7. CERITANYA BAIKAN

6 1 3
                                        

              

"Walau waktu itu aku juga gak nemu pemilik handphone ini, tapi tetep aku simpan dan jaga sampe sekarang. Coba deh di cas, masih bagus itu belum rusak. Itu gak bisa hidup karna udah lama gak aku cas." Ujar Pak Adif memberikan cas-an berkepala hitam khusus untuk ponsel itu.

Anjani menatap ponselnya, dirabanya ponsel itu, tidak ada pecah dan goresan sedikit pun, padahal ini sudah sangat lama. Ponsel itu ternyata benar-benar dijaga baik oleh Pak Adif.

"Kenapa Bapak yakin kalo ini punya aku? kan bisa aja orang di foto itu bukan aku?"

"Dulu waktu pertama kali liat kamu, aku pikir itu juga Cuma mirip doang. Karna senyum kamu beda sama difoto yang ada di galeri kamu. Senyum kamu dulu, bahagia, ceria, kaya gaada beban, keliatan bebas banget. Tapi sekarang, walau kamu masih jadi orang yang ramah dan mudah bergaul, kamu tetap keliatan lagi nyembunyiin rasa kelam kamu dari orang lain."

"Trus, hubungannya Bapak mau nikah sama aku apa?"

"Aku pikir kita sama Anjani. Kita sama-sama punya cerita kelam tentang orangtua kita. Waktu baca cerita kamu di twitter, aku pikir kita harus ketemu buat saling berbagi cerita. Makanya dulu aku sering buat nilai kamu rendah biar bisa ketemu sama kamu. Maaf kalo aku egois."

Pak Adif diam sejenak, dan Anjani tetap menunggu Pak Adif melanjutkan ceritanya.

"Rupanya setelah sering ketemu langsung sama kamu, perasaan aku berubah. Dulu aku Cuma ngerasa kita senasib, aku awalnya Cuma mau balikin handphone ini. Tapi lama-lama aku jadi suka sama kamu, Anjani. Tapi aku liat kamu populer di kampus, makanya aku berusaha dapatin kamu dengan cara apapun."

Anjani menatap Pak Adif dengan sedih, "Tapi Bapak kok jahat sama aku?"

"Maaf Jani, mulai sekarang aku bakalan jadi orang yang peka."

Anjani diam saja sembari cemberut, Pak Adif menghapus bekas air mata di kedua pipi Anjani. Wajah Pak Adif jadi keliatan begitu dekat dengannya, pandangan mata mereka bertemu dan waktu rasanya seakan berhenti. Pak Adif menatap bibir Anjani, matanya, pipinya, alisnya, lehernya, rambutnya, kemudian ia menelan salivanya.

Tiba-tiba Pak Adif langsung berdiri dan memegang tengkuk lehernya.

"Udah malem, besok kita lanjut ceritanya ya..." ujar Pak Adif kemudian keluar dari kamar Anjani.

Pak Adif berlari dengan cepat ke kamarnya dan langsung menutup pintunya dengan sebelah tangan. Ia bersender di pintu kamarnya dan mengusap jidatnya dengan punggung tangan.

"Hampir aja aku cium dia, kalo gak aku tahan bisa gak berenti disitu. Abis dia cantik banget, trus imut lagi, gawat kalo gini terus." Ujar Pak Adif sembari mengusap rambutnya.

"Aku gak boleh gini, dia masih anak-anak..." bisik Pak Adif.

Sementara Anjani sedang memeluk lututnya di atas tempat tidurnya sembari memegang ponsel Sumsang jadulnya yang sudah mulai terisi baterainya.

"Rupanya bener kata orang-orang, gak semua yang kita liat itu bener. Untung aku dengerin dulu penjelasan Mas Adif." Ujanya sembari tersenyum kecil.

Pagi pun tiba, Anjani sudah kembali memasakkan sarapan untuk Pak Adif. Biasanya waktu ia marah, ia hanya memasakkan untuk Ibu dan si kembar saja. Setelah sarapan, Pak Adif dan Anjani berangkat ke kampus bersama.

Anjani memandangi Pak Adif, ntah kenapa ia merasa setelan Pak Adif hari ini agak berbeda. Ia mempomade rambutnya, lalu ia memakai dasi hari ini, tumben sekali, sepatunya juga tampak mengkilap, jasnya pun seperti tampak baru.

"Kamu ada acara apa hari ini, Mas? Kok rapi banget," ucap Anjani, waau mereka sudah berbaikan tetapi suasana diantara mereka masih terasa canggung.

Pak Adif tersenyum bangga akan dirinya, "Hari ini sepulang ngampus jalan yuk?"

Married With Mr. AdifTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang