang meminta keadilan membuat keadaan semakin dramatis.

Hanaya kemudian duduk di bangku taman yang kosong, sedikit basah. Tapi cukup nyaman untuk ia tempati. Ditempat ini.

Danau Rose namanya.

Dulu danau ini dikelilingi banyak bunga mawar yang indah. Tumbuh layaknya penghias surga, sampai akhirnya mati karena dicabuti pencintanya sendiri.

Hanaya menyayangkan bagaimana bunga kesayangannya harus hilang satu per satu. Namun seiring berjalannya waktu, ia sadar. Jika mawar adalah perlambangan bagaimana manusia mencintai sesuatu.

Di kasus ini, mungkin semua yang mencintai mawar di dekat danau hanya ingin memilikinya sendirian. Hingga mawar akhirnya mati.

Sedangkan Hanaya kalah cepat. Berpikir jika ia mengambil mawar untuk diri sendiri itu akan membuat Mawar mati. Ia ingin Mawarnya tumbuh lebih indah lagi, walau pada akhirnya layu karena terlalu banyak disentuh.

Cinta bagi Hanaya itu menjaga. Tapi sepertinya cara seseorang memandang cinta itu.... tak sama....

Sama seperti tuhan kan?

Cara tuhan mencintai umatnya itu tak pernah sama.

Ada yang diberi ujian agar tetap tumbuh. Ada yang diberi umur panjang agar terus belajar dan ada yang dipeluk lebih dulu.

Harusnya Hanaya tidak merasa sedih. Tuhan memberinya penyakit ini bukan karena benci. Tapi justru terlalu mencintai.

Tuhan tau Hanaya sanggup. Buktinya ia mampu menjadi guru. Mengajar anak-anak dengan begitu sabar hingga di tahun ke 23. Hanaya tidak hidup terlalu singkat, ia justru hidup lebih lama dari orang-orang yang berdiam.

"Uhuk"

Perih pada tenggorokannya. Menjadi pertanda bahwa tubuhnya tak sanggup menahan banyak beban berat. Untuk tetap normal.

Hanaya kemudian membuka ranselnya. Merogoh pouch berisi obat-obatan yang selalu ia bawa. Kali ini si Antitusif yang menjadi pemeran utama. Obat pereda batuk. Karena nafas Haruna masih cukup baik dalam memompa oksigen.

Ya setidaknya ia tidak sesak ataupun muntah darah itu masih lebih baik.

"Langitnya cantik" gumam gadis itu. Sambil menunggu malam, Hanaya hanya ingin menatap langit lebih lama. Melihat pemandangan matahari tenggelam tanpa jeda, sambil mengeluarkan handycam pemberian sang nenek sebelum berpulang. Memgabadikan setiap momen untuk diingat banyak mata.

BLOOM IN ASHESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang