3. CEMBURU

21 1 0
                                        

          

Anjani baru saja mandi sore, kini ia tengah latihan untuk acara esok bersama 3 penulis senior yang merupakan idolanya. Pintu kamarnya terbuka dan ada Pak Adif yang datang membawa laptopnya. Pria itu duduk di atas kasur dan melanjutkan pekerjaannya. Sementara Anjani masih syok karena Pak Adif masuk tanpa mengetuk pintu, bagaimana jika saat itu ia sedang berpakaian? Kan itu tidak sopan.

"Pak, kok masuk gak ketuk pintu sih?"

"Kok marah sih?"

"Gak marah, tapi kan bisa ketuk pintu dulu. Kalo misalnya aku lagi pake baju kan malu..."

"Ngapain malu, kan aku suami kamu."

"Ya tapi kan belum saatnya..."

"Saatnya apa?"

"Ya itu..."

"Tenang aku bukan pedofil."

"Emang aku anak-anak?!"

"Kan belum lulus sekolah, masih anak-anak itu namanya."

Tak mau moodnya memburuk Anjani memilih melanjutkan latihannya. Besok adalah hari yang dinantikannya, ia tak boleh tampil buruk.

Sembari latihan, Anjani tak sengaja bertatapan mata dengan Pak Adif yang ternyata sedari tadi tengah memperhatikannya. Sambil tersenyum Pak Adif terus menatapnya membuat Anjani hilang fokus.

"Publik speaking kamu bagus, gerakan tangannya juga oke, tinggal di perluas aja penguasaan panggung. Sama jangan lupa ajak audient buat ikut memeriahkan suasana."

"Serius Mas? Hehe senangnya..."

Telepon Pak Adif berdering dan setelah melihat nama peneleponnya Pak Adif buru-buru mengangkatnya.

"Halo, Ra." Ucap Pak Adif kepada penelepon.

Anjani tak terlalu penasaran dengan isi teleponnya, ia masih kegirangan dipuji karena sepertinya ia tidak akan membuat malu besok.

"Iya Kakak kesana sekarang."

Pak Adif menutup teleponnya dan membawa laptopnya pergi. Anjani belum sempat bertanya kemana hendaknya Pak Adif pergi namun pria itu telah pergi mengendarai motornya.

"Mas mau kemana ya? Kok buru-buru banget?"

Setelah Pak Adif pergi Anjani melakukan pekerjaan rumah, seperti mencuci pakaian, melipat kain bersama Ibu, nyapu ngepel rumah, main bersama si kembar. Anjani pun memasak karena sudah sore. Ia menolak makan bersama Ibu karena menunggu Pak Adif pulang, kan kasian kalo makan sendirian.

Namun hingga malam Pak Adif belum juga pulang, Anjani sudah mencoba menelepon namun ponsel Pak Adif tidak aktif. Bahkan Anjani sampai melewatkan jam makan malam.

Anjani memutuskan menunggu di depan rumah, ia terus menunggu sembari sesekali mengitari halaman. Lalu Anjani mendengar suara motor yang jaraknya masih agak jauh. Anjani senang katika tahu itu Pak Adif namun ia juga terkejut karena Pak Adif pulang tak sendirian, melainkan bersama sepupu genit Pak Adif hari itu.

Anjani lebih terkejut ketika Pak Adif menggendong sepupunya itu yang dalam keadaan mabuk berat.

"Awas Jani, minggir." Ujar Pak Adif karena Anjani menghalangi pintu.

Anjani terdiam di pintu masuk, ia sakit hati ketika Pak Adif menyuruhnya minggir tadi. Anjani menutup pintu rumah lalu ia masuk ke dalam. Di lihatnya di ruang tamu Pak Adif tengah menyelimuti sepupunya itu.

Married With Mr. AdifCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang