9. MASA LALU PAK ADIF

8 1 0
                                        



Namanya adalah Adifa Putra Ananda, dia anak tunggal. Ibunya adalah seorang guru dan ayahnya adalah manager di bank. Mereka adalah keluarga yang cemara sebelum orangtuanya meninggal karena kecelakaan. Saat sedang touring dengan klub moge, ayah ibunya berusaha memotong kendara lain dan berkendera melawan arah. Namun nasib motor mereka langsung bertumbukan dengan truk tronton yang melaju kencang dari arah berlawanan.

Melihat jenazah orangtuanya yang hancur membuatnya benar-benar trauma dengan motor. Padahal sebelumnya orangtuanya berencana akan membawanya ikut serta di touring minggu depan, namun orangtuanya malah meninggalkannya sebatang kara sekarang. Usianya masih 12 tahun saat itu, tetapi ia sudah mendapatkan gelar sebagai yatim piatu.

Ia tinggal dengan neneknya sepeninggal orangtuanya, namun sang nenek umurnya tidak panjang, hanya 1 tahun Pak Adif diurus oleh sang nenek. Bibi dan Pamannya terus mengopernya kesana-kemari karena merasa keberatan untuk mengurus Pak Adif.

Lalu kemudian datanglah Bibinya yaitu sepupu ibunya dari Malaysia bersedia untuk mengurusnya. Dari SMP kelas 2 Pak Adif tinggal dengan Bibinya itu, yang hanya memiliki seorang putri bernama Kara yang usianya saat itu sudah 8 tahun. Walau tidak terlalu dekat, Pak Adif diperlakukan dengan sangat baik, daripada saat ia bersama Bibi dan Paman kandungnya yang malah terus menanyakan warisannya.

Ketika dengan paman bibi kandungnya ia bahkan segan untuk meminta makan, karena setiap ia makan akan ada saja kata-kata menyedihkan yang keluar dari bibir meraka dan rasanya sangat menyakitkan bagi Pak Adif. Pernah seharian ia tidak makan karna tak ada yang berisiatif menawarinya makan, ia hanya terus menahan perutnya sampai akhirnya disuruh makan.

Pak Adif dibawa tinggal di Malaysia sampai ia SMA, ketika kuliah Pak Adif mereka masukkan di Universitas Melbourne dengan uang pribadi mereka. Bahkan Paman dan Bibi ini tidak ada meminta atau menanyakan hak mereka tentang warisan Pak Adif.

Setelah melihat sikap Bibi dan Paman kandungnya yang hanya mementingkan harta saja, Pak Adif benar-benar terharu dengan Paman dan Bibi baiknya ini.

"Katanya Darah lebih kental dari pada air. Tapi kenapa yang kandung malah lebih mentingin harta? Yang gak terlalu dekat, bahkan bisa dibilang jauh malah bisa seperduli ini..." ujar Pak Adif pada dirinya sendiri.

Ia telah merasakan begitu banyak sakit waktu itu. bahkan setelah ia tinggal di Malaysia, tak jarang Paman dan Bibinya terus menagih-nagih jasa mereka yang merawat Pak Adif bahkan hanya beberapa hari saja.

Kecewa, sedih, marah, itu yang Pak Adif rasakan. Pak Adif memutus semua kontaknya dengan paman bibi kandungnya. Ia fokus kuliah dengan biaya dari paman bibinya yang baik. Pak Adif ingin membanggakan mereka, ia kuliah dengan sungguh-sungguh hingga ia lulus S1 hanya 3,5 tahun dan kembali ke Malaysia. Tetapi bagaimana pun, ia ingin menemui orangtuanya. Pak Adif pamit pada paman dan bibinya, bahwa ia ingin tinggal di Indonesia dan memutuskan untuk tinggal mandiri di Indonesia.

Dengan begitu Pak Adif akhirnya kembali ke kampung halamannya. Saat itulah, ketika menaiki bus Pak Adif tak sengaja menemukan sebuah ponsel di sebuah halte. Ia menanyakan ke setiap orang disana siapa pemilik ponsel itu namun tak ada yang mengaku.

Akhirnya ia membawa pulang ponsel itu, digeledahnya isi ponsel itu untuk mengembalikannya. Namun yang bisa didapatkannya hanyalah foto pemilik ponsel, Pak Adif juga menelepon nama yang memungkinkan di ponsel itu namun nihil.

Ketika ia bosan, tanpa sengaja ia membuka twitter di ponsel itu. Tetapi ia malah membaca sebuah cerita sedih, lebih mirip diary online yang tak tersedia dibaca orang lain. Yang menulisnya adalah pemilik ponsel itu.

Married With Mr. AdifCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang