"Gaga, ibu kan udah bilang jangan suka main pukul? Temen Gaga cuman mau ngajak main bukan ngajak Gaga berantem"
Suara lembut seorang wanita pada anak kecil 5 tahun dengan seragam TK. Sagara kecil tidak menunduk ataupun takut tapi nafasnya naik turun. Tubuh sedikit gempal anak laki-laki itu mengeras, masih emosi. Kedua tangan juga mengepal kuat hingga membuat sang ibu menjongkokkan. Diusapnya surai hitam Sagara penuh kelembutan. Berharap emosi sang anak mereda.
"Gaga kok gak nurut sama Ibu? Udah gak sayang ibu lagi ya?"
Sagara kecil menggeleng. Bibir masih mengerucut kesal.
"Gaga sayang ibu"ucapnya.
"Terus kenapa temennya dipukul? Ibu kan udah bilang kalau Gaga marah bilang sama ibu. Jangan main pukul. Gak baik sayang"
Di lingkungan TK kecil. Kanaya Mahardikara memperingati putra bungsunya dengan lembut. Setelah mendapati Sagara memukul salah satu temannya karena marah mainannya dipinjam tanpa bertanya. Kanaya langsung menerima hardikan kasar ibu yang tak terima sedangkan Sagara malah hampir ditampar oleh sang ibu korban. Kanaya melangkah mundur sambil menatik tangan Sagara. Para guru mulai memisahkan mereka. Bahkan salah satu guru membawa Kanaya ke taman khusus bermain. Untuk membantu menenangkan Sagara disana.
"Sagara kamu berani pukul temanmu lagi? Memalukan!"
CTAR.
Suara ikat pinggang menggema. Permukaan kasarnya mengenai kaki Sagara yang terbalut celana pendek. Anak 5 tahun itu menunduk sambil memegang kedua tangannya. Menggigit bibir menahan tangis saat ayahnya kembali mencambuk kakinya karena tak bisa menahan emosi.
"Bapak sudah bilang, kamu cuman boleh pukul orang yang bapak suruh!" Bentaknya mendorong kepala anak kecil itu tanpa tega.
"Masih kecil sudah sok jagoan! Bapak ada suruh kamu pukul temanmu?" Sagara kecil menggeleng. Bibirnya mengatup takut.
"JAWAB!" Sentakan Argaphana kembali membuat anak itu bergetar takut. Didikan keras pria berpangkat tinggi itu sontak mrmbuat Sagara hidhp dalam kekerasan dengan maksud disiplin. Tak jarang menyakiti hingga Sagara tumbuh tanpa empati.
Tapi Sagara masih anak kecil. Ia tetap menangis mendengar nada tinggi. Apalagi nada itu berasal dari ayahnya sendiri.
"Eng...enggak... ada,Pa"
"Yang lantang!"
"Enggak Pak!" Suaranya keluar tapi air matanya mengalir membuat anak 5 tahun itu kembali menerima cambukan pada kakinya yang memerah.
CTARR
"Terus kenapa kamu lakukan?!" Sagara tak menjawab.
"Berani kamu melanggar apa yang bapak katakan! Mau tanganmu bapak potong hah?!"
"Bagaimana mau jadi Penerus Mahardikara kalau ucapan Bapak saja kamu langgar! Bapak bilang jangan pukul orang kalau bukan Bapak yang suruh!"
"Kalau bapak suruh pukul ya pukul! Kalau bapak suruh bunuh ya bunuh! Jangan asal! Anak idiot!" Sagara tertunduk sesal saat suara Bapak kembali memakinya. Tanpa sadar air mata jatuh ke pipinya yang merah. Cambukan itu kembali terasa, kali ini dikedua tangan yang tergenggam.
"CALON PRAJURIT TIDAK BOLEH CENGENG!"
Sagara mengigit bibirnya. Wajah mungil itu memerah saat rasa sakit menjalar jauh pada dirinya yang masib belia. Suara Ayahnya kala itu seperti bom nuklir yang mematikan diri. Sagara tak bisa melawan ataupun berteriak sakit. Karena semakin ia lemah, maka ia akan semakin disakiti hingga tak bernyawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
BLOOM IN ASHES
RomansaRomance politic. Setelah terlibat aksi pemberontakan. Hanaya Asmaranala resmi dikurung di sel isolasi. Namanya sebagai putri aktivis kontroversial membuat gadis itu terpaksa tunduk dibawah kekuasaan Kapten Sagara Mahardikara. Putra bungsu presiden...
